Konferensi Umum
Jiwa yang Rendah Hati Berlutut di Altar
Konferensi umum Oktober 2025


11:24

Jiwa yang Rendah Hati Berlutut di Altar

Sewaktu kita membuat dan menghormati perjanjian-perjanjian kita, kita mengikatkan diri kepada Juruselamat, memperoleh akses yang lebih besar pada belas kasihan, perlindungan, pengudusan, penyembuhan, dan peristirahatan-Nya.

Terima kasih, paduan suara, atas kesaksian Anda melalui nyanyian pujian baru itu.

Nyanyian pujian sakramen baru “Bread of Life, Living Water [Roti Kehidupan, Air Hidup]” mengisi jiwa saya. Salah satu baris dalam nyanyian pujian tersebut berbunyi, “Sekarang aku datang ke hadapan altar, mempersembahkan kepada-Nya hati yang hancur.”

Pemahaman saya tentang kata-kata itu semakin mendalam tak lama setelah keluarga kami meninggalkan Newbury Park, California, untuk melayani di Misi Utah Ogden pada tahun 2015. Saya menerima undangan untuk mengunjungi Pangkalan Angkatan Udara Hill dekat Layton, Utah. Saya belum pernah mengunjungi pangkalan militer, juga belum pernah bertemu dengan rohaniwan militer atau pria dan wanita yang bekerja untuk menyediakan keamanan dan perlindungan bagi negara mereka.

Rohaniwan Harp, seperti ribuan rohaniwan sukarela dan profesional lainnya yang melayani di penjara, rumah sakit, dan fasilitas militer kita di seluruh dunia, mengilhami dan meneguhkan saya. Tujuan terakhir kami di pangkalan adalah tempat ibadat. Saya bertanya kepada rohaniwan tersebut apakah dia melakukan pelayanan bagi semua orang yang ingin merenung, berdoa, bermeditasi, dan beribadat. Dia pergi ke dinding depan kapel dan dia mengeluarkan salib dari balik tirai. Dia mengatakan bahwa dia menggunakan salib untuk kebaktian Protestan dan Katolik. Saya bertanya apa yang dia gunakan untuk saudara dan saudari Yahudi kita, dan dia pergi ke sisi lain dinding depan dan dia mengeluarkan Bintang Daud.

Kemudian saya bertanya, “Apa yang Anda lakukan untuk kebaktian Orang-Orang Suci Zaman Akhir?” Dia menyingkirkan simbol-simbol itu dan menunjuk ke altar kayu besar di tengah-tengah tempat ibadat. Dia mengatakan bahwa anggota Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir mempersiapkan dan memberkati roti dan air di altar. Saya bertanya apakah altar besar yang tampaknya permanen itu dipindahkan sebelum kebaktian bagi saudara dan saudari kita yang beragama Yahudi, Islam, Katolik, atau Protestan. Dia mengatakan bahwa altar tetap berada di tempatnya, karena beberapa dari agama tersebut juga menggunakan altar dengan cara tertentu.

Abraham membangun altar, mengikat Ishak, dan siap untuk mengurbankan anak tunggalnya, tetapi tangannya ditahan, dan dia menyatakan, seperti yang telah Tuhan nyatakan, “Ya, Tuhan”! Berapa kali Yang Mahabesar atau salah seorang nabi-Nya menyatakan dengan sukarela, “Ya, Tuhan”?

Selama Khotbah-Nya di Bukit, Juruselamat mengundang kita untuk berdamai dengan saudara dan saudari kita sebelum kita mendekati altar. Paulus mengajarkan bahwa kita “dikuduskan” di altar melalui Pendamaian Yesus Kristus.

Nabi Lehi “meninggalkan rumahnya … dan benda berharganya …. [Lalu] dia membangun sebuah altar …⁠ dan membuat persembahan …, dan berterima kasih kepada Tuhan.”

Alkitab dan Kitab Mormon mengajarkan kita untuk beribadat kepada Anak Allah di altar. Mengapa?

Orang tua pertama kita, Adam dan Hawa, membangun dan beribadat di altar. Setelah mereka diusir dari Taman Eden dan beribadat selama “berhari-hari,” seorang malaikat datang dan mengajukan pertanyaan mendalam yang dapat diajukan kepada kita masing-masing: “Mengapa engkau mempersembahkan kurban bagi Tuhan?”

Adam menjawab, “Aku tidak tahu.”

Tanggapan malaikat terhadap pengakuan rendah hati Adam sungguh mengagumkan: “Hal ini adalah suatu kemiripan dari pengurbanan Anak Tunggal Bapa .… Karenanya, engkau akan melakukan semua yang engkau lakukan dalam nama Putra, dan engkau akan bertobat dan berseru kepada Allah dalam nama Putra sepanjang masa.”

Meja sakramen dan altar bait suci melambangkan pengurbanan Yesus Kristus dan Pendamaian-Nya yang tak terbatas.

Sewaktu kita membuat dan menghormati perjanjian-perjanjian kita, menerima tata cara sakramen di gereja dan pemberkahan, serta pemeteraian di bait suci, kita mengikatkan diri kepada Juruselamat, memperoleh akses yang lebih besar pada belas kasihan, perlindungan, pengudusan, penyembuhan, dan peristirahatan-Nya.

Belas Kasihan dan Perlindungan Melalui Perjanjian

Sebagai seorang pemuda berusia 15 tahun, saya bertanya kepada ayah saya apakah saya boleh melewatkan pertemuan sakramen—hanya satu hari Minggu di bulan Januari untuk pertandingan sepak bola Amerika yang spesial. Dia mengatakan bahwa saya sudah cukup dewasa untuk membuat pilihan itu sendiri dan meminta saya untuk mempertimbangkan satu nasihat. Dia berkata, “Jika kamu memilih untuk melewatkan sakramen sekali, akan lebih mudah untuk memilih melewatkannya lagi.”

Jika Juruselamat adalah penghubung yang agung, maka lawan adalah pemisahnya. Setan menggoda kita untuk menjauhkan diri dari tempat-tempat ibadat yang dikuduskan dan dari perlindungan Yesus Kristus. Ketika kita beribadat kepada Juruselamat, kita menerima “kuasa untuk melawan arus duniawi yang alami.” Ketika kita meluangkan waktu dalam persekutuan dengan-Nya, kita memiliki janji untuk “dibebaskan dari Setan.” “Kemudian, sewaktu kita menepati perjanjian kita, Dia memberkahi kita dengan kuasa … penguatan-Nya.” Ah, betapa saya menghargai pengalaman bersekutu dengan Juruselamat melalui perjanjian-perjanjian yang dibuat di altar suci.

Membangun pemahaman tentang Pendamaian kekal Juruselamat baris demi baris, ajaran demi ajaran, memberikan perlindungan rohani terhadap tipu daya lawan. Elder Jaggi muda di Meksiko, Sister Jaggi di Belgia, dan misionaris lainnya di seluruh dunia akan lebih mungkin melihat teman-teman mereka memperoleh berkat pembaptisan dan menerima karunia Roh Kudus jika teman-teman mereka menghadiri pertemuan sakramen dalam minggu pertama setelah kontak.

Seorang dewasa muda di Tonga atau Samoa akan lebih mungkin untuk dimeteraikan di rumah Tuhan jika mereka telah mempersiapkan diri dan menerima pemberkahan mereka segera setelah lulus dari sekolah. Dalam pemberkahan, para anggota diundang untuk mengamalkan, mematuhi, dan menaati lima hukum yang memberikan kuasa dan perlindungan. Sewaktu kita membuat perjanjian dengan Tuhan, hubungan timbal balik terbentuk. Kita menunjukkan kesetiaan dan kasih kita kepada-Nya. Kekuatan dan kuasa kita tumbuh setiap kali janji dibuat dan ditepati.

Perenungan dan Pengudusan

Ketika kita dengan rendah hati dan secara simbolis berlutut di altar Tuhan, itu adalah kesempatan untuk perenungan, “terkendali sehubungan dengan kesombongan hati [kita], … [merendahkan hati kita] di hadapan Allah.” Sebelum pergi keluar bersama teman-teman saya di masa remaja, ibu saya sering berkata, “Ingatlah siapa dirimu, dan lapor saat kamu sampai di rumah.” Beberapa malam, saya tidak melapor karena saya pulang terlalu larut. Saya menyesal melewatkan kunjungan-kunjungan penting itu dengan Ibu.

Di masa sekarang, saya menanti-nantikan waktu untuk melapor kepada Bapa Surgawi. Dalam pola harian dari ibadat pribadi saya, saya berlutut dalam doa, di samping tempat tidur saya atau berkumpul bersama keluarga, dan saya membayangkan diri saya berlutut di altar, merenungkan dan mengevaluasi kehidupan saya. Saya memikirkan tentang sakramen, bahkan seluruh potongan roti, yang disobek dan dipecah-pecahkan untuk kita, masing-masing merupakan simbol tubuh yang remuk Juruselamat kita. Saya diingatkan akan ajaran Presiden Dallin H. Oaks bahwa “setiap potong roti itu unik, sama seperti individu-individu yang memakannya juga unik.” Ketika saya berlutut dalam doa, saya memikirkan bagaimana saya dapat menyerahkan kehendak saya kepada Allah.

Penatua David A. Bednar mengajarkan bahwa “tata cara sakramen adalah undangan yang kudus dan diulang untuk bertobat secara tulus dan untuk diperbarui secara rohani. Tindakan mengambil sakramen, dalam dan darinya sendiri, tidak mengampuni dosa-dosa. Tetapi sewaktu kita bersiap dengan sungguh-sungguh dan berperan serta dalam tata cara kudus ini dengan hati yang hancur dan roh yang menyesal, maka janjinya adalah bahwa kita dapat selalu memiliki Roh Tuhan bersama kita. Dengan kuasa yang menguduskan dari Roh Kudus sebagai rekan konstan kita, kita dapat selalu mempertahankan pengampunan akan dosa-dosa kita.”

Ketika Amy dan saya merenungkan pengalaman hidup kami dengan saksama, kami merayakan karunia kasih dan pengurbanan Yesus Kristus yang sempurna. Kami juga melihat bagaimana murka neraka telah dilepaskan. Bagaimanakah kita dapat mengatasi pandangan menghakimi, kecemasan, depresi, kanker, diabetes, perundungan daring, pencurian identitas, keguguran, kehilangan seorang anak, saudara laki-laki, dan ayah? Karena Yesus telah meneguk cawan pahit ketakutan, cawan amarah—untuk saya, untuk keluarga saya, untuk kita semua!

Juruselamat di Getsemani

Gethsemane, oleh Adam Abram, seizin altusfineart.com © 2025

“Cawan yang pahit” Dia minum di Taman Getsemani dan penderitaan-Nya “meningkat” di kayu salib di Kalvari memungkinkan kita untuk meletakkan yang keras hati, yang sombong, yang penuh kekerasan, yang marah, dan yang gemetar di atas altar Tuhan dan menjadi “dikuduskan oleh penerimaan Roh Kudus,” selalu.

Sister Patricia Holland mengatakan, “Doa saya yang terdalam untuk Anda dan untuk diri saya sendiri hari ini adalah agar kita menyerahkan diri sepenuhnya, meletakkan diri kita di altar janji dan kedamaian Allah, di mana pun kita berada dan apa pun yang telah kita lakukan.”

Tempat Penyembuhan dan Peristirahatan

Ketika kita datang ke altar, kita tidak sedang berusaha mendapatkan imbalan; kita sedang belajar tentang Pemberi Karunia. Dalam ikatan pemelajaran dan perjanjian itu terdapat penyembuhan. Nefi berkata, “Dia telah memenuhiku dengan kasih-Nya, bahkan sampai dilalapnya dagingku.” Juruselamat kita yang penuh kasih telah mengundang, “Apakah kamu tidak akan sekarang kembali kepada-Ku, dan bertobat dari dosa-dosamu, dan diinsafkan, agar Aku boleh menyembuhkanmu?”

Ketika dua putri tertua kami, Mackenzie dan Emma, masih kecil, salah satu cerita favorit mereka adalah The Chronicles of Narnia: The Lion, the Witch and the Wardrobe [Hikayat Narnia: Singa, Penyihir, dan Lemari Pakaian]. Kami semua jatuh cinta pada singa itu, Aslan. Salah satu malam paling berkesan saat kami membaca buku itu adalah ketika singa besar itu mengorbankan nyawanya demi Edmund. Berkesan karena orang tua dan anak perempuan menangis saat nyawa singa direnggut oleh Penyihir di Meja Batu. Berkesan karena harapan tetap ada, meskipun ada tragedi, hingga hal yang luar biasa terjadi. Teriakan sukacita menggema di kamar tidur kecil itu ketika Aslan bangkit kembali dan berkata, “Jika [Penyihir tahu arti sesungguhnya dari pengorbanan], … dia akan [tahu] bahwa [jika] seorang korban yang rela dan tidak pernah berkhianat [mati] menggantikan seorang pengkhianat, Meja [Batu] akan retak, dan kematian itu sendiri akan [mulai berbalik].”

Yesus Kristus menyembuhkan semua luka. Yesus Kristus membuat hidup kembali menjadi mungkin.

Dalam ceramahnya pada konferensi umum Oktober 2022, Presiden Russell M. Nelson menggambarkan sebuah rombongan tur yang mengunjungi acara gelar griya di sebuah bait suci. Seorang anak laki-laki muda ada di sana. Presiden Nelson mengajarkan,

“Ketika rombongan tur memasuki ruang pemberkahan, anak lelaki itu menunjuk ke altar, di mana orang-orang berlutut untuk membuat perjanjian dengan Allah, dan berkata, ‘Oh, itu bagus. Ini adalah tempat bagi orang-orang untuk beristirahat dalam perjalanan bait suci mereka.’

Dia mungkin tidak tahu tentang hubungan langsung antara membuat perjanjian dengan Allah di bait suci dan janji menakjubkan Juruselamat:

‘Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku; … dan jiwamu akan mendapat ketenangan.

‘Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan’ [Matius 11:28–30; penekanan ditambahkan].”

“Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya,” namun, Dia mengundang para murid-Nya, Anda dan saya ke meja sakramen untuk beristirahat bersama-Nya di sana. Ketika “jiwa-jiwa yang rendah hati berlutut di altar,” kedamaian tercipta. Tangan Juruselamat kita terulur; meja-Nya telah disiapkan. Marilah beribadat kepada Anak Allah di altar suci-Nya. Dalam nama Yesus Kristus, amin.