Seminari dan Institut
Pelajaran 41: Ajaran dan Perjanjian 36–37


Pelajaran 41

Ajaran dan Perjanjian 36–37

Pendahuluan

Pada 9 Desember 1830, dua hari sebelum Edward Partridge dibaptiskan, Tuhan memberikan kepadanya sebuah wahyu melalui Nabi Joseph Smith. Dalam wahyu ini, yang sekarang dicatat dalam Ajaran dan Perjanjian 36, Tuhan mengampuni Edward Partrigde atas dosa-dosanya dan memanggil dia untuk mengkhotbahkan Injil. Tuhan juga mengeluarkan sebuah perintah bagi semua pemegang imamat untuk mengkhotbahkan Injil. Tak lama setelah menerima wahyu ini, Joseph Smith menerima wahyu yang terdapat dalam Ajaran dan Perjanjian 37, di mana Tuhan memerintahkan para Orang Suci untuk meninggalkan New York dan berkumpul di Ohio.

Saran untuk Pengajaran

Ajaran dan Perjanjian 36:1–3

Tuhan mengampuni Edward Partridge atas dosa-dosanya dan memanggil dia untuk mengkhotbahkan Injil

Bawalah ke kelas sebuah koper (atau ransel) yang berisikan benda-benda yang mungkin misionaris butuhkan ketika melayani misi penuh waktu. Contohnya, Anda dapat memasukkan tulisan suci, kemeja putih, dasi, sepatu, dan buku Mengkhotbahkan Injil-Ku. Perlihatkan kepada siswa koper tertutup itu dan undanglah mereka untuk membayangkan itu dipersiapkan untuk seorang misionaris yang sedang bersiap untuk melayani misi penuh waktu. Tanyakan apa yang mereka harapkan terdapat dalam koper tersebut. Kemudian bukalah koper itu dan perlihatkan isinya. (Atau, Anda dapat mengundang siswa untuk bekerja secara berpasangan untuk membuat daftar atau menggambar benda-benda yang misionaris itu mungkin butuhkan di misi mereka.)

Jelaskan bahwa ada hal-hal lain yang misionaris perlukan yang belum tentu muat di dalam koper (atau ransel) itu. Tuhan menyebutkan beberapa dari hal-hal ini dalam sebuah wahyu yang ditujukan kepada Edward Partridge. Wahyu itu sekarang terdapat dalam Ajaran dan Perjanjian 36. Undanglah siswa untuk mencari apa yang seorang misionaris perlukan sebelum dia siap untuk melayani misi sewaktu mereka menelaah wahyu ini. (Sewaktu siswa mengidentifikasi kebenaran selama pelajaran ini, Anda mungkin ingin menuliskan kebenaran-kebenaran tersebut pada secarik kertas. Kemudian rekatkan atau jepitkan kertas-kertas itu di bagian luar koper atau ransel untuk siswa lihat. Anda juga dapat sekadar mendaftarkannya di papan tulis.)

Undanglah seorang siswa untuk membacakan dengan lantang latar belakang informasi untuk Ajaran dan Perjanjian 36. Mintalah anggota kelas untuk mendengar apa yang membantu Edward Partridge membuat keputusan untuk dibaptiskan.

Dalam waktu beberapa minggu dari kedatangan Elder Oliver Cowdery dan rekan-rekannya di bagian timur laut Ohio, banyak orang dibaptiskan ke dalam Gereja Yesus Kristus yang dipulihkan. Meskipun istri Edward Partridge, Lydia, ada di antara mereka yang telah diinsafkan dan dibaptiskan oleh para misionaris, Edward masih tidak sepenuhnya yakin. Dia ingin mengunjungi Nabi Joseph Smith sebelum membuat keputusannya. Dia dan Sidney Rigdon tiba di Waterloo, New York, sewaktu Joseph Smith sedang berkhotbah. Ketika Nabi telah menyelesaikan ceramahnya, Edward berdiri untuk berbicara. Dia melaporkan bahwa dalam perjalanan mereka ke Waterloo, dia telah berbicara dengan para tetangga dekat pertanian keluarga Smith di Manchester mengenai karakter keluarga Smith. Puas dengan apa yang telah didengarnya, Edward menanyakan apakah Joseph mau membaptiskannya. (Lihat Documents, Volume 1: Juli 1828–Juni 1831, jilid 1 dari Documents series of The Joseph Smith Papers [2013], 197, 199, 224.)

