Pelajaran 121
Gereja Pindah ke Bagian Utara Missouri
Pendahuluan
Pada tahun 1837 dan 1838, Nabi Joseph Smith dan para pemimpin lainnya memimpin Gereja melalui suatu musim yang sulit. Sebagai hasil dari kesulitan ekonomi, keserakahan, saling menyalahkan, dan penganiayaan, 10 sampai 15 persen dari Orang-Orang Suci di Kirtland, Ohio, dan bagian utara Missouri murtad, termasuk sejumlah pemimpin terkemuka Gereja. Orang-Orang Suci yang setia di Ohio mulai pindah untuk bergabung bersama mereka yang ada di bagian utara Missouri. Pelajaran ini dapat membantu siswa memahami dan belajar dari peristiwa-peristiwa bersejarah dan memberi mereka wawasan terhadap wahyu-wahyu yang diterima selama periode ini.
Saran untuk Pengajaran
Kemurtadan dan kota Far West
Selama periode kemurtadan dan penganiayaan, Orang-Orang Suci yang setia pindah ke bagian utara Missouri
Sebelum kelas, tulislah pertanyaan berikut di papan tulis: Apakah kesulitan dan tantangan dapat memperkuat iman kita atau menyebabkan kita kehilangan iman? Anda mungkin ingin menggambar peta di papan tulis yang memperlihatkan lokasi Kirtland, Ohio, dan permukiman lain di bagian utara Missouri.
Mulailah kelas dengan mengundang siswa untuk merespons pertanyaan di papan tulis. Setelah siswa membagikan wawasan mereka, jelaskan bahwa pada tahun 1837 dan 1838, sebuah periode tantangan menuntun banyak Orang Suci untuk menghadapi pertanyaan penting ini. Jelaskan bahwa dalam pelajaran ini, siswa akan belajar mengenai peristiwa-peristiwa sulit ini dan bagaimana Orang-Orang Suci menanggapinya. Undanglah siswa untuk merenungkan bagaimana reaksi kita terhadap kesulitan dapat memperkuat atau melemahkan iman kita kepada Yesus Kristus.
Anda juga dapat menjelaskan kepada siswa bahwa pelajaran ini dapat membantu mereka memahami lingkup bersejarah dari wahyu-wahyu yang akan mereka telaah dalam Ajaran dan Perjanjian 113–123.
Tunjuklah Missouri pada peta. Jelaskan bahwa ketika Orang-Orang Suci diusir dari Jackson County, Missouri, pada tahun 1833, para penduduk sekitar Clay County menyambut sebagian besar dari mereka dan memberi mereka bantuan, dengan antisipasi bahwa Orang-Orang Suci akan tinggal hanya untuk sementara. Akan tetapi, setelah Orang-Orang Suci tinggal di sana selama hampir tiga tahun, para penduduk ini mulai menekan mereka untuk meninggalkan kabupaten tersebut.
Tunjuklah Kirtland, Ohio, pada peta. Jelaskan bahwa pada tahun 1837, tahun setelah Bait Suci Kirtland didedikasi, Orang-Orang Suci mengalami tantangan-tantangan yang menguji iman mereka. Sejumlah Orang Suci murtad dan meninggalkan Gereja, termasuk beberapa pemimpin terkemuka Gereja.
Bagilah anggota kelas menjadi dua kelompok. Sediakan salinan dari salah satu ringkasan sejarah berikut untuk setiap kelompok. (Jika Anda memiliki kelas yang besar, Anda mungkin ingin membagi siswa menjadi empat atau enam kelompok dan memberikan kepada setiap kelompok salinan dari salah satu ringkasan ini. Ini akan mengizinkan lebih banyak siswa untuk berperan serta dalam pembahasan.) Undanglah setiap kelompok untuk membaca ringkasan itu bersama dan membahas pertanyaan di akhir ringkasan. Tugasi satu orang dalam setiap kelompok untuk memimpin pembahasan dan membantu kelompok itu menuliskan sebuah asas untuk dibagikan kepada anggota kelas nantinya.
Ringkasan Sejarah 1—Kemurtadan di Kirtland.
