2025
Kasih Amal—Tanda Kemuridan Sejati
Mei 2025


11:29

Kasih Amal—Tanda Kemuridan Sejati

Destinasi sejati dari kemuridan secara harfiah adalah untuk menjadi seperti Yesus Kristus.

Presiden Russell M. Nelson baru-baru ini mengundang kita untuk “menjadikan kemuridan kita sebagai prioritas utama kita.” Undangan penuh kuasa itu telah menggugah saya untuk merenungkan dalam-dalam kemuridan pribadi saya kepada Yesus Kristus.

Kemuridan Adalah Tindakan Kesengajaan

Murid adalah seorang pengikut atau siswa dari orang lain. Murid adalah “pelajar” yang mengabdikan hidup mereka untuk menjadi seperti guru mereka. Maka, menjadi murid Yesus Kristus menyiratkan lebih daripada sekadar memercayai ajaran dan doktrin-Nya. Itu bahkan menyiratkan lebih dari mengakui keilahian-Nya dan menerima Dia sebagai Juruselamat dan Penebus kita, sevital dan sepenting itu adanya.

Presiden Dallin H. Oaks menjelaskan, “Mengikuti Kristus bukanlah suatu praktik yang kasual atau sesekali. Itu adalah komitmen berkelanjutan dan cara hidup yang hendaknya menuntun kita di setiap waktu dan di segala tempat.” Kemuridan adalah suatu perjalanan yang disengaja yang kita lakukan untuk menjadi ditransformasi melalui kurban pendamaian Tuhan dan kuasa-Nya yang memungkinkan. Destinasi sejati dari kemuridan secara harfiah adalah untuk menjadi seperti Yesus Kristus—bahkan sampai pada titik di mana kita menerima “rupa-Nya pada air muka [kita].”

Untuk menjadi murid Tuhan, kita harus dengan niat meniru pikiran dan tindakan-Nya setiap hari—misalnya, kepatuhan, kerendahhatian, dan kesabaran-Nya. Sewaktu kita secara bertahap menyertakan atribut-atribut ini ke dalam identitas kita, kita menjadi “pengambil bagian dalam sifat ilahi[-Nya].” Meneladani karakter Juruselamat ini adalah bagian paling penting dari peribadatan kepada-Nya. Seperti yang Presiden Nelson ajarkan, “Kekaguman kita terhadap Yesus diekspresikan paling baik dalam keteladanan kita akan Yesus.”

Tanda Kemuridan Sejati

Di antara banyak atribut ilahi Yesus Kristus yang harus kita teladani, ada satu yang paling menonjol dan mencakup semua yang lain. Atribut itu adalah kasih murni, atau kasih amal-Nya. Baik Nabi Mormon maupun Rasul Paulus mengingatkan kita bahwa tanpa kasih amal, “[kita] bukanlah apa-apa.” Atau, sebagaimana diungkapkan kepada Nabi Joseph Smith, tanpa “kasih amal, [kita] tidak dapat melakukan apa pun.”

Juruselamat Sendiri mengidentifikasi itu sebagai markah atau tanda yang melaluinya para murid sejati-Nya akan dikenali ketika Dia memaklumkan,

“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.

Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, jikalau kamu saling mengasihi.”

Kasih amal adalah konsep kaya yang dapat sulit didefinisikan tetapi dengan mudah dipahami oleh semua yang disentuh olehnya. Mengkhotbahkan Injil-Ku mengajarkan bahwa “kasih amal, seperti iman, menuntun pada tindakan.” Sesungguhnya, kasih amal dapat dideskripsikan sebagai “kasih dalam tindakan.” Deskripsi ini memberikan wawasan yang bagus bagi pernyataan rangkuman kehidupan Juruselamat—Dia “berjalan berkeliling sambil berbuat baik.”

Sebagai pengikut Yesus Kristus, kita hendaknya berupaya untuk meneladani cara Tuan kita memperlihatkan kasih murni-Nya kepada sesama. Meskipun Juruselamat memanifestasi kasih amal dalam banyak cara, saya ingin mengarahkan perhatian pada tiga pola tertentu dari kasih amal-Nya yang selalu terlihat pada para murid sejati-Nya.