Undanglah siswa untuk membaca Ajaran dan Perjanjian 36:1 dalam hati, dengan mencari apa yang Tuhan katakan kepada Edward Partridge setelah dia dibaptiskan.

  • Apa berkat-berkat yang Edward Partridge terima sebagai hasil dari pembaptisannya? (Tuhan mengampuni dosa-dosanya.)

  • Apa tanggung jawab yang Edward miliki setelah dia dibaptiskan?

  • Menurut Anda mengapa penting bagi mereka yang dipanggil untuk mengkhotbahkan Injil untuk bertobat dan diampuni dari dosa-dosa mereka?

Untuk membantu siswa memahami mengapa penting bagi calon misionaris untuk bertobat dari dosa-dosa mereka, undanglah seorang siswa untuk membacakan dengan lantang pernyataan berikut oleh Penatua Jeffrey R. Holland dari Kuorum Dua Belas Rasul. (Anda mungkin ingin menandaskan bahwa ketika Penatua Holland menggunakan frasa “bermain untuk musuh” dan “menyesuaikannya dengan Juruselamat,” dia mempersamakan peperangan antara yang baik dan yang jahat dalam perlombaan atletik.) Pertimbangkan mempersiapkan salinan dari pernyataan ini untuk setiap siswa.

Penatua Jeffrey R. Holland

Dalam pertempuran ini antara yang baik dan yang jahat, Anda tidak bisa bermain untuk musuh kapan pun godaan datang, lalu berharap menyesuaikannya bagi Juruselamat di bait suci dan waktu misi seolah-olah tidak ada yang terjadi .… Allah tidak mau dipermainkan .…

… Tuhan telah membuat garis-garis kelayakan bagi mereka yang dipanggil untuk bekerja bersama-Nya dalam pekerjaan ini. Tidak boleh ada misionaris yang belum bertobat dari pelanggaran akhlak atau dari menggunakan bahasa tidak sopan atau ketagihan bahan pornografi dan kemudian berharap untuk bisa mengajar orang lain untuk bertobat dari dosa-dosa seperti itu! Roh tidak akan menyertai Anda, dan kata-katanya akan menyedak tenggorokan Anda sewaktu Anda mengucapkannya. Anda tidak bisa melewati jalan seperti apa yang Lehi sebut ‘jalan terlarang’ [1 Nefi 8:28] dan berharap menuntun orang lain ke jalan ‘yang sesak dan sempit’ [2 Nefi 31:18]—itu tidak bisa dilakukan” (“Kita Terpadu,” Ensign atau Liahona, November 2011, 45).

Untuk membantu siswa memahami apa yang dapat mereka lakukan sekarang untuk menjadi bersih bagi pelayanan misionaris, undanglah seorang siswa untuk membacakan dengan lantang undangan untuk bertobat, juga dari Penatua Holland:

Penatua Jeffrey R. Holland

“Siapa pun Anda dan apa pun yang telah Anda lakukan, Anda bisa diampuni. Setiap orang dari Anda … bisa meninggalkan setiap pelanggaran yang Anda mungkin atasi. Itulah mukjizat pengampunan; itulah mukjizat dari Pendamaian Tuhan Yesus Kristus. Tetapi Anda tidak bisa melakukannya tanpa komitmen aktif terhadap Injil, dan Anda tidak bisa melakukannya tanpa pertobatan saat itu diperlukan. Saya memohon kepada Anda … untuk aktif dan bersih. Jika perlu, saya meminta Anda untuk menjadi aktif dan menjadi bersih” (“Kita Semua Terpadu,” 45).

Jelaskan bahwa meskipun Edward Partridge telah dibaptiskan sebelum menerima wahyu ini, dia belum menerima karunia Roh Kudus. Undanglah siswa untuk membaca Ajaran dan Perjanjian 36:-3 dalam hati, dengan mencari apa yang Tuhan katakan kepada Edward Partridge mengenai karunia Roh Kudus. Ajaklah siswa untuk melaporkan apa yang mereka temukan.

  • Berdasarkan pada apa yang Tuhan katakan kepada Edward Partridge, mengapa para misionaris membutuhan Roh Kudus sebagai rekan mereka?

  • Menurut ayat 2, apa yang akan Roh Kudus ajarkan kepada Edward Partridge? Menurut Anda apa artinya mempelajari “hal-hal damai tentang kerajaan”? (Untuk membantu siswa menjawab pertanyaan ini, mintalah mereka membaca Ajaran dan Perjanjian 42:61.)