Pada tahun 1837, Orang-Orang Suci di Kirtland, Ohio, mengalami sejumlah masalah keuangan. Untuk membantu Orang-Orang Suci menjadi lebih mandiri dalam keuangan mereka, Joseph Smith dan para pemimpin Gereja lainnya mendirikan sebuah perusahaan serupa dengan bank dan menyebutnya Lembaga Keamanan Kirtland [Kirtland Safety Society]. Karena krisis ekonomi yang telah meluas selama waktu ini, banyak bank tutup di seluruh bangsa. Kirtland Safety Society juga bangkrut pada musim gugur 1837. Dua ratus investor di bank kehilangan hampir segalanya, termasuk Joseph Smith, yang kehilangan lebih banyak dari siapa pun. Meskipun Lembaga Keamanan Kirtland tidak didanai oleh Gereja, sejumlah Orang Suci menganggap itu bank Gereja atau bank Nabi dan menyalahkan Joseph Smith karena masalah keuangan mereka. Beberapa bahkan mulai menyebutnya nabi yang gagal. Tetapi terlepas dari kegagalan bank, banyak yang lainnya yang kehilangan uang terus beriman dan tetap setia terhadap Nabi. (Lihat Buku Pedoman Sejarah Gereja dalam Kegenapan Waktu, [buku pedoman Church Educational System, 2003], 183–185.)
Roh kemurtadan dan saling menyalahkan menyebar di antara banyak Orang Suci. Brigham Young menjelaskan suatu kesempatan ketika beberapa pemimpin Gereja dan Orang Suci bertemu untuk menolak Joseph Smith dan menunjuk seorang nabi baru.
“Beberapa dari Dua Belas, para saksi terhadap Kitab Mormon, dan yang lain dari Pembesar Gereja, mengadakan sebuah dewan di lantai atas Bait Suci. Pertanyaan di hadapan mereka adalah untuk memastikan bagaimana Nabi Joseph Smith dapat dilengserkan, dan David Whitmer ditunjuk sebagai Presiden Gereja .… Saya bangkit, dan dengan cara yang sederhana dan memaksa memberi tahu mereka bahwa Joseph adalah seorang Nabi, dan saya mengetahuinya, dan bahwa mereka dapat mencela dan memfitnah dia sebanyak mereka berkenan, mereka tidak dapat menghancurkan penunjukan Nabi Allah, mereka hanya dapat menghancurkan wewenang mereka sendiri, memotong benang yang mengikat mereka kepada Nabi dan kepada Allah dan menenggelamkan diri mereka ke neraka” (Manuscript History of Brigham Young, 1801–1844, diedit Elden Jay Watson [1968], 15–16).
Pada bulan Juni 1838, sekitar 200 atau 300 pemurtad telah meninggalkan Gereja, termasuk empat Rasul, Tiga Saksi Kitab Mormon, dan seorang anggota Presidensi Utama (lihat Sejarah Gereja dalam Kegenapan Waktu, 183). Meskipun demikian, sebagian besar Orang Suci menanggapi periode ujian ini dengan iman, sama seperti Brigham Young. Mereka dikuatkan oleh Tuhan, dan mereka tetap setia pada kesaksian mereka. Beberapa dari mereka yang meninggalkan Gereja selama periode kemurtadan ini kemudian kembali dan meminta agar mereka dipersatukan kembali dengan Gereja Tuhan. Di antara mereka adalah Oliver Cowdery, Martin Harris, Luke Johnson, dan Frederick G. Williams.
Di tengah-tengah perjuangan di Kirtland ini, beberapa pemurtad berupaya untuk membunuh Joseph Smith. Diperingatkan oleh Roh, dia dan Sidney Rigdon pergi pada malam hari tanggal 12 Januari 1838. Para musuh mereka mengejar mereka selama berhari-hari, namun Tuhan melindungi mereka. Mereka tiba bersama keluarga mereka di Far West, Missouri, tanggal 14 Maret 1838.
Bahaslah pertanyaan berikut sebagai sebuah kelompok:
-
Apa asas-asas yang dapat kita pelajari dari peristiwa-peristiwa bersejarah ini?
-
Apa yang akan telah Anda lakukan untuk tetap setia pada Nabi selama saat mencari-cari kesalahan ini?
-
Kapankah menahan tantangan dengan iman telah menguatkan iman Anda kepada Juruselamat?
-
Dalam hal-hal apa mengikuti nabi telah menjadi perlindungan rohani bagi Anda?
