Kesederhanaan dalam Kristus
Menerapkan doktrin Kristus dengan cara yang sederhana dan terfokus akan membantu kita menemukan sukacita dalam kehidupan sehari-hari kita.
1. Pengantar
Tiga puluh tiga tahun yang lalu, saya menerima pemanggilan untuk melayani sebagai misionaris di Misi Utah Ogden. Tentu saja, karena saya datang dari Eropa, beberapa tradisi lokal Utah seperti “green Jell-O with carrots” dan “funeral potatoes” sedikit ganjil bagi saya!
Namun, saya sangat terkesan dengan pengabdian dan kemuridan dari banyak Orang Suci, banyaknya orang yang menghadiri pertemuan Gereja, dan skala dari program-program Gereja yang berfungsi sepenuhnya. Ketika misi saya berakhir, saya ingin memastikan bahwa sukacita yang saya rasakan dan kekuatan rohani serta kedewasaan yang saya amati juga akan tersedia bagi keluarga saya di masa depan. Saya bertekad untuk segera kembali untuk menjalani kehidupan saya di bawah “bayang-bayang bukit-bukit yang berabad-abad.”
Namun, Tuhan memiliki rencana yang berbeda. Pada hari Minggu pertama saya di rumah, uskup saya yang bijaksana memanggil saya untuk melayani sebagai presiden Remaja Putra di lingkungan kami. Melayani kelompok remaja putra yang luar biasa ini, saya segera menyadari bahwa sukacita yang datang dari menjadi murid Kristus sedikit sekali berkaitan dengan ukuran pertemuan gereja atau skala program yang diadakan.
Jadi, ketika saya menikahi istri saya yang cantik, Margret, kami dengan penuh sukacita memutuskan untuk tinggal di Eropa dan membesarkan keluarga kami di negara asal kami, Jerman. Bersama-sama kami menyaksikan apa yang Presiden Russell M. Nelson ajarkan bertahun-tahun yang lalu, “Sukacita yang kita rasakan hanya sedikit berkaitan dengan keadaan hidup kita dan segalanya berkaitan dengan fokus hidup kita.” Ketika fokus kehidupan kita tertuju kepada Kristus dan pesan Injil-Nya, kita dapat mengalami berkat-berkat sepenuhnya dari kemuridan di mana pun kita tinggal.
2. Kesederhanaan yang Ada dalam Kristus
Namun, dalam dunia yang semakin sekuler, kompleks, dan membingungkan, dengan pesan dan tuntutan yang berbeda dan sering bertentangan, bagaimana kita dapat menghindari mata kita menjadi dibutakan dan hati kita menjadi dikeraskan, serta tetap berfokus pada “banyak bagian yang gamblang dan paling berharga” dari Injil Yesus Kristus? Selama masa kebingungan, Rasul Paulus memberikan nasihat yang sangat berharga kepada para Orang Suci di Korintus dengan mengingatkan mereka untuk berfokus pada “kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus.”
Doktrin Kristus dan hukum Injil begitu sederhana sehingga bahkan anak-anak kecil pun dapat memahaminya. Kita dapat mengakses kuasa penebusan Yesus Kristus dan menerima semua berkat rohani yang telah Bapa Surgawi persiapkan bagi kita dengan menjalankan iman kepada Yesus Kristus, bertobat, dibaptis, dipersucikan melalui karunia Roh Kudus, dan bertahan sampai akhir. Presiden Nelson menggambarkan perjalanan ini dengan begitu indah sebagai “jalan perjanjian” dan proses menjadi seorang “murid Yesus Kristus yang taat.”
Jika pesan ini begitu sederhana, mengapa sering kali terasa begitu menantang untuk hidup sesuai dengan hukum Kristus dan mengikuti teladan-Nya? Mungkin saja kita salah menafsirkan kesederhanaan sebagai sesuatu yang mudah dicapai tanpa usaha atau ketekunan. Mengikuti Kristus membutuhkan usaha yang terus-menerus dan perubahan yang berkelanjutan. Kita perlu “[menanggalkan] manusia alami dan [menjadi seperti] anak kecil.” Hal ini termasuk menaruh “[kepercayaan kita] kepada Tuhan” dan membiarkan kompleksitas berlalu, sama seperti yang dilakukan anak-anak kecil. Menerapkan doktrin Kristus dengan cara yang sederhana dan terfokus akan membantu kita menemukan sukacita dalam kehidupan sehari-hari kita, memberikan bimbingan dalam pemanggilan kita, menjawab beberapa pertanyaan paling kompleks dalam kehidupan, dan memberikan kekuatan untuk menghadapi tantangan terbesar kita.
Tetapi, bagaimana kita dapat menerapkan kesederhanaan ini secara praktis dalam perjalanan seumur hidup kita sebagai murid-murid Kristus? Presiden Nelson mengingatkan kita untuk berfokus pada “kebenaran murni, doktrin murni, dan wahyu murni” saat kita berusaha mengikuti Juruselamat. Bertanya secara teratur, “Apa yang akan Tuhan Yesus Kristus inginkan agar saya lakukan?,” mengungkapkan arahan yang mendalam. Mengikuti teladan-Nya memberikan jalan yang aman melalui ketidakpastian dan tangan yang penuh kasih dan membimbing untuk dipegang setiap harinya. Dia adalah Raja Damai dan Gembala yang Baik. Dia adalah Penghibur dan Penyelamat kita. Dia adalah Gunung Batu dan Tempat Perlindungan kita. Dia adalah teman—teman Anda dan teman saya! Dia mengundang kita semua untuk mengasihi Allah, menaati perintah-Nya, dan mengasihi sesama kita.
Sewaktu kita memilih untuk mengikuti teladan-Nya dan melangkah maju dengan iman kepada Kristus, menerima kuasa Pendamaian-Nya, dan mengingat perjanjian-perjanjian kita, kasih memenuhi hati kita, harapan dan penyembuhan mengangkat semangat kita, dan kepahitan serta kesedihan digantikan oleh rasa syukur dan kesabaran untuk menanti berkat-berkat yang dijanjikan. Terkadang, kita mungkin perlu menjauhkan diri dari situasi yang tidak sehat atau mencari bantuan profesional. Namun, dalam setiap kasus, menerapkan asas-asas Injil yang sederhana akan membantu kita menghadapi tantangan-tantangan kehidupan dengan cara Tuhan.
Kita terkadang meremehkan kekuatan yang kita terima dari tindakan-tindakan sederhana seperti berdoa, berpuasa, penelaahan tulisan suci, pertobatan harian, mengambil sakramen setiap minggu, dan peribadatan reguler di rumah Tuhan. Tetapi ketika kita menyadari bahwa kita tidak perlu “melakukan hal yang sukar” dan kita memusatkan diri untuk menerapkan doktrin yang murni dan sederhana, kita mulai melihat bagaimana Injil “bekerja secara luar biasa” bagi kita, bahkan dalam keadaan yang paling sulit. Kita menemukan kekuatan dan “rasa percaya di hadirat Allah,” bahkan ketika kita mengalami kepedihan. Penatua M. Russell Ballard telah mengingatkan kita berulang kali, “Dalam kesederhanaan itulah [kita] akan menemukan … kedamaian, sukacita, dan kebahagiaan.”
Menerapkan kesederhanaan yang ada dalam Kristus membuat kita memprioritaskan orang di atas proses dan hubungan kekal di atas perilaku jangka pendek. Kita berfokus pada “apa yang paling penting” dalam pekerjaan keselamatan dan permuliaan Allah, alih-alih terjebak dalam mengelola pemberian pelayanan kita. Kita membebaskan diri untuk memprioritaskan hal-hal yang dapat kita lakukan daripada terbebani oleh hal-hal yang tidak dapat kita lakukan. Tuhan mengingatkan kita, “Karenanya, janganlah letih dalam melakukan yang baik, karena kamu sedang meletakkan landasan suatu pekerjaan besar. Dan dari hal-hal yang kecil mulailah apa yang besar.” Betapa kuatnya dorongan untuk bertindak dengan kesederhanaan dan kerendahhatian, apa pun keadaan kita.
3. Oma Cziesla
Nenek saya, Marta Cziesla, adalah contoh yang luar biasa dalam melakukan “apa yang kecil dan sederhana” untuk mewujudkan hal-hal besar. Kami dengan penuh kasih memanggilnya Oma Cziesla. Oma menerima Injil di desa kecil Selbongen di Prusia Timur bersama dengan nenek buyut saya pada tanggal 30 Mei 1926.
Marta Cziesla (kanan) pada hari pembaptisannya.
Dia mengasihi Tuhan dan Injil-Nya, serta bertekad untuk menepati perjanjian-perjanjian yang telah dia buat. Pada tahun 1930, dia menikah dengan kakek saya, yang bukan anggota Gereja. Pada saat itu, menjadi mustahil bagi Oma untuk menghadiri pertemuan Gereja karena lahan pertanian kakek saya sangat jauh dari jemaat terdekat. Tetapi dia berfokus pada apa yang bisa dia lakukan. Oma terus berdoa, membaca tulisan suci, dan menyanyikan lagu-lagu Sion.
Beberapa orang mungkin berpikir bahwa dia sudah tidak aktif lagi dalam agamanya, tetapi kenyataannya tidak seperti itu. Ketika bibi dan ayah saya lahir, tanpa adanya imamat di rumah dan tanpa pertemuan gereja atau akses ke tata cara-tata cara di sekitar, dia kembali melakukan apa yang bisa dia lakukan dan berfokus mengajari anak-anaknya “untuk berdoa, dan untuk berjalan dengan lurus di hadapan Tuhan.” Dia membacakan kepada mereka dari tulisan suci, bernyanyi bersama mereka lagu-lagu Sion, dan tentu saja berdoa bersama mereka—setiap hari. Pengalaman Gereja yang 100% berpusat di rumah.
Pada tahun 1945, kakek saya bertugas dalam perang jauh dari rumah. Ketika musuh mendekati pertanian mereka, Oma membawa kedua anak kecilnya dan meninggalkan pertanian mereka yang tercinta untuk mencari perlindungan di tempat yang lebih aman. Setelah perjalanan yang sulit dan mengancam nyawa, mereka akhirnya menemukan tempat berlindung pada bulan Mei 1945 di bagian utara Jerman. Mereka tidak punya apa-apa lagi kecuali pakaian yang mereka kenakan. Tetapi Oma terus melakukan apa yang bisa dia lakukan: dia berdoa bersama anak-anaknya—setiap hari. Dia menyanyikan bersama mereka lagu-lagu Sion yang telah dia hafalkan di luar kepala—setiap hari
Hidup sangatlah sulit dan selama bertahun-tahun fokusnya hanya untuk memastikan tersedianya makanan di meja. Tetapi pada tahun 1955, ayah saya, yang saat itu berusia 17 tahun, akan masuk sekolah kejuruan di kota Rendsburg. Dia berjalan melewati sebuah bangunan dan melihat tanda kecil di bagian luar yang bertuliskan “Kirche Jesu Christi der Heiligen der Letzten Tage”—“Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir.” Dia berpikir, “Itu menarik; ini adalah gereja Ibu.” Jadi ketika dia pulang ke rumah, dia memberi tahu Oma bahwa dia telah menemukan gerejanya.
Anda bisa membayangkan bagaimana perasaannya setelah hampir 25 tahun tidak ada kontak dengan Gereja. Dia bertekad untuk menghadiri kebaktian pada hari Minggu berikutnya dan meyakinkan ayah saya untuk menemaninya. Rendsburg berjarak lebih dari 20 mil (32 km) dari desa kecil tempat mereka tinggal. Tetapi ini tidak akan menghalangi Oma untuk pergi ke gereja. Hari Minggu berikutnya, dia naik sepeda bersama ayah saya dan pergi ke gereja.
Ketika pertemuan sakramen dimulai, ayah saya duduk di baris terakhir, berharap pertemuan akan segera berakhir. Ini adalah gereja Oma, bukan gerejanya. Apa yang dia lihat tidak terlalu menggembirakan: hanya beberapa wanita tua yang hadir dan dua misionaris muda yang secara efektif memimpin semuanya dalam pertemuan tersebut. Tetapi kemudian mereka mulai bernyanyi, dan mereka menyanyikan lagu-lagu Sion yang telah ayah saya dengar sejak dia masih kecil: “Mari, Mari Orang-Orang Suci,” “O Bapaku,” “Puji Dia yang Tinggal dengan Yehova.” Mendengar jemaat kecil ini menyanyikan lagu-lagu Sion yang telah dia kenal sejak masa kanak-kanak menusuk hatinya, dan dia langsung tahu tanpa ragu bahwa Gereja itu benar.
Pertemuan sakramen pertama yang dihadiri oleh nenek saya setelah 25 tahun adalah pertemuan di mana ayah saya menerima peneguhan pribadi tentang kebenaran Injil Yesus Kristus yang dipulihkan. Dia dibaptis tiga minggu kemudian, pada tanggal 25 September 1955, bersama dengan kakek saya dan bibi saya.
Sudah lebih dari 70 tahun berlalu sejak pertemuan sakramen kecil di Rendsburg. Saya sering memikirkan Oma, bagaimana perasaannya di malam-malam sunyi sepi itu, melakukan hal-hal kecil dan sederhana yang bisa dilakukannya, seperti berdoa, membaca, dan bernyanyi. Saat saya berdiri di sini hari ini dalam konferensi umum dan berbicara tentang Oma saya, tekadnya untuk menepati perjanjian-perjanjian dan kepercayaannya kepada Tuhan meskipun menghadapi berbagai kesulitan, membuat hati saya dipenuhi dengan kerendahhatian dan rasa syukur—bukan hanya untuknya, tetapi juga untuk begitu banyak orang suci yang luar biasa di seluruh dunia yang berfokus pada kesederhanaan di dalam Kristus dalam keadaan mereka yang penuh tantangan, mungkin saat ini melihat sedikit perubahan, tetapi percaya bahwa hal-hal besar akan terjadi suatu hari di masa depan.
4. Hal-Hal Kecil dan Sederhana
Saya telah belajar melalui pengalaman pribadi saya sendiri bahwa hal-hal kecil dan sederhana dalam Injil, serta fokus yang setia kepada Kristus, membawa kita pada sukacita sejati, mendatangkan mukjizat yang besar, dan memberikan keyakinan bahwa semua berkat yang dijanjikan akan terwujud. Hal ini benar bagi Anda sama seperti halnya bagi saya. Seperti yang dikatakan oleh Penatua Jeffrey R. Holland, “Beberapa berkat datang segera, beberapa datang terlambat, dan beberapa tidak datang sampai surga; tetapi bagi mereka yang memeluk Injil Yesus Kristus, berkat-berkat itu datang.” Mengenai hal ini saya juga bersaksi dalam nama Yesus Kristus, amin.