2025
Berbahagialah Orang yang Membawa Damai
November 2025


13:16

Berbahagialah Orang yang Membawa Damai

Membawa damai masih dimulai dari tempat yang paling dasar—di dalam hati kita. Kemudian di rumah dan keluarga.

Selamat datang di konferensi umum. Betapa bersyukurnya kita bisa berkumpul bersama.

Sewaktu kita mengantisipasi jalannya konferensi ini, kita sangat menyadari minggu-minggu menjelang acara tersebut. Kita menyadari bahwa hati kita berduka atas kehilangan, dan beberapa orang merasakan ketidakpastian yang disebabkan oleh kekerasan atau tragedi di seluruh dunia. Bahkan orang-orang taat beragama yang berkumpul di tempat sakral—termasuk gedung pertemuan suci kita di Michigan—telah kehilangan nyawa atau orang-orang terkasih mereka. Saya berbicara dari lubuk hati saya, menyadari bahwa banyak dari hati Anda yang terbebani oleh apa yang Anda, keluarga Anda, dan dunia kita alami sejak konferensi umum terakhir.

Kapernaum di Galilea

Bayangkan bersama saya, Anda adalah seorang remaja muda di Kapernaum, dekat Danau Galilea, selama pemberian pelayanan Yesus Kristus. Berita telah menyebar tentang seorang rabi—seorang guru—yang pesannya menarik khalayak ramai. Para tetangga berencana untuk pergi ke sebuah bukit yang menghadap ke danau untuk mendengarkan Dia.

Anda bergabung dengan orang-orang berjalan di jalan-jalan berdebu Galilea. Saat Anda tiba, besarnya kerumunan yang berkumpul untuk mendengarkan Yesus mengejutkan Anda. Beberapa orang berbisik pelan, “Mesias.”

Anda mendengarkan. Firman-Nya menyentuh hati Anda. Dalam perjalanan pulang yang panjang, Anda memilih diam daripada bercakap-cakap.

Anda merenungkan hal-hal menakjubkan—hal-hal yang melampaui bahkan hukum Musa. Dia berbicara tentang memberikan pipi yang lain dan mengasihi musuh-musuh Anda. Dia berjanji, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”

Dalam kenyataan Anda, saat Anda merasakan beban hari-hari yang sulit—ketidakpastian dan ketakutan—kedamaian terasa jauh.

Langkah Anda semakin cepat; Anda tiba di rumah dengan napas terengah-engah. Keluarga Anda berkumpul, ayah Anda bertanya, “Ceritakan kepada kami apa yang kamu dengar dan rasakan.”

Anda berbagi bahwa Dia mengundang Anda untuk membiarkan terang Anda bersinar di hadapan orang lain, untuk mengupayakan kesalehan bahkan ketika dianiaya. Suara Anda tersendat saat Anda mengulanginya, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”

Anda bertanya, “Dapatkah saya benar-benar menjadi pembawa damai ketika dunia sedang kacau, ketika hati saya dipenuhi rasa takut, dan ketika kedamaian terasa begitu jauh?”

Ayah Anda melirik ibu Anda dan menjawab dengan lembut, “Ya. Kita mulai dari tempat yang paling dasar—di dalam hati kita. Kemudian di rumah dan keluarga kita. Sewaktu kita mempraktikkannya di sana, membawa damai dapat menyebar ke jalan-jalan dan desa-desa kita.”

Maju Cepat 2.000 Tahun

Maju Cepat 2.000 Tahun Tidak perlu membayangkan—ini adalah kenyataan kita. Walaupun tekanan yang dirasakan oleh generasi muda saat ini berbeda dengan yang dialami oleh anak muda itu di Galilea—polarisasi, sekularisasi, balas dendam, kemarahan di jalan raya, amarah yang meluap-luap, dan serangan massal di media sosial—kedua generasi tersebut menghadapi budaya konflik dan ketegangan.

Bersyukurnya, remaja putra dan putri kita juga tertarik pada momen-momen Khotbah di Bukit mereka: seminari, konferensi Untuk Kekuatan Remaja, dan Ikutlah Aku. Di sini mereka menerima undangan berkelanjutan yang sama dari Tuhan: untuk membiarkan terang mereka bersinar di hadapan orang lain, mengupayakan kesalehan bahkan saat dianiaya, dan mengasihi musuh-musuh mereka.

Mereka juga menerima kata-kata penyemangat dari para nabi Pemulihan yang masih hidup, “Pembawa damai dibutuhkan.” Tidak setuju tanpa menjadi tidak ramah. Gantilah perselisihan dan kesombongan dengan pengampunan dan kasih. Bangunlah jembatan kerja sama dan pemahaman, bukan tembok prasangka atau pemisah. Janji yang sama, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”

Hati generasi muda saat ini dipenuhi dengan kesaksian tentang Yesus Kristus dan harapan untuk masa depan. Namun mereka juga bertanya, “Dapatkah saya benar-benar menjadi pembawa damai ketika dunia sedang kacau, ketika hati saya dipenuhi rasa takut, dan ketika kedamaian terasa begitu jauh?”