Ringkasan Sejarah 2—Kepemimpinan Bagian Utara Missouri
Pada musim panas tahun 1836, ketika para penduduk Clay County, Missouri, menekan Orang-Orang Suci untuk menemukan tempat tinggal yang lebih permanen, John Whitmer dan William W. Phelps, dua penasihat dalam presidensi pasak Missouri, menggunakan uang Gereja untuk membeli tanah di sebuah tempat yang dikenal sebagai Far West di bagian utara Missouri. Akan tetapi, ketika mereka menawarkan bagian-bagian tanah kepada para Orang Suci yang datang, mereka menjual tanah itu dengan keuntungan kecil, yang mereka ambil bagi diri mereka sendiri. Marah terhadap hal ini dan pelanggaran lainnya, dewan tinggi di Missouri menghapus presidensi pasak dari jabatan.
Joseph Smith menyokong tindakan dewan, dan William W. Phelps tersinggung. Pada bulan November 1838, Brother Phelps menandatangani sebuah pernyataan melawan Joseph. Penyataan ini berkontribusi pada penangkapan Joseph Smith dan yang lainnya dan penawanan di Penjara Liberty selama musim dingin. Brother Phelps diekskomunikasi dari Gereja tak lama setelah itu.
Dalam penjara, Joseph Smith dan mereka yang bersamanya sedemikian menderita, tidak hanya dari kondisi pemenjaraan mereka namun juga dari laporan tentang Orang-Orang Suci yang diusir dari rumah-rumah mereka serta diperundung dengan berbagai banyak cara. Massa di Missouri, tanpa dapat dikendalikan oleh pemerintah, menghancurkan harta milik dan kehidupan, termasuk pembantaian massal 17 orang di sebuah penggilingan milik seorang pria bernama Jacob Haun.
William W. Phelps menderita secara rohani karena tindakannya, dan dia menulis sepucuk surat kepada Joseph Smith memohon pengampunan satu tahun kemudian. Nabi membalas surat itu:
“Memang benar, bahwa kami telah sangat menderita akibat perilaku Anda .…
Namun, cawan tersebut telah diminum, kehendak Bapa kita sudah terlaksana, dan kami masih hidup, yang untuknya kami berterima kasih kepada Tuhan .…
Memercayai pengakuan Anda adalah sungguh-sungguh, dan pertobatan Anda tulus, saya akan berbahagia untuk sekali lagi memberi Anda tangan kanan penemanan, dan bersukacita akan kembalinya anak yang hilang .…
‘Datanglah brother terkasih, karena perang telah berlalu,
Karena teman pada awalnya, adalah teman sekali lagi pada akhirnya’” (dalam History of the Church, 4:163, 164).
Bahaslah pertanyaan berikut sebagai sebuah kelompok:
-
Mengapa sulit untuk mengampuni seorang teman yang telah mengkhianati Anda dan menyebabkan Anda menderita?
-
Apa asas yang dapat kita pelajari dari teladan Joseph Smith?
-
Apa pelajaran yang dapat kita pelajari dari pengalaman ini?
Setelah kelompok-kelompok memiliki waktu untuk membaca dan membahas ringkasan sejarah, undanglah mereka untuk menceritakan kembali kepada anggota kelas sejarah yang telah mereka pelajari dan asas-asas yang telah mereka identifikasi. Sewaktu mereka mengajar, mintalah mereka untuk menuliskan asas-asas di papan tulis. Asas-asas ini dapat mencakup yang berikut: Sewaktu kita memilih untuk menanggapi tantangan dengan iman alih-alih dengan keraguan, kesaksian kita dapat diperkuat; sewaktu kita menyokong nabi dan mengikuti nasihatnya, kita dapat menerima keamanan rohani yang mengikat kita dengan Allah (lihat ringkasan sejarah 1). Sewaktu kita mengampuni orang lain, Tuhan dapat memulihkan hubungan kita (lihat ringkasan sejarah 2).
Sewaktu siswa mengidentifikasi asas-asas, ajukan pertanyaan berikut untuk membantu mereka memahami dan merasakan pentingnya kebenaran-kebenaran ini. Pertanyaan-pertanyaan ini dapat mencakup yang berikut:
-
Mengapa asas ini penting untuk kita ingat?
-
Bagaimana Anda akan menjelaskan kebenaran ini kepada seorang teman?
-
Kapankah Anda telah mengalami atau melihat contoh tentang asas ini?
Untuk membantu siswa menerapkan kebenaran-kebenaran yang telah mereka pelajari, mintalah mereka memilih satu atau dua asas yang kelompok-kelompok itu telah identifikasi. Kemudian undanglah mereka untuk menuliskan respons terhadap pertanyaan berikut dalam buku catatan kelas atau jurnal penelaahan tulisan suci mereka:
-
Apakah yang akan saya lakukan secara berbeda karena asas atau asas-asas yang telah saya pelajari hari ini?
Peristiwa-peristiwa yang menuntun pengusiran Orang-Orang Suci dari bagian utara Missouri
Mintalah siswa untuk mengangkat tangan mereka jika mereka telah melihat seorang anggota Gereja membuat pilihan yang menyebabkan orang lain mendapat kesan negatif tentang Gereja. (Jangan meminta mereka untuk membagikan pengalaman mereka.) Anda mungkin juga ingin meminta siswa untuk memikirkan bagaimana tindakan mereka sendiri telah memengaruhi kesan orang lain tentang Gereja.
-
Mengapa penting bagi kita untuk memikirkan tentang bagaimana tindakan atau perkataan kita memengaruhi opini orang tentang Gereja?
Jelaskan bahwa pada tahun 1838 tindakan dan perkataan dari sejumlah anggota Gereja menambah perasaan negatif yang dimiliki oleh beberapa penduduk Missouri terhadap Orang-Orang Suci Zaman Akhir. Sediakan bagi siswa salinan dari ringkasan sejarah berikut, dan undanglah seorang siswa untuk membacanya. Mintalah siswa untuk menyimak, dengan mencari hal-hal yang sejumlah Orang Suci katakan atau lakukan yang menyakiti Gereja dan para anggotanya. Pertimbangkan mengundang siswa untuk jeda setelah setiap paragraf. Setelah setiap jeda, ajukan kepada siswa pertanyaan berikut:
-
Apa yang beberapa Orang Suci katakan atau lakukan yang menimbulkan reaksi negatif terhadap Gereja?
Pada tahun 1837 dan 1838, beberapa anggota Gereja yang tidak puas dan diekskomunikasi yang tinggal di antara Orang-Orang Suci di Far West mulai mengajukan tuntutan hukum terhadap Gereja dan para pemimpinnya dan mengganggu Gereja. Beberapa Orang Suci mulai semakin tidak sabar terhadap para pembangkang ini. Bulan Juni 1838, Sidney Rigdon berbicara dengan sengit dalam apa yang menjadi dikenal sebagai “Khotbah Garam.” Dia merujuk pada Matius 5:13 dan mengatakan bahwa apabila garam kehilangan cita rasanya, itu tidak berguna dan hendaknya dibuang, menyiratkan bahwa mereka yang telah meninggalkan Gereja hendaknya disingkirkan dari antara Orang Suci. Selain itu, 84 anggota Gereja menandatangani sebuah dokumen yang memerintahkan para pemurtad untuk meninggalkan kabupaten. Dua minggu kemudian, pada tanggal 4 Juli, Sidney Rigdon memberikan pidato di mana dia berjanji bahwa Orang-Orang Suci yang mau membela diri mereka bahkan seandainya terjadi “perang pemusnahan.” Meskipun kedua khotbah ini tampak bertentangan dengan petunjuk Tuhan untuk “memohonkan perdamaian” (A&P 105:38), kedua khotbah tersebut diterbitkan dan menyebabkan kemarahan hebat di antara non-Orang-Orang Suci Zaman Akhir. (Lihat Sejarah Gereja dalam Kegenapan Waktu, 207–208).
Pada tanggal 6 Agustus 1838, sewaktu sekelompok Orang Suci berusaha untuk memilih di Gallatin, Missouri, mereka disingkirkan oleh sekelompok warga Missouri, dan salah satu pria lokal memukul salah satu dari Orang-Orang Suci. Orang-Orang Suci melawan, dan sejumlah pria terluka di kedua belah pihak. Insiden ini menuntun pada konflik dan ancaman lainnya dan menambah kesalahpahaman di antara Orang-Orang Suci Zaman Akhir dan tetangga mereka di Missouri.
Selama waktu ini, seorang insaf bernama Sampson Avard mengucapkan sumpah rahasia kepada mereka yang mau bergabung dengan dia dalam membentuk sebuah kelompok perampok yang disebut pengikut Dan. Avard memerintahkan mereka untuk merampok dan perampasan terhadap penduduk Missouri, mengatakan bahwa ini akan membantu membangun kerajaan Allah. Avard meyakinkan pengikutnya bahwa arahannya berasal dari Presidensi Utama. Kebenaran kemudian terungkap, dan Avard diekskomunikasi. Tindakan Avard mengakibatkan kerusakan signifikan terhadap citra Gereja dan membantu menuntun pada pemenjaraan Nabi di Penjara Liberty.
