Ikutlah Aku
Kejadian 22:1–18
Lihatlah, Inilah Aku
Semoga kita selalu menanggapi Tuhan seperti yang Abraham lakukan.
Ilustrasi oleh Julie Rogers
Joseph Smith pernah menyatakan, “Ketika Tuhan memerintahkan, lakukanlah.” Ekspresi iman dan tindakan ini mendatangkan pengalaman-pengalaman lain yang serupa dalam benak saya.
Sebagai contoh, ketika Adam ditanya mengapa dia mempersembahkan kurban, jawabannya adalah bahwa dia tidak tahu tetapi dia tahu siapa yang telah memerintahkannya (lihat Musa 5:6). Saya juga diingatkan tentang kesediaan Lehi untuk meninggalkan rumah dan harta miliknya untuk mengikuti petunjuk Tuhan (lihat 1 Nefi 2:2–4) atau iman Nefi dalam menyetujui untuk kembali mendapatkan lempengan-lempengan (lihat 1 Nefi 3–4).
Saya dapat mengutip banyak contoh jelas dalam tulisan suci yang mencerminkan roh kepatuhan, tetapi saya ingin berfokus pada pengalaman Abraham.
Kepatuhan Abraham
Tuhan menjanjikan keturunan yang sangat banyak kepada Abraham dan Sara. Berkat itu memerlukan waktu saat tiba, atau, lebih tepatnya, itu tiba dalam waktu Tuhan. Namun, Tuhan menguji iman Abraham ketika Dia meminta Abraham untuk mengurbankan putranya, Ishak, yang merupakan berkat yang untuknya mereka telah berdoa dan telah menunggu begitu lama. Kita mungkin telah membaca kisah tulisan suci ini berulang kali, tetapi seberapa sering kita menempatkan diri kita pada posisi Abraham?
Sulit untuk membayangkan perasaan seorang ayah yang lembut sebelum menghadapi tugas seperti itu. Namun, tekad Abraham dalam memutuskan untuk patuh tidak pernah berhenti membuat saya takjub sewaktu dia bersiap untuk pergi ke gunung di Moria dan mempersembahkan kurban yang diminta. Dalam suatu pernyataan kesediaan dan kepasrahan pada kehendak Bapa Surgawi, jawaban-Nya tetap ada, “Lihatlah, inilah Aku.” (Lihat Kejadian 22:1–2.)
Sebagai imbalan atas kepatuhannya, dia diberkati dengan pemeliharaan nyawa Ishak, juga dengan berkat-berkat luar biasa dan tak terbatas bagi dirinya sendiri, Sara, dan bagi keturunan mereka (lihat Kejadian 22:15–18).
Kepatuhan Sang Juruselamat
Tanpa keraguan, teladan agung kepatuhan dan ketundukan kepada Bapa Surgawi berpusat pada Juruselamat, Yesus Kristus. Dia memperlihatkan kesediaan-Nya untuk patuh dengan datang ke bumi ini; dengan dibaptiskan, menjadi bersih dan sempurna; dan dengan memberikan nyawa-Nya sebagai persembahan dan mengambil ke atas diri-Nya rasa sakit, kesengsaraan, kelemahan, dosa, dan kematian umat-Nya, agar Dia boleh mengetahui bagaimana menyokong kita dalam daging (lihat Alma 7:11–13).
Sedemikian intensnya pengalaman itu sehingga, untuk sesaat, itu menyebabkan Dia bertanya apakah ada cara untuk membiarkan cawan pahit berlalu. Dia kemudian segera berkata, “Tetapi, jangan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi” (Lukas 22:42)—dengan kata lain, “Lihatlah, inilah Aku”—dengan demikian memperlihatkan kesediaan-Nya untuk melakukan kehendak Bapa.
Kepatuhan dan Kasih
Bagaimana kita dapat memupuk kesediaan untuk mempersembahkan “Lihatlah, inilah aku” sebagai tanggapan terhadap setiap permintaan yang Bapa Surgawi buat dari kita sebagai anggota Gereja, atau terkadang pada tingkat pribadi?
Paulus mengajari orang-orang Roma, “Kasih adalah kegenapan hukum Taurat” (Roma 13:10). Jika saya ingin menemukan kata yang secara sinonim menggantikan frasa “kegenapan hukum,” saya pikir kata kepatuhan akan cepat muncul di benak. Oleh karena itu, kita dapat mengatakan bahwa kasih adalah kepatuhan. Maka pernyataan Juruselamat “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-perintah-Ku” (Yohanes 14:15) sangatlah masuk akal.
Kita dapat menanggapi dengan “Lihatlah, inilah aku” atau, dalam perkataan Nefi, “Aku akan pergi dan melakukan” (1 Nefi 3:7). Dalam bahasa modern kita, kita dapat mengatakan, “Tentu saja saya bersedia melakukan apa yang Bapa Surgawi perintahkan, terlepas dari keadaannya.”
Namun, yang ingin saya tekankan adalah hubungan kasih-kepatuhan, artinya kita mematuhi Bapa karena kita mengasihi-Nya. Saya percaya bahwa memilih untuk patuh adalah salah satu cara terbaik untuk dengan jelas menyatakan kasih kita bagi-Nya. “Iman tanpa perbuatan mati” (Yakobus 2:26), dan secara pribadi saya pikir kasih bagi Bapa Surgawi dan Yesus Kristus tanpa kepatuhan juga tidak hidup.
Cara Meningkatkan Kasih dan Kepatuhan Kita
Bagaimana kita meningkatkan kasih kita kepada-Nya dan kepatuhan kita kepada-Nya? Tuhan berfirman, “Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yohanes 17:3). Mengenal Yesus Kristus—dan, melalui Dia, Bapa—memungkinkan kita untuk mengetahui kasih yang Mereka miliki bagi kita dan hal-hal tak terlukiskan yang telah Mereka lakukan dan akan terus Mereka lakukan bagi kita, termasuk selama masa-masa sulit yang kita alami dalam kehidupan fana ini. Mengenal Mereka mengubah hati kita, membuat kita berhasrat untuk mengikuti teladan Mereka dalam tindakan kita dan untuk bersedia mengatakan, dalam perkataan dan perbuatan, “Lihatlah, inilah aku.” Kesediaan ini tercermin dalam hasrat untuk membaca tulisan suci atau dalam berdoa kepada Bapa Surgawi.
“Lihatlah, inilah aku” dapat menjadi respons terhadap panggilan untuk melayani misi atau untuk menjadi lebih dipersucikan dalam mematuhi perintah-perintah seperti menguduskan hari Sabat, menghormati orang tua kita, atau berusaha menjalani kehidupan yang bersih secara moral. “Lihatlah, inilah aku” adalah ekspresi yang senantiasa menyertai para murid Kristus, bahkan ketika pengurbanan yang diminta berdampak terhadap apa yang paling kita hasratkan atau yang untuknya kita telah membayar harga yang mahal.
Kesediaan untuk mematuhi ini sangatlah berharga, khususnya sehubungan dengan perjanjian-perjanjian yang kita buat ketika kita dibaptiskan atau memasuki bait suci. Dapatkah Anda membayangkan akan seperti apa kehidupan kita jika kita senantiasa berpikir, “Lihatlah, inilah aku” ketika mengambil ke atas diri kita nama Kristus atau untuk selalu mengingat-Nya dan menaati perintah-perintah-Nya? Mengambil sakramen mengundang kita untuk memperbarui komitmen itu, yang hendaknya tercermin dalam tindakan kita sepanjang minggu itu. Hal yang sama berlaku ketika kita pergi ke bait suci sewaktu kita membuat atau mengingat perjanjian-perjanjian yang kita buat di sana.
Teladan Seorang Istri yang Muda
Saya teringat percakapan saya dengan pasangan yang baru menikah beberapa tahun yang lalu ketika melayani sebagai uskup. Suatu malam, mereka terlibat dalam diskusi panjang dan panas tentang pembayaran persepuluhan. Suami muda itu baru saja melewati minggu yang sulit di tempat kerja dan ingin menabung uang hasil jerih payahnya untuk beberapa pengeluaran pribadi mereka. Namun, saya ingat perkataan istri yang muda itu ketika, di depan suaminya, dia berkata, “Uskup, saya bersedia untuk tidak mengeluarkan biaya-biaya itu dan bahkan tidak makan, jika perlu, tetapi saya ingin membayar persepuluhan dan mematuhi Tuhan.”
Begitu menggemanya ucapan “Lihatlah, inilah aku,” yang diekspresikan dengan kesaksian yang begitu luar biasa oleh istri yang muda itu, sehingga saya dan suaminya merasakan semangat yang kuat selama percakapan itu. Pada akhirnya, saya tidak tahu apakah itu karena keinginannya sendiri atau karena dia dibujuk oleh istrinya, tetapi suaminya akhirnya membayar persepuluhannya akhir pekan itu.
Hari Minggu berikutnya, sebelum pertemuan, suami yang muda tersebut meminta bicara sebentar dengan saya. Dengan raut wajah yang berbeda dari minggu sebelumnya, dia mengatakan kepada saya, “Uskup, Anda tahu bahwa minggu lalu saya akhirnya membayar persepuluhan saya, dan saya takut saya tidak akan memiliki cukup uang untuk makan, tetapi saya hanya ingin Anda tahu bahwa minggu ini kami memiliki uang dua kali lipat dari biasanya. Uskup, itu adalah mukjizat, dan saya ingin selalu melihat mukjizat itu dalam hidup saya.” Bagi saya, seolah-olah pria muda itu mengatakan kepada saya, “Uskup, saya bersedia menanggapi dengan ‘Lihatlah, inilah aku’ terhadap apa pun yang Allah minta dari saya.”
Janji Kita
Tuhan telah berfirman bahwa Dia terikat ketika kita melakukan apa yang Dia minta (lihat Ajaran dan Perjanjian 82:10). Apakah kita sungguh-sungguh percaya akan ketegasan janji itu?
Mungkin berkat-berkat tidak datang pada waktu kita atau dengan cara yang kita inginkan, tetapi saya bersaksi kepada Anda bahwa janji itu nyata dan benar. Janji itu menuntut kasih bagi-Nya, ketundukan, hasrat untuk melakukan kehendak-Nya, dan hidup sebagai murid Kristus. Dia akan menolong kita dan memberkati kita untuk memahami dan menepati perjanjian-perjanjian kita. Dengan demikian, ketika Dia meminta kita untuk melakukan kehendak-Nya, kiranya kita menjawab dengan lantang, “Lihatlah, inilah aku, Tuhan!”