Anda dapat mengundang siswa untuk membagikan pengalaman yang mereka miliki ketika Roh Kudus telah mengajari mereka hal-hal damai tentang kerajaan. (Ingatkan siswa bahwa beberapa pengalaman terlalu sakral atau pribadi untuk dibagikan.)

Ajaran dan Perjanjian 36:4–8

Tuhan mengeluarkan sebuah perintah mengenai mereka yang dipanggil untuk mengkhotbahkan Injil.

Undanglah seorang siswa untuk membacakan 1 Nefi 36:4–5, 7 dengan lantang. Sebelum siswa membaca, tandaskan bahwa dalam ayat-ayat ini, Tuhan berbicara kepada “penatua gereja-[Nya]” (A&P 36:7). Mintalah anggota kelas untuk mengikuti, dengan mencari tanggung jawab yang Tuhan berikan kepada pemegang imamat.

  • Apa tanggung jawab yang Tuhan berikan kepada pemegang imamat? (Setelah siswa menanggapi, tulislah kebenaran berikut di papan tulis: Pemegang imamat dipanggil untuk mengkhotbahkan Injil).

Untuk membantu siswa memahami petingnya kebenaran ini dan bagaimana menerapkannya di zaman kita, undanglah seorang siswa untuk membacakan dengan lantang pernyataan berikut oleh Presiden Thomas S. Monson.

Presiden Thomas S. Monson

“Saya mengulangi apa yang para nabi telah lama ajarkan—bahwa setiap remaja putra yang layak dan mampu hendaknya mempersiapkan diri untuk melayani misi. Pelayanan misionaris adalah tugas keimamatan—tanggung jawab yang Tuhan harapkan dari kita yang telah diberi sedemikian banyak” (“Saat Kita Bertemu Bersama Lagi,” Ensign atau Liahona, November 2010, 5–6).

  • Menurut Ajaran dan Perjanjian 36:5, apa yang pemegang imamat perlu lakukan sebelum mereka ditahbiskan dan diutus untuk mengkhotbahkan Injil?

  • Bagaimana seorang remaja putra memperlihatkan bahwa Dia memeluk perintah-perintah untuk mengkhotbahkan Injil?

  • Siapakah yang Anda tahu telah memeluk perintah-perintah untuk mengkhotbahkan Injil? Bagaimana teladan orang ini memengaruhi Anda?

Anda mungkin ingin menjelaskan bahwa meskipun pelayanan misionaris penuh waktu adalah tugas keimamatan, para remaja putri juga boleh melayani. Presiden Thomas S. Monson menuturkan,

Presiden Thomas S. Monson

“Sepatah kata bagi Anda para sister muda: sementara Anda tidak memiliki tanggung jawab keimamatan yang sama seperti para remaja putra untuk melayani sebagai misionaris penuh waktu, Anda juga memberikan kontribusi yang berharga sebagai misionaris, dan kami menyambut pelayanan Anda” (“Saat Kita Bertemu Bersama Lagi,” 6).

Undanglah siswa untuk membaca Ajaran dan Perjanjian 36:6 dalam hati, dengan mencari pesan dasar yang Tuhan perintahkan harus para misionari-Nya ajarkan. Untuk membantu siswa memahami frasa “pakaian yang ternoda dengan daging,“ jelaskan bahwa di Israel kuno, pakaian yang ternoda dengan penyakit dibakar untuk mencegah penyakit itu menyebar. Dalam ayat ini, Tuhan membandingkan penyakit dengan dosa dan karenanya memerintahkan kita untuk menghindari apa pun yang berhubungan dengan dosa. (Lihat Bruce R. McConkie, Doctrinal New Testament Commentary, 3 jilid [1965–1973], 3:428.)

Undanglah seorang siswa untuk membacakan Ajaran dan Perjanjian 36:7 dengan lantang. Mintalah anggota kelas untuk mengikuti, dengan mencari sikap yang melaluinya pemegang imamat hendaknya memeluk pemanggilan mereka.

  • Bagaimana seorang pemegang imamat dapat “memeluk [pemanggilannya] dengan ketunggalan hati”? (Jawaban dapat mencakup menjadi berdedikasi pada pemanggilannya dan melayani dengan ketulusan serta integritas).

Jika Anda telah melayani misi penuh waktu, pertimbangkan membagikan pengalaman Anda dalam memeluk panggilan untuk mengkhotbahkan Injil.

Ajaran dan Perjanjian 37

Tuhan memerintahkan Gereja-Nya untuk berkumpul di Ohio

Jelaskan bahwa sementara Sidney Ridgon dan Edward Partridge melakukan pencarian jiwa di Gereja di Ohio, penganiayaan terhadap Orang-Orang Suci di New York semakin menjadi-jadi. Dalam beberapa hal, ancaman dibuat terhadap kehidupan para pemimpin Gereja, dan musuh-musuh mereka bertemu secara rahasia untuk merencanakan kehancuran mereka (lihat A&P 38:13, 28–29). Menjelang akhir Desember 1830, beberapa minggu setelah Sidney Rigdon dan Edward Partridge tiba di New York, Joseph Smith menerima sebuah wahyu di mana Tuhan memerintahkan Orang-Orang Suci untuk melarikan diri dari musuh-musuh mereka dan pindah ke Ohio.

Undanglah tiga siswa untuk bergiliran membacakan dengan lantang Ajaran dan Perjanjian 37:2–4. Mintalah anggota kelas untuk mengikuti, dengan mencari persiapan yang Tuhan ingin Joseph buat sebelum dia pergi ke Ohio. Ajaklah siswa untuk melaporkan apa yang mereka temukan.

  • Mengapa Tuhan memerintahkan Joseph Smith untuk pergi kepada Orang-Orang Suci di Colesville?

  • Apa asas-asas yang dapat kita pelajari dari ayat-ayat ini mengenai doa? (Siswa mungkin menggunakan kata-kata yang berbeda, namun pastikan mereka mengidentifikasi asas-asas berikut: Jika kita berdoa dengan iman, Tuhan akan menjawab doa-doa kita. Tuhan sering menggunakan orang lain untuk menjawab doa-doa kita.)

  • Kapankah orang lain telah menjadi jawaban bagi doa-doa Anda?

Sebagaimana dibisiki oleh Roh, bagikan kesaksian Anda tentang ajaran-ajaran dan asas-asas yang dibahas dalam pelajaran ini. Undanglah siswa untuk menindaki apa yang telah mereka rasakan sewaktu mereka menelaah wahyu-wahyu ini.

Ulasan dan Informasi Latar Belakang

Ajaran dan Perjanjian 36 Edward Partridge

Edward Partridge pertama kali mendengar Injil yang dipulihkan sekitar bulan Oktober 1830, ketika para misionaris yang telah diutus kepada orang-orang Laman singgah di Kirtland, Ohio, dalam perjalanan mereka ke Missouri (lihat A&P 28:8; 32:2–3). Dia tidak dibaptiskan, meskipun demikian, sampai sekitar dua bulan kemudian. Lucy Mack Smith, ibu Nabi, menulis yang berikut mengenai keputusan Edward Partridge untuk dibaptiskan, “Pada bulan Desember di tahun yang sama [1830], Joseph menetapkan sebuah pertemuan di rumah kami. Sementara dia berkhotbah, Sidney Rigdon dan Edward Partridge masuk dan duduk bersama jemaat. Ketika Joseph telah menyelesaikan khotbahnya, dia memberikan hak istimewa untuk berbicara kepada semua yang ingin memberikan komentar. Pada saat inilah, Tn. Partridge bangkit, dan menyatakan bahwa dia telah berada di Manchester, untuk tujuan memperoleh informasi lebih lanjut mengenai ajaran yang kami khotbahkan; namun, tidak menemukan kami, dia telah menanyakan kepada beberapa tetangga kami berkenaan dengan karakter kami, di mana mereka menyatakan patut diteladani, sampai Joseph menipu kami [mereka] terkait dengan Kitab Mormon. Dia juga mengatakan bahwa dia telah berjalan di sekitar pertanian kami, dan mengamati ketertiban yang baik dan kerja keras yang terlihat; dan setelah melihat apa yang telah kami kurbankan untuk kepentingan iman kami, dan telah mendengar bahwa kejujuran kami tidak perlu diragukan terhadap hak lain selain agama kami, dia memercayai kesaksian kami dan siap untuk dibaptiskan, ‘jika,’ katanya, ‘Brother Joseph mau membaptiskan saya’” (History of Joseph Smith by His Mother, diedit oleh Preston Nibley [1958], 191–192). Edward Partridge dibaptiskan oleh Joseph Smith pada tanggal 11 Desember 1830.

Edward Partridge kemudian menjadi uskup pertama Gereja dan menderita banyak penganiayaan di Missouri. Dia meninggal sebagai anggota setia Gereja pada tahun 1840 di Nauvoo, Illinois, di usia 47 tahun. (Untuk informasi lebih lanjut mengenai Edward Partridge, lihat Ajaran dan Perjanjian 36:1–7; 41:9–11; 42:10; 50:39; 51:1–4, 18; 52:24; 57:7; 58:14–16, 24–25, 61–62; 60:10; 64:17; 124:19; lihat juga Buku Pedoman Siswa Sejarah Gereja dalam Kegenapan Waktu, edisi ke-2 [buku pedoman Church Educational System, 2003], 82; Buku Pedoman Siswa Ajaran dan Perjanjian, edisi ke-2 [buku pedoman Church Educational System, 2001], 72.)

Ajaran dan Perjanjian 36:4–8. Setiap remaja putra hendaknya melayani misi

Presiden Ezra Taft Benson mengajarkan:

Presiden Ezra Taft Benson

“Pertanyaan sering diajukan, Haruskah setiap remaja putra menjalankan misi? Jawaban terhadap pertanyaan ini telah diberikan oleh Tuhan. Jawabannya ya. Setiap remaja putra hendaknya menjalankan misi.

“Sementara setiap remaja putra hendaknya melayani misi, kita menyadari bahwa setiap remaja putra tidak secara fisik, emosional, atau moral siap. Sebagai akibatnya, beberapa mungkin kehilangan kesempatan misionaris. Namun semuanya hendaknya siap untuk pergi—menjadi layak untuk melayani Tuhan” (“Our Commission to Take the Gospel to All the World,” Ensign, Mei 1984, 45).

Presiden Spencer W. Kimball mengajarkan:

Presiden Spencer W. Kimball

“Pertanyaan telah sering diajukan, Apakah program misi sebuah paksaan? Dan jawabannya, tentu saja, tidak. Setiap orang diberikan hak pilihannya. Pertanyaan diajukan: Haruskah setiap remaja putra menjalankan misi? Dan jawaban Gereja adalah ya, dan jawaban Tuhan adalah ya. Memperluas jawaban ini kami menyatakan: Tentu saja setiap anggota pria Gereja hendaknya menjalankan misi, sebagaimana dia hendaknya membayar persepuluhannya, sebagaimana dia hendaknya menghadiri pertemuan-pertemuannya, sebagaimana dia hendaknya menjaga kehidupannya bersih dari keburukan dunia dan merencanakan selestial di bait suci Tuhan” (“Planning for a Full and Abundant Life,” Ensign, Mei 1974, 87).

Ajaran dan Perjanjian 36:4–8. Sister misionaris

Tuhan telah memerintahkan semua anggota Gereja-Nya untuk membagikan Injil. Beberapa wanita memeluk perintah ini dengan melayani misi penuh waktu, meskipun mereka tidak di bawah kewajiban yang sama untuk melakukannya sebagaimana remaja putra.

Presiden Ezra Taft Benson menuturkan:

Presiden Ezra Taft Benson

“Ingatlah, para remaja putri, Anda juga dapat memiliki kesempatan untuk melayani misi penuh waktu .… Beberapa dari misionaris terbaik kita adalah para sister muda” (“To the Young Women of the Church,” Ensign, November 1986, 83).

Presiden Gordon B. Hinckley mengajarkan:

Presiden Gordon B. Hinckley

“Kami membutuhkan sejumlah remaja putri. Mereka melaksanakan pekerjaan yang menakjubkan. Mereka dapat masuk ke rumah-rumah di mana para elder tidak bisa.

“… Presidensi Utama dan Dewan Dua Belas bersatu padu dalam mengatakan kepada para sister muda kita bahwa mereka tidak berada di bawah kewajiban untuk pergi ke misi. Saya berharap saya dapat mengatakan apa yang harus dikatakan dalam suatu cara yang tidak akan menyinggung siapa pun. Para remaja putri hendaknya tidak merasa bahwa mereka memiliki tugas yang sebanding dengan remaja putra. Beberapa dari mereka akan sangat berharap untuk pergi. Jika demikian, mereka hendaknya berembuk dengan uskup mereka juga dengan orangtua mereka” (“Some Thoughts on Temples, Retention of Converts, and Missionary Service,” Ensign, November 1997, 52).

Ajaran dan Perjanjian 36:6. Apakah “angkatan yang nahas” itu?

Kata nahas artinya sukar dikendalikan dan sulit diatur. Oleh karena itu, umat yang nahas adalah umat yang sukar dikendalikan, yang memberontak, yang kehidupannya tidak dipalingkan ke arah Tuhan. Presiden Joseph Fielding Smith, dalam kaitan dengan mereka di zaman terakhir, menuturkan, “Ini adalah generasi yang nahas, yang berjalan dalam kegelapan rohani” (Church History and Modern Revelation, 2 jilid [1953], 1:163). Ungkapan ini juga terdapat dalam Kisah Para Rasul 2:40. (Lihat juga Buku Pedoman Siswa Ajaran dan Perjanjian, edisi ke-2 [buku pedoman Church Educational System, 2001], 73.)

Ajaran dan Perjanjian 36:6. Apa artinya “tampillah dari api, membenci bahkan pakaian yang ternoda dengan daging?”

Merujuk pada Yudas 1:23, yang berisikan bahasa yang sama dengan firman Tuhan dalam Ajaran dan Perjanjian 36:6, Penatua Bruce R. McConkie dari Kuorum Dua Belas Rasul menulis: “Untuk menghentikan penyebaran penyakit di Israel kuno, pakaian yang ternoda oleh penyakit yang menular harus dihancurkan dengan dibakar. (Imamat 13:47–59; 15:4–17.) Dan demikian halnya dengan dosa dalam Gereja, orang-orang Suci harus menghindari kontak apa pun dengannya; pakaian, sebagaimana mestinya, dari para pendosa harus dibakar dengan api, artinya bahwa apa pun yang telah tercemar dosa dari yang jahat harus disingkirkan. Demikian juga dengan mereka yang masih di dunia yang diundang untuk bergabung dalam kerajaan” (Doctrinal New Testament Commentary, 3 jilid [1965–1973], 3:428). (Lihat juga Buku Pedoman Siswa Ajaran dan Perjanjian, edisi ke-2 [buku pedoman Church Educational System, 2001], 73.)

Ajaran dan Perjanjian 37:1. “Tidak … menerjemahkan lagi”

Ajaran dan Perjanjian 37:1 merujuk pada Terjemahan Joseph Smith terhadap Alkitab. Nabi Joseph Smith telah menyelesaikan penerjemahan Kitab Mormon. Namun meskipun pekerjaannya terhadap Alkitab sangatlah penting, kebutuhan untuk pindah ke Ohio “karena musuh” menjadi prioritas (A&P 37:1). Dia melanjutkan pekerjaan terhadap revisi Alkitab kemudian di Ohio. (Lihat juga Buku Pedoman Siswa Ajaran dan Perjanjian, edisi ke-2 [buku pedoman Church Educational System, 2001], 74.)

Ajaran dan Perjanjian 37:3. Berkumpul di Ohio sampai kembalinya Oliver Cowdery

Oliver Cowdery telah berada di misi sejak pertengahan Oktober 1830 (lihat A&P 30:5–6; 32:2). Misi ini membawa dia dan rekan-rekannya dalam perjalanan sejauh 1.400 mil melalui New York, Indiana, Illinois, dan Ohio sampai Missouri, di mana mereka harus berkhotbah kepada suku Asli Amerika yang tinggal di sepanjang perbatasan barat Missouri dan menetapkan tempat di mana bait suci dan Yerusalem Baru akan dibangun (lihat “Covenant of Oliver Cowdery and Others, 17 Oktober 1830,” in Documents, Volume 1: Juli 1828–Juni 1831, jilid 1 dari Documents series of The Joseph Smith Papers [2013], 202–205). Orang-Orang Suci diperintahkan untuk pindah ke Ohio dan menantikan kepulangan Oliver Cowdery. Perpindahan ke Ohio ini adalah dalam persiapan untuk menerima petunjuk lebih lanjut mengenai penegakan Sion (lihat A&P 38:31–33). Pada akhirnya, Oliver Cowdery tidak kembali, namun dia mengutus Parley P. Pratt sebagai ganti dirinya. (Lihat juga Buku Pedoman Siswa Ajaran dan Perjanjian, edisi ke-2 [buku pedoman Church Educational System, 2001], 74.)