Jawaban yang tegas sekali lagi adalah ya! Kita menerima firman Juruselamat, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu .… Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”

Saat ini, membawa damai masih dimulai dari tempat yang paling dasar—di dalam hati kita. Kemudian di rumah dan keluarga. Sewaktu kita mempraktikkannya di sana, membawa damai akan menyebar ke tetangga dan komunitas kita.

Mari kita pertimbangkan lebih lanjut ketiga tempat ini di mana Orang Suci Zaman Akhir modern membawa damai.

Membawa Damai di Dalam Hati Kita

Pertama adalah di dalam hati kita. Satu elemen yang terlihat dari pemberian pelayanan Kristus menunjukkan bagaimana anak-anak tertarik kepada-Nya. Di situlah letak petunjuknya. Melihat ke dalam hati yang murni dan polos dari seorang anak yang membawa damai dapat menjadi ilham bagi hati kita. Berikut adalah bagaimana beberapa anak usia Pratama menanggapi pertanyaan, “Seperti apakah menjadi seorang pembawa damai itu?”

Saya bagikan tanggapan mereka langsung dari hati mereka! Luke berkata, “Selalu membantu orang lain.” Grace berbagi betapa pentingnya saling mengampuni, bahkan ketika hal itu terasa tidak adil. Anna berkata, “Saya melihat seseorang yang tidak punya teman untuk bermain, jadi saya pergi bermain dengannya.” Lindy merefleksikan bahwa menjadi pembawa damai berarti membantu orang lain. “Kemudian Anda meneruskannya. Itu akan terus berlanjut tanpa henti.” Liam berkata, “Jangan jahat kepada orang lain, meskipun mereka jahat kepadamu.” London menyerukan, “Jika ada yang mengolok-olok atau jahat kepadamu, katakan, ‘Tolong hentikan.’” Trevor mengamati, “Jika hanya tersisa satu donat dan kalian semua menginginkannya, kalian berbagi.”

Tanggapan anak-anak ini bagi saya adalah bukti bahwa kita semua dilahirkan dengan kecenderungan ilahi menuju kebaikan dan keibaan. Injil Yesus Kristus memelihara dan menjalin sifat-sifat ilahi ini, termasuk membawa damai, ke dalam hati kita, memberkati kita di kehidupan ini dan di kehidupan yang akan datang.

Membawa Damai di Rumah

Kedua, membangun sifat pembawa damai di rumah kita dengan menggunakan pola Tuhan untuk memengaruhi hubungan kita dengan satu sama lain: bujukan, kepanjangsabaran, kelemahlembutan, kebaikan hati, kelembutan hati, dan kasih yang tidak dibuat-buat.

Berikut adalah kisah mengilhami yang menunjukkan bagaimana satu keluarga menjadikan membawa damai sebagai urusan keluarga, dengan menerapkan asas-asas ini.

Anak-anak dalam keluarga ini kesulitan dalam hubungan mereka dengan seorang dewasa yang sikapnya sering marah, merendahkan, dan kasar. Anak-anak, yang tersakiti dan frustrasi, mulai bertanya-tanya apakah satu-satunya cara untuk maju adalah meniru perilaku kejam yang sama.

Suatu malam keluarga tersebut berbicara secara terbuka tentang ketegangan yang terjadi dan dampak yang ditimbulkannya. Kemudian muncul sebuah ide—bukan sekadar solusi, tetapi sebuah eksperimen.

Alih-alih menanggapi dengan diam atau balas dendam, anak-anak akan melakukan sesuatu yang tak terduga: mereka akan menanggapi dengan kebaikan. Bukan hanya pengekangan yang sopan, tetapi curahan kata-kata baik yang tulus dan tenang, serta perbuatan yang penuh pertimbangan, tanpa memandang bagaimana mereka diperlakukan sebagai balasannya. Semua setuju untuk mencobanya dalam jangka waktu tertentu, setelah itu mereka akan berkumpul kembali dan merefleksikan hasilnya.

Meskipun awalnya ada yang ragu-ragu, mereka berkomitmen pada rencana tersebut dengan hati yang tulus.

Apa yang terjadi selanjutnya sungguh luar biasa.

Suasana yang tegang mulai mencair. Senyuman menggantikan raut wajah cemberut. Orang dewasa yang dahulu jauh dan kasar mulai berubah. Anak-anak, yang didorong oleh pilihan mereka untuk menuntun dengan kasih, menemukan sukacita dalam transformasi tersebut. Perubahan tersebut begitu besar sehingga pertemuan tindak lanjut yang direncanakan tidak pernah diperlukan. Kebaikan hati telah bekerja dengan tenang.