Pada bulan Oktober 1838, sebuah pertempuran di antara sejumlah anggota Gereja dan para milisi Missouri mengakibatkan beberapa orang tewas di masing-masing pihak. Laporan yang berlebihan tentang pertempuran itu sampai ke Gubernur Lilburn W. Boggs, gubernur negara bagian Missouri, yang kemudian mengeluarkan apa yang dikenal sebagai perintah pemusnahan: “Orang-orang Mormon harus diperlakukan sebagai musuh dan harus dimusnahkan atau diusir dari negara bagian itu, jika perlu demi kepentingan umum” (dikutip dalam History of the Church, 3:175). Segera, kota Far West dikepung oleh milisi yang jumlahnya lima kali lebih besar dari kelompok pertahanan Orang-Orang Suci. Joseph Smith dan para pemimpin Gereja lainnya dipenjarakan di Penjara Liberty, di mana mereka di sana sepanjang musim dingin. Sisa dari para Orang Suci dipaksa untuk meninggalkan negara bagian itu.
-
Mengapa penting bagi kita untuk mengenali bahwa beberapa penganiayaan yang dialami Orang-Orang Suci karena ulah para anggota Gereja?
-
Apa yang dapat kita pelajari dari peristiwa-peristiwa ini mengenai bagaimana tindakan atau perkataan kita sendiri dapat memengaruhi orang lain? (Sewaktu siswa merespons, tekankan asas berikut: Tindakan dan perkataan kita dapat memengaruhi bagaimana orang lain memandang Gereja Yesus Kristus. Anda mungkin ingin meminta siswa untuk membaca Alma 39:11.)
Undanglah beberapa siswa untuk membagikan pengalaman yang mereka miliki ketika mereka telah melihat perkataan atau tindakan orang lain memengaruhi orang lain untuk memiliki pandangan yang positif terhadap Gereja.
Akhiri dengan merujuk kembali pada pertanyaan yang Anda tulis di papan tulis sebelum pelajaran. Undanglah siswa untuk membagikan apa yang telah mereka pelajari hari ini mengenai bagaimana tanggapan kita terhadap tantangan dan kesulitan dapat memperkuat atau melemahkan iman kita. Bagikan kesaksian Anda tentang kuasa dari tetap setia pada Injil selama saat-saat sulit.
Ulasan dan Informasi Latar Belakang
Penjelasan tentang periode kemurtadan di Kirtland
Selama tahun 1837, roh jahat menjangkiti sejumlah anggota Gereja di Kirland, Ohio:
“Pada waktu ini roh spekulasi terhadap tanah dan harta benda dari semua jenis, yang sedemikian umum di seluruh negeri, telah mengakar kuat dalam Gereja. Buah-buah dari roh jahat ini adalah spekulasi jahat, mencari-cari kesalahan, perpecahan, pertikaian, dan kemurtadan yang mengikuti dengan cepatnya, dan tampak seolah-olah semua kekuatan bumi dan neraka menggabungkan pengaruhnya dalam suatu cara khusus untuk menggulingkan Gereja sekaligus, dan mengakhirinya” (History of the Church, 2:487).
Eliza R. Snow, yang tinggal di Kirtland pada waktu ini dan belakangan melayani sebagai presiden kedua Lembaga Pertolongan, menguraikan periode di Kirtland ini:
“Banyak yang telah rendah hati dan setia pada kinerja setiap tugas—rela untuk bertindak selaras dengan arahan dari Imamat, menjadi arogan dalam roh mereka, dan terangkat-angkat dalam kesombongan hati mereka. Sewaktu Orang-Orang Suci tenggelam dalam kasih dan roh duniawi, Roh Tuhan menarik diri dari hati mereka, dan mereka dipenuhi dengan kesombongan serta kebencian terhadap mereka yang tetap dalam integritas mereka” (Biography and Family Record of Lorenzo Snow [1884], 20).
Brigham Young menguraikan keadaan Gereja selama tahun 1837 dan upaya-upayanya untuk membela Nabi Joseph Smith:
“Pada waktu roh spekulasi, ketidakpuasan dan kemurtadan ini menghinggapi sebagian dari Dua Belas, dan yang memengaruhi semua Kuorum Gereja, sedemikian luas menyebar sehingga sulit bagi siapa pun untuk melihat dengan jelas jalan yang harus ditempuh.
