“Allah Berbicara kepada Para Orang Suci Masa Awal—Apakah Dia Berbicara kepada Saya?,” Liahona, Maret 2024.
Dewasa Muda
Allah Berbicara kepada Para Orang Suci Masa Awal—Apakah Dia Berbicara kepada Saya?
Dia berbicara kepada mereka. Dia akan berbicara kepada kita. Kita hanya perlu mendengarkan Dia.
Seberkas tiang cahaya Suara dari surga. Wahyu dari Allah. Ada banyak kisah tentang dewasa muda seperti Joseph Smith dan yang lainnya dalam Ajaran dan Perjanjian yang meminta bantuan dan bimbingan kepada Allah. Sementara menerima wahyu dari Allah adalah pengalaman pribadi, prosesnya dicatat berulang kali dalam tulisan suci.
Meskipun kita mungkin tidak berinteraksi setiap hari dengan nabi atau menerima wahyu bagi Gereja, Allah dapat berbicara kepada kita dengan cara yang sama seperti yang Dia lakukan 200 tahun lalu. Para Orang Suci ini menerima pesan-pesan pribadi dari Allah—dan kita pun bisa.
Doa Rendah Hati Joseph
Itu dimulai dengan sebuah pertanyaan. Dan itu menjadi apa yang Penatua Alexander Dushku dari Tujuh Puluh gambarkan sebagai “pancaran terang dan kebenaran yang luar biasa.” Doa rendah hati Joseph Smith menuntun pada sebuah kunjungan yang indah dari Bapa Surgawi dan Yesus Kristus (lihat Joseph Smith—Sejarah 1:14–17). Sama luar biasanya untuk berbicara dengan Allah berhadapan muka, pengalaman ini langka dan sakral.
Sementara tidak semua dari kita akan memiliki kesempatan yang sama seperti yang Joseph miliki, “kita juga bisa memiliki tiang cahaya kita sendiri—seberkas cahaya demi seberkas cahaya.” Ketika kita mengajukan pertanyaan dan berlutut dalam doa yang rendah hati, kita akan menerima jawaban dari Allah melalui Roh Kudus.
Foto kolam pembaptisan di Bait Suci Ogden Utah
Kuasa Bait Suci
Para Orang Suci di Kirtland, Ohio, mengorbankan waktu, uang, dan tenaga untuk membangun rumah Tuhan. Saat pendedikasian Bait Suci Kirtland, Joseph Smith berdoa agar Allah akan memberkati Orang-Orang Suci yang setia ini dengan kuasa sewaktu mereka masuk dan beribadat (lihat Ajaran dan Perjanjian 109:13). Bait suci akan menjadi “rumah doa, rumah puasa, rumah iman, rumah kemuliaan dan Allah” (Ajaran dan Perjanjian 109:16).
Di zaman akhir, kita diberkati dengan bait suci-bait suci di seluruh dunia. Kita dijanjikan bahwa kita akan menerima wahyu sewaktu kita menghadiri bait suci. Presiden Russell M. Nelson baru-baru ini mengatakan bahwa “di bait suci kita dapat ‘menerima kegenapan Roh Kudus’ [Ajaran dan Perjanjian 109:15]. Bayangkan apa arti janji itu dalam hal dibukakannya langit bagi setiap pencari kebenaran kekal yang sungguh-sungguh.”
Pertanyaan Hyrum kepada Nabi
Pernahkah Anda bertanya-tanya seperti apa rasanya meminta nabi untuk berbicara kepada Allah bagi Anda? Hyrum, saudara lelaki Nabi Joseph, melakukan hal itu. Dia menerima nasihat ini dari Tuhan melalui Joseph, “Lihatlah engkau adalah Hyrum, putra-Ku; carilah kerajaan Allah, dan segala sesuatu akan ditambahkan menurut apa yang adil” (Ajaran dan Perjanjian 11:23).
Terkadang, bimbingan memang datang melalui orang lain. Presiden Russell M. Nelson menasihati kita untuk “[meng]upayakan bimbingan dari suara-suara yang dapat Anda percayai—dari para nabi, pelihat, dan pewahyu serta dari bisikan Roh Kudus.” Sementara kita semua tidak dapat mengajukan pertanyaan kita kepada nabi secara langsung, kita masih dapat menerima jawaban atas pertanyaan-pertanyaan pribadi kita.
Potret Oliver Cowdery, oleh Lewis A. Ramsey
Penelaahan Iman Oliver
Oliver Cowdery merupakan bantuan yang tak ternilai bagi Joseph selama penerjemahan Kitab Mormon. Tetapi pada tahun 1829, dia merasa frustrasi. Mengapa dia tidak bisa menerjemahkan? Tuhan memberi Oliver beberapa nasihat spesifik mengenai cara mendapatkan jawaban terhadap pertanyaannya—nasihat yang masih berlaku bagi kita saat ini.
Ketika kita memiliki pertanyaan, kita diimbau untuk menelaahnya, memiliki iman, dan bersandar pada kesan (lihat Ajaran dan Perjanjian 9:6–9). Kesan kita dapat datang dalam bentuk emosi, perasaan hangat, atau ketenangan pikiran. Seperti yang Penatua Mathias Held dari Tujuh Puluh katakan, “Ketika [penalaran logis dan ilham dari Roh Kudus] kemudian dipadukan dalam jiwa kita, satu gambaran lengkap menunjukkan kenyataan akan hal-hal sebagaimana adanya.”
Foto oleh Craig Alan Shelley
Berkat Bapa Bangsa Keluarga Smith
Berkat bapa bangsa telah menjadi bagian dari Gereja sejak zaman Perjanjian Lama (lihat Kejadian 48). Ketika Gereja diorganisasi di zaman akhir, Allah memerintahkan Joseph untuk memanggil ayahnya, Joseph Smