Wahyu
Penatua Neil L. Andersen: Topik ketiga kita adalah wahyu. Ini adalah topik yang tidak hanya dibicarakan oleh Presiden Oaks, tetapi juga yang telah dia amalkan. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, dia telah mengatakan, “Di sepanjang kehidupan saya, guru utama saya adalah suara lembut tenang dan perasaan yang disampaikan melalui Roh Tuhan.”
Dalam sebuah ceramah yang sangat menyentuh yang disampaikan pada tahun 1992, dia menceritakan pengalaman yang mengancam nyawa di mana bimbingan dari Roh Kudus menyelamatkan dia dan seorang remaja putra yang tidak dikenal dari tragedi tertentu. Dia tinggal di Chicago. Setelah pertemuan gereja yang berlangsung hingga larut malam, dia dan Sister Oaks mengantar pulang seorang sister di lingkungan yang tinggal di daerah rawan di Chicago. Dia membantu sister tersebut sampai ke pintu depan rumahnya.
Saat dia kembali ke mobil, seorang remaja putra tiba-tiba muncul dengan pistolnya di tangannya, menodongkan pistolnya ke perut Penatua Oaks. Dia meminta uangnya, dengan pistol masih ditodongkan ke perutnya, dan setelah beberapa perdebatan yang tegang, Penatua Oaks menceritakan tentang sebuah bus yang mendekat dan ilham yang tiba-tiba datang kepadanya. Mari kita saksikan.
Presiden Dallin H. Oaks (1992): Sementara hal ini terjadi di belakang si perampok muda, di luar pandangannya, dia menjadi gugup dan teralihkan. Pistolnya bergeser dari perut saya hingga larasnya mengarah sedikit ke kiri. Lengan saya sudah setengah terangkat, dan dengan gerakan cepat saya bisa merebut pistol dan bergumul dengannya tanpa risiko tertembak. Saya lebih tinggi dan lebih berat daripada pemuda ini, dan pada waktu itu saya agak atletis. Saya tidak ragu bahwa saya bisa menang dalam adu gulat singkat jika saya bisa membuat pistolnya terlepas dari pertarungan.
Tepat saat saya hendak bertindak, saya mengalami pengalaman yang unik. Saya tidak melihat apa-apa atau mendengar apa-apa, tetapi saya tahu sesuatu. Saya tahu apa yang akan terjadi jika saya merebut senjata itu. Kami akan bergumul, dan saya akan mengarahkan pistol ke dada pemuda itu. Pistol itu akan meletus, dan dia akan mati. Saya juga memahami bahwa saya tidak boleh membiarkan darah pemuda itu berada di hati nurani saya sepanjang sisa kehidupan saya.
Saya tetap tenang, dan saat bus menjauh, saya mengikuti dorongan hati untuk meletakkan tangan kanan saya di bahunya dan memberinya nasihat. Pada saat itu, June dan saya memiliki beberapa anak remaja, dan memberikan nasihat terasa alami bagi kami.
“Lihat sini,” saya berkata, “ini tidak benar. Apa yang kamu lakukan itu tidak benar. Mobil berikutnya mungkin saja polisi, dan kamu bisa dibunuh atau dipenjara karena ini.”
Dengan pistol kembali ditodongkan ke perut saya, perampok muda itu menjawab nasihat saya dengan mengulangi tuntutannya untuk ketiga kalinya. Tapi kali ini suaranya terdengar lembut. Ketika dia memberikan ancaman terakhir untuk membunuh saya, suaranya tidak terdengar meyakinkan. Ketika saya menolak lagi, dia ragu-ragu sejenak, lalu memasukkan pistol ke dalam saku dan berlari pergi. June membuka pintu mobil, dan kami berangkat, sambil mengucapkan doa syukur.
Penatua Neil L. Andersen bersama Dewasa Muda: Dan kami di sini bersama Joy, Lindsey, Nicole, dan Max. Kami berbicara tentang wahyu. Anda telah mendengar Presiden Oaks dalam kejadian tersebut. Dia berkata, “Saya tidak melihat apa-apa.” Saya tidak mendengar apa-apa, tetapi saya tahu sesuatu.” Adakah di antara Anda yang pernah mengalami hal itu sebelumnya atau sesuatu yang serupa?
Nicole: Satu yang terlintas dalam benak adalah keputusan untuk memilih berkeluarga. Saya pikir itu membutuhkan banyak doa dan banyak puasa bagi saya. Saya ingin mendatangkan anak-anak ke dunia. Saya tidak benar-benar yakin bagaimana semuanya akan berjalan, dan yang saya ingat hanyalah membawa hasrat saya kepada Tuhan, menyampaikan kepada-Nya bahwa saya ingin memiliki anak.
Itulah hasrat yang ada di dalam hati saya. Saya berulang kali merasakan kedamaian yang begitu besar dari Allah, bahwa Dia melihat hati saya, bahwa Dia melihat apa yang saya rasakan, bahwa Dia mengenali hasrat saya, dan itu adalah hasrat yang layak.
Penatua Neil L. Andersen: Olivia, apa yang akan Anda ceritakan kepada kami?
Olivia: Saya rasa saat-saat penerimaan wahyu yang paling berkesan bagi saya terjadi di dalam bait suci, dan saya masih jauh dari memahami segala hal yang terkandung dalam pemberkahan. Saya rasa ini lebih tentang—bukan benar-benar memahami setiap aspek dalam pemberkahan, itu lebih pada pemahaman untuk merasakan bahwa Yesus Kristus hadir dalam tata cara tersebut, bahwa kegenapan imamat-Nya ada di sana, dan Dialah yang menguduskan saya dan memperkenankan saya untuk merasakan pemahaman itu.
Nyanyian pujian favorit saya adalah “My Shepherd Will Supply My Need [Gembalaku Akan Memenuhi Kebutuhanku].” Dan bait terakhir berbunyi, “Tidak lagi sebagai orang asing atau tamu, tetapi seperti anak di rumah sendiri.” Saya tahu kita adalah tamu di bait suci. Tetapi saya benar-benar mulai memahami bagaimana rasanya menjadi seorang anak di rumah. Saat saya duduk di bait suci, saya berusaha berkomunikasi dengan Allah.
Penatua Neil L. Andersen: Indah sekali.