“Tuhan telah menetapkan keluarga untuk menjadi unit dasar Gereja dan masyarakat.” Keluarga dapat terdiri dari suami dan istri dengan anak-anak, dan bisa juga terdiri dari orang lajang, orang tua tunggal dan anak-anak, atau suami dan istri tanpa anak. Terkadang keluarga ini dapat mencakup kerabat lainnya. Terlepas dari status pernikahan atau keadaan pribadi kita, kita masing-masing adalah bagian dari keluarga Allah, kita masing-masing adalah anggota dari sebuah keluarga fana, dan kita masing-masing bersiap untuk menjadi orang tua kekal.
Selama ribuan tahun, para nabi dan rasul telah mempermaklumkan kesakralan keluarga dan memperingatkan bencana yang akan menimpa individu, bangsa, dan dunia jika keluarga tidak dipelihara dan dilindungi. Berikut adalah beberapa perkataan terilhami dari para nabi dan rasul mengenai keluarga serta pentingnya “Keluarga: Pernyataan kepada Dunia.”
Keluarga Merupakan Inti dalam Rencana Allah
Presiden Russell M. Nelson
Presiden Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir
“Yang sangat penting dalam rencana Allah adalah keluarga. Kenyataannya, sebuah tujuan dari rencana itu adalah untuk mempermuliakan keluarga. Bumi diciptakan agar kita sebagai anak-anak roh prafana Bapa kita di Surga dapat datang ke bumi dan memperoleh tubuh jasmani. Kita berada di sini untuk dicobai dan diuji [lihat Abraham 3:24–25 ]. Kita berada di sini untuk ‘memilih kemerdekaan dan kehidupan kekal … atau memilih penawanan dan kematian’ [2 Nefi 2:27 ]. Yang terbaik dari semuanya, kita diperkenankan untuk jatuh cinta, menikah, dan mengundang anak-anak ke dalam keluarga kita” (“Faith and Families ,” Ensign , Maret 2007, 39).
“Mereka yang tidak sepenuhnya memahami rencana penuh kasih Bapa bagi anak-anak-Nya mungkin menganggap pernyataan keluarga ini tidak lebih daripada suatu pernyataan kebijakan yang dapat diubah. Sebaliknya, kami menegaskan bahwa pernyataan keluarga, yang berlandaskan doktrin yang tak dapat dibatalkan, mendefinisikan jenis hubungan keluarga di mana bagian terpenting dari perkembangan kekal kita dapat terjadi” (“Kasih Ilahi dalam Rencana Bapa ,” Liahona , Mei 2022, 103).
Kehidupan Keluarga dalam Kefanaan Mempersiapkan Kita bagi Kekekalan
Presiden Henry B. Eyring
Penasihat Kedua dalam Presidensi Utama
“Unit keluarga tidak hanya fundamental bagi masyarakat dan Gereja, tetapi juga bagi harapan kita akan kehidupan kekal. Kita mulai mempraktikkan di dalam keluarga, unit yang lebih kecil, apa yang akan menyebar ke Gereja dan ke masyarakat tempat kita hidup di dunia ini dan apa yang kemudian akan menjadi apa yang kita praktikkan di dalam keluarga-keluarga yang diikat bersama selamanya oleh perjanjian-perjanjian dan kesetiaan” (“The Family ” [kebaktian Brigham Young University, 5 November 1995], 8, speeches.byu.edu).
Keintiman Fisik Dicadangkan untuk Pernikahan
Presiden Jeffrey R. Holland
Penjabat Presiden Kuorum Dua Belas Rasul
“Keintiman manusia diperuntukkan bagi pasangan yang sudah menikah karena itu adalah simbol utama dari persatuan total, totalitas dan persatuan yang ditahbiskan dan ditetapkan oleh Allah. Sejak Taman Eden dan seterusnya, pernikahan dimaksudkan untuk berarti penggabungan yang utuh dari seorang pria dan seorang wanita—hati, harapan, kehidupan, kasih, keluarga, masa depan mereka, segalanya. Ini merupakan kesatuan yang sedemikian utuhnya sehingga kita menggunakan kata meterai untuk menyiratkan janji kekalnya” (“Personal Purity ,” Ensign , November 1998, 76; Liahona , Januari 1999, 91).