… Ini adalah sebuah krisis ketika bumi dan neraka tampak bersatu untuk menggulingkan Nabi dan Gereja Allah. Lutut dari banyak pria terkuat Gereja pun lunglai.
Selama dikuasai kegelapan ini saya berdiri dekat Joseph, dan, dengan segala kebijaksanaan dan kuasa yang Allah anugerahkan kepada saya, mengerahkan segenap daya saya untuk mendukung hamba Allah dan mempersatukan kuorum-kuorum gereja” (Manuscript History of Brigham Young 1801–1844, diedit oleh Elden Jay Watson [1968], 15, 16–17).
Faktor-faktor yang berkontribusi pada masalah keuangan di Kirtland
Pada tahun 1837 keserakahan menghinggapi hati dari sejumlah anggota Gereja dan bahkan sejumlah pemimpin terkemuka Gereja di Kirtland. Uang emas dan perak langka. Orang menggunakan uang kertas dari beberapa bank di daerah itu. Untuk membantu Orang-Orang Suci menjadi berdikari secara keuangan, Joseph Smith dan para pemimpin Gereja lainnya mendirikan sebuah bank mirip perusahaan yang disebut Lembaga Keamanan Kirtland [Kirtland Safety Society]. Banyak Orang Suci membeli saham di bank yang baru tersebut. Dalam beberapa bulan perusahaan itu membuka pintunya, krisis keuangan, kemudian disebut kepanikan tahun 1837, dimulai di New York dan menyebar ke arah barat, mengakibatkan kegagalan ratusan bank, termasuk Lembaga Keamanan Kirtland [Kirtland Safety Society].
Faktor-faktor lain berkontribusi pada ketidakstabilan Lembaga Keamanan Kirtland [Kirtland Safety Society]. Banyak bank lain menolak menerima uang kertas Lembaga Keamanan Kirtland sebagai alat pembayaran sah, dan koran-koran anti-Mormon menyatakan mata uang itu tidak berharga. Lebih lanjut, modal dari lembaga itu terutama dalam bentuk tanah; lembaga itu tidak memiliki banyak mata uang keras, misalnya emas dan perak, untuk memenuhi permintaan besar akan mata uang kertas. Para musuh Gereja memperoleh cukup uang kertas untuk pembayaran di bank, dengan memaksa lembaga itu untuk menghentikan pembayaran dalam bentuk emas dan perak kepada para pelanggannya hanya beberapa minggu setelah uang kertas pertama dikeluarkan. Akibatnya, Joseph Smith dan Sidney Rigdon didakwa melanggar undang-undang perbankan Ohio dan di bawa ke pengadilan. Joseph dan Sidney masing-masing didenda 1.000 dolar AS.
Joseph Smith melakukan semampu dia untuk membujuk para investor untuk memberikan lebih banyak dana untuk mempertahankan bank, namun dia akhirnya mengalirkan pengoperasian bank kepada orang lain. Meskipun demikian, ini gagal untuk mengatasi masalah. Para manajer yang tidak berpengalaman dan tidak jujur menggerogoti bank. Warren Parrish, kasir bank dan juru tulis pribadi Joseph, mencuri lebih dari 20.000 dolar.
Roh spekulasi yang semakin kuat di Kirtland juga menambah masalah ekonomi Gereja. Dengan ketersediaan uang sebagaimana yang semestinya, yang mereka pinjam dari bank, banyak orang berutang untuk membeli tanah untuk dijual kembali dengan keuntungan yang cukup besar.
Pada musim gugur tahun 1837, Lembaga Keamanan Kirtland [Kirtland Safety Society] harus menutup pintunya. Ratusan orang kehilangan hampir semua yang telah mereka investasikan dengan Joseph Smith menanggung kehilangan paling besar. Karena Lembaga Keamanan dianggap oleh banyak orang sebagai bank Gereja atau bank Nabi, beberapa Orang Suci menyalahkan Joseph Smith karena masalah keuangan mereka dan bahkan mulai menyebutnya nabi yang gagal. Yang lainnya yang juga kehilangan uang terus beriman dan tetap setia terhadap Nabi. (Lihat Buku Pedoman Sejarah Gereja dalam Kegenapan Waktu, [buku pedoman Church Educational System, 2003], 183–185.)