Seiring waktu, ikatan pertemanan sejati terbentuk, mengangkat semangat semua orang. Untuk menjadi pembawa damai, kita mengampuni orang lain dan dengan sengaja membangun orang lain alih-alih menghancurkan mereka.

Membawa Damai dalam Komunitas Kita

Ketiga, membawa damai dalam komunitas kita. Di tahun-tahun sulit Perang Dunia II, Penatua John A. Widtsoe mengajarkan, “Satu-satunya cara untuk membangun komunitas yang damai adalah dengan membangun pria dan wanita yang pengasih dan pembawa damai. Setiap individu, melalui doktrin Kristus … menggenggam dalam tangannya sendiri kedamaian [seluruh] dunia.”

Kisah berikut dengan indah menggambarkan ajaran tersebut.

Beberapa tahun yang lalu, dua pria—seorang imam Muslim dan seorang pendeta Kristen dari Nigeria—berdiri di sisi yang berlawanan dari perpecahan agama yang menyakitkan. Masing-masing telah menderita dengan sangat dalam. Tetapi, melalui kuasa penyembuhan pengampunan, mereka memilih untuk berjalan di jalan yang sama.

Pendeta James Wuye dan Imam Muhammad Ashafa

Imam Muhammad Ashafa dan Pendeta James Wuye menjadi teman dan mitra yang mustahil terjadi tanpa upaya perdamaian. Bersama-sama mereka mendirikan pusat mediasi lintas agama. Mereka kini mengajari orang lain untuk menggantikan kebencian dengan harapan. Sebagai orang yang dua kali dinominasikan untuk Penghargaan Nobel Perdamaian, mereka baru-baru ini menjadi penerima perdana Commonwealth Peace Prize [Penghargaan Perdamaian Persemakmuran].

Mantan lawan ini kini berjalan berdampingan membangun kembali apa yang telah hancur, menjadi saksi hidup bahwa undangan Juruselamat untuk menjadi pembawa damai bukan hanya mungkin—tetapi juga penuh kuasa.

Ketika kita jadi mengenal kemuliaan Allah, maka kita “tidak akan memiliki pikiran untuk saling mencederai, tetapi untuk hidup dengan damai.” Dalam jemaat dan komunitas kita, marilah kita memilih untuk melihat satu sama lain sebagai anak-anak Allah.

Rencana Satu Minggu Pembawa Damai

Sebagai rangkuman, saya menyampaikan sebuah ajakan. Membawa damai membutuhkan tindakan—apa yang kita masing-masing bisa lakukan mulai besok? Maukah Anda mempertimbangkan rencana satu minggu, tiga langkah, pembawa damai?

  1. Zona rumah tanpa perselisihan: Ketika perselisihan mulai terjadi, berhentilah sejenak dan mulailah kembali dengan kata-kata dan perbuatan yang baik.

  2. Membangun jembatan digital: Sebelum mengeposkan, menjawab, atau berkomentar secara daring, tanyakan, Apakah ini akan membangun jembatan? Jika tidak, berhentilah. Jangan kirim. Alih-alih, bagikan kebaikan. Publikasikan kedamaian alih-alih kebencian.

  3. Perbaiki dan persatukan kembali: Setiap anggota keluarga dapat berupaya memperbaiki hubungan yang renggang dengan meminta maaf, memberi pelayanan, memperbaiki, dan mempersatukan kembali.

Penutup

Sudah beberapa bulan sejak saya merasakan kesan yang tak terbantahkan yang mengarah pada pesan ini, “Berbahagialah Orang yang Membawa Damai.” Sebagai penutup, izinkan saya berbagi kesan yang telah menggugah hati saya selama ini.

Membawa damai adalah atribut seperti Kristus. Pembawa damai terkadang dilabeli naif atau lemah—dari semua pihak. Namun, menjadi pembawa damai bukanlah untuk menjadi lemah melainkan untuk menjadi kuat dengan cara yang mungkin tidak dipahami oleh dunia. Membawa damai membutuhkan keberanian dan kompromi, tetapi tidak perlu mengorbankan asas. Membawa damai adalah memimpin dengan hati yang terbuka, bukan pikiran yang tertutup. Itu adalah mendekati satu sama lain dengan tangan terulur, bukan dengan tinju terkepal. Membawa damai bukanlah hal yang baru, baru diluncurkan. Itu diajarkan oleh Yesus Kristus sendiri, baik kepada mereka yang ada di Alkitab maupun Kitab Mormon. Membawa damai telah diajarkan oleh para nabi modern sejak awal masa Pemulihan hingga saat ini.

Kita memenuhi peran ilahi kita sebagai anak-anak Bapa Surgawi yang penuh kasih saat kita berusaha menjadi pembawa damai. Saya memberikan kesaksian tentang Yesus Kristus, yang adalah Raja Damai, Putra Allah yang hidup, dalam nama Yesus Kristus, amin.