Juruselamat Dapat Menyembuhkan Hubungan Orang Tua Anak
Penatua Dieter F. Uchtdorf
Dari Kuorum Dua Belas Rasul
“Kasih orang tua bagi seorang anak adalah salah satu kekuatan paling kuat di alam semesta. Itu adalah salah satu di antara beberapa hal di bumi yang benar-benar dapat menjadi kekal.
“Nah, mungkin Anda merasa bahwa hubungan Anda dengan anak Anda kurang ideal. Tepat di sanalah kuasa Juruselamat masuk. Dia menyembuhkan yang sakit, dan Dia dapat menyembuhkan hubungan. Dia menggandakan roti dan ikan, dan Dia dapat menggandakan kasih dan sukacita di rumah Anda” (“Yesus Kristus Adalah Kekuatan Orang Tua ,” Liahona , Mei 2023, 56).
Memperkuat Hubungan Keluarga, Bahkan Ketika Beberapa Mungkin Terputus
Penatua David A. Bednar
Dari Kuorum Dua Belas Rasul
Bagi Anda [dewasa muda] yang telah mengalami kepiluan karena perceraian dalam keluarga Anda atau merasakan kepedihan dari kepercayaan yang dilanggar, mohon ingatlah itu dimulai kembali dengan Anda! Satu mata rantai dalam rantai generasi Anda mungkin telah terputus, tetapi mata rantai saleh lainnya dan apa yang tersisa dari rantai tersebut tetaplah penting secara kekal. Anda dapat menambahkan kekuatan pada rantai Anda dan mungkin bahkan membantu memulihkan mata rantai yang terputus. Pekerjaan itu akan dirampungkan satu demi satu” (“Mata Rantai Penyatu ” [kebaktian sedunia untuk dewasa muda, 10 September 2017], Perpustakaan Injil).
“Para wanita dan pria memiliki peranan yang unik sebagaimana dijelaskan dalam ‘Keluarga: Pernyataan kepada Dunia,’ namun pengasuhan mereka adalah setara dalam nilai dan kepentingannya. Mereka memiliki kuasa yang setara untuk menerima wahyu bagi keluarga mereka. Ketika mereka bekerja bersama dalam kasih dan kebenaran, keputusan mereka diberkati secara ilahi” (“Kasih yang Besar bagi Anak-Anak Bapa Kita ,” Liahona , Mei 2019, 79).
Orang Tua Hendaknya Menuntun Anak-Anak pada Pengharapan di Dalam Kristus
Penatua D. Todd Christofferson
Dari Kuorum Dua Belas Rasul
“Allah menetapkan bahwa pria dan wanita hendaknya menikah dan melahirkan anak-anak, dengan demikian menciptakan, dalam kemitraan dengan Allah, tubuh jasmani yang menjadi kunci bagi ujian kefanaan dan penting bagi kemuliaan kekal bersama-Nya. Dia juga menetapkan bahwa orang tua hendaknya mendirikan keluarga dan membesarkan anak-anak mereka dalam terang dan kebenaran [lihat Ajaran dan Perjanjian 93:36–40 ], menuntun mereka pada suatu pengharapan kepada Kristus” (“Mengapa Pernikahan, Mengapa Keluarga ,” Liahona , Mei 2015, 51).
“Jika kita mengambil dan memilih apa yang kita terima dalam pernyataan itu, kita mengaburkan pandangan kekal, menempatkan terlalu banyak kepentingan pada pengalaman kita di sini dan saat ini. Dengan merenungkan pernyataan itu secara sungguh-sungguh melalui mata iman, kita memahami dengan lebih baik bagaimana asas-asas tersebut secara indah terkait, saling mendukung, mengungkapkan rencana Allah kita bagi anak-anak-Nya” (“Mata Iman ,” Liahona , Mei 2019, 35–36).