Kasih Amal Adalah Memperlihatkan Rasa Iba

Pertama, Juruselamat memperlihatkan kasih amal dengan bersikap penuh rasa iba. Selama pemberian pelayanan-Nya di antara orang-orang Nefi sebagaimana dicatat dalam Kitab Mormon, Tuhan mengundang orang-orang untuk pulang dan merenungkan hal-hal yang telah Dia ajarkan dan untuk bersiap bagi kembalinya Dia hari berikutnya. Catatan tersebut kemudian menyatakan,

“Mereka berlinang air mata, dan memandang dengan mantap kepada-Nya seolah-olah mereka hendak meminta-Nya untuk tinggal sedikit lebih lama bersama mereka.

Dan Dia berfirman kepada mereka: Lihatlah, sanubari-Ku dipenuhi dengan rasa iba terhadapmu.”

Rasa iba adalah bagian dari kasih amal yang mengupayakan untuk meringankan penderitaan. Penuh dengan rasa iba, Tuhan menyembuhkan yang sakit dan menderita di antara orang-orang. Setelahnya, Dia memberkati anak-anak mereka sementara malaikat turun dari surga dan mengelilingi mereka. Dia melakukan tindakan yang lembut, penuh kasih ini, dan banyak lagi, karena “tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan.”

Sementara melayani sebagai misionaris muda di Amerika Selatan, saya pun memetik manfaat dari rasa iba seorang teman baik. Satu malam sementara saya berkendara bersama rekan saya ke rumah presiden misi kami, seorang pemuda yang mengendarai sepeda tiba-tiba berbelok di depan kendaraan kami. Itu terjadi begitu cepat sehingga saya tidak dapat menghindari benturan. Tragisnya, pemuda ini meninggal dunia karena benturan tersebut. Saya merasa terpukul oleh hilangnya nyawanya. Ketakutan dan merasa syok saat realita buruk dari apa yang baru saja terjadi menimpa diri saya, saya dibawa ke penjara dan ditahan. Saya belum pernah merasa lebih ketakutan dan kesepian. Saya penuh dengan rasa putus asa dan takut bahwa saya akan dipenjarakan selama sisa hidup saya.

Seorang misionaris lain, Elder Brian Kochever, mendengar tentang kecelakaan itu dan tergerak oleh rasa iba. Dia datang ke penjara dan memohon kepada petugas agar diperkenankan tinggal bersama saya di sel tahanan agar saya tidak seorang diri. Ajaibnya, mereka setuju. Sampai hari ini, saya merasakan rasa syukur yang mendalam bagi tindakan kasih seperti Kristus murid ini, yang menenangkan, menghibur, dan melipur diri saya selama momen kesengsaraan terhebat dalam hidup saya. Rasa ibanya yang penuh kasih amal merupakan tanda yang menunjukkan kemuridannya. Seperti Presiden Nelson amati, “Salah satu cara termudah untuk mengidentifikasi pengikut sejati Yesus Kristus adalah seberapa penuh kasihnya orang tersebut memperlakukan orang lain.”

Kasih Amal Adalah Memberi Pelayanan pada Kebutuhan yang Tidak Diucapkan

Contoh lain bagaimana Juruselamat memperlihatkan kasih-Nya adalah melalui pengamatan-Nya akan dan pemberian pelayanan-Nya pada kebutuhan orang lain yang tidak diucapkan. Kepada pria yang telah lumpuh selama 38 tahun dengan tak seorang pun membantunya, Tuhan menjadikannya tahir dan mendorongnya untuk hidup dengan saleh. Kepada wanita yang kedapatan berzina, Dia menawarkan harapan dan penghiburan alih-alih hukuman Untuk pria lumpuh yang diturunkan dari atap, Tuhan menawarkan pengampunan dosa, bukan hanya penyembuhan tubuh.

Ketika saya dipanggil untuk melayani sebagai uskup, enam anak kecil kami menjadikan pertemuan sakramen menantang bagi istri saya, Cristin, yang harus menangani mereka seorang diri sementara saya duduk di mimbar. Seperti dapat Anda bayangkan, anak-anak kami sering tidak khidmat. Mengamati situasinya, dua anggota lingkungan kami, John dan Debbie Benich, mulai duduk bersamanya setiap Minggu untuk membantu. Kebaikan hati mereka berlanjut selama bertahun-tahun, dan mereka menjadi orang tua pengganti bagi keluarga kami. Seperti Tuhan, para murid ini telah mencermati adanya kebutuhan yang tidak diucapkan dan bertindak dengan kasih—tanda yang menonjol akan kemuridan mereka.

Kasih Amal Membantu Orang Lain di Sepanjang Jalan Perjanjian

Terakhir, kasih sempurna Juruselamat terfokus pada memampukan semua anak Allah untuk memenuhi potensi ilahi mereka agar kita dapat “mengambil bagian dalam keselamatan-Nya, dan kuasa penebusan-Nya.” Sewaktu kita menjadi lebih seperti Tuhan kita, hasrat kita untuk membantu para saudara dan saudari kita di sepanjang jalan perjanjian akan secara alami meningkat.

Misalnya, kita dapat menyemangati dan menjadi teman bagi mereka yang merasa tersinggung atau terlupakan, membantu mereka yang baru dalam jemaat kita merasa disambut atau mengundang teman untuk beribadat bersama kita di pertemuan sakramen—mungkin Paskah mendatang ini. Ada tak terhitung cara untuk menyemangati dan membantu orang lain dalam kemajuan mereka jika kita secara sengaja dan dengan doa yang sungguh-sungguh mengupayakan bantuan surga untuk memiliki mata untuk melihat dan hati untuk merasakan bagaimana Yesus Kristus melihat dan merasa bagi mereka.

Membantu orang lain di sepanjang jalan perjanjian dapat berbentuk tindakan pelayanan yang tidak konvensional. Sebagai contoh, selama penugasan saya baru-baru ini di Filipina, saya belajar dari keluarga Agamata. Mereka dibaptis tahun 2023, dan kemudian mereka dengan bersemangat menentukan tanggal untuk dimeteraikan sebagai keluarga di Bait Suci Urdaneta Filipina dekat mereka. Namun, tepat sebelum janji temu keluarga itu, sejumlah topan melanda wilayah tersebut. Brother Agamata, seorang petani beras, tidak dapat menanam padinya selama badai besar tersebut. Ketika badai akhirnya berlalu, dia perlu segera menanam padi sementara tanah masih digenangi air—kondisi yang ideal untuk menanam. Sayangnya, perjalanan ke bait suci tersebut harus ditunda.

Para misionaris membantu menanam padi.
Para misionaris menanam padi.

Dua murid, Elder dan Sister Cauilan, bersama tiga misionaris pelayanan muda, mendengar mengenai pergumulan keluarga Agamata tersebut dan menawarkan bantuan terlepas dari tidak dimilikinya pengalaman bertani. Bekerja di bawah terik matahari, mereka membantu menanam benihnya, memperkenankan keluarga Agamata untuk menyelesaikan tugas mereka dan menghadiri pemeteraian bait suci mereka sesuai jadwal. Elder Cauilan mengamati bahwa “Wajah [keluarga Agamata] bercahaya sewaktu kami melihat mereka berpakaian putih di dalam rumah Tuhan. Sukacita yang kami rasakan memberikan pelayanan kepada seseorang adalah sukacita yang tak ada tandingannya!”

Keluarga Agamata di luar bait suci.

Keluarga Agamata kini menikmati berkat-berkat besar karena dimeteraikan sebagai keluarga kekal karena beberapa murid yang penuh dengan kasih amal—tanda dari kemuridan mereka—berketetapan hati untuk membantu saudara dan saudari mereka maju di sepanjang jalan perjanjian mereka.

Brother dan sister, kemuridan Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan untuk mendapatkan kebahagiaan yang langgeng. Itu adalah jalan yang penuh dengan tindakan kasih yang disengaja dan penuh tujuan terhadap orang lain. Sementara jalan kemuridan mungkin sulit dan menantang, dan sementara terkadang kita mungkin bergumul dan tidak mencapai yang diharapkan, kita dapat menerima penghiburan bahwa Allah peduli akan diri kita dan mendambakan untuk membantu kita setiap kali kita mencoba. Yesaya mengingatkan kita bahwa “[Allah] … memegang tangan [kanan kita] dan berkata …, Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau.”

Dengan jaminan ini dari Bapa kita di Surga dalam benak, saya sungguh berdoa agar kita dapat mengikuti undangan Presiden Nelson untuk memprioritaskan kemuridan kita. Semoga kita “berdoa kepada Bapa dengan sekuat tenaga hati” untuk “dipenuhi dengan kasih ini, yang telah Dia limpahkan kepada semua yang adalah pengikut sejati Putra-Nya, Yesus Kristus; … agar ketika Dia akan memperlihatkan diri kita akan menjadi seperti Dia,” karena kita membawa tanda kemuridan sejati, yang adalah “kasih amal … kasih murni Kristus.”

Saya bersaksi bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat agung yang hidup, Penebus, Teladan, dan Teman kita. Dalam nama Yesus Kristus, amin.

Catatan

  1. Russell M. Nelson, “Tuhan Yesus Kristus Akan Datang Lagi,” Liahona, November 2024, 121.

  2. Lihat Merriam-Webster.com Dictionary, “disciple.”

  3. Dallin H. Oaks, “Mengikuti Kristus,” Liahona, November 2024, 23.

  4. Alma 5:14; lihat juga Alma 5:19.

  5. Lihat 2 Petrus 1:3–8.

  6. Russell M. Nelson “Perfection Pending,” Ensign, November 1995, 87.

  7. Moroni 7:46; lihat juga 1 Korintus 13:3.

  8. Ajaran dan Perjanjian 18:19; penekanan ditambahkan.

  9. Yohanes 13:34–35; penekanan ditambahkan.

  10. Mengkhotbahkan Injil-Ku: Penuntun untuk Membagikan Injil Yesus Kristus (2023), 127.

  11. Kisah Para Rasul 10:38.

  12. Lihat 3 Nefi 17:3.

  13. 3 Nefi 17:5–6.

  14. Lihat Merriam-Webster.com Dictionary, “compassion.”

  15. Lihat 3 Nefi 17:7–25.

  16. Matius 9:36; 14:14; Markus 1:41; 6:34.

  17. Polisi menempatkan saya di penjara sebagai bagian dari prosedur standar mereka untuk kecelakaan yang berakibat hilangnya nyawa. Mereka memisahkan saya dari rekan saya karena sayalah sopirnya. Saya berada di penjara selama dua hari. Selama investigasi polisi tersebut, mereka mendapati bahwa pemuda ini sedang mabuk pada saat kecelakaan tersebut dan bahwa ini kemungkinan berkontribusi pada berbeloknya dia di depan kendaraan kami yang sedang melaju. Saya tampil di depan seorang hakim untuk sidang resmi, di mana ditetapkan bahwa tidak ada bukti adanya kesalahan atau kelalaian melainkan ini hanyalah kecelakaan yang disesalkan dan tragis.

  18. Lihat Matius 25:31–40, terutama ayat 36.

  19. Russell M. Nelson, “Pembawa Damai Dibutuhkan,” Liahona, Mei 2023, 98.

  20. Lihat Yohanes 5:2–9, 14.

  21. Lihat Yohanes 8:1–11.

  22. Lihat Markus 2:1–12.

  23. Omni 1:26.

  24. Lihat Ajaran dan Perjanjian 76:12.

  25. Lihat 2 Nefi 26:24.

  26. Komunikasi pribadi dengan Darwin Serrano Cauilan, 1 Desember, 2024.

  27. Yesaya 41:13.

  28. Moroni 7:48.

  29. Moroni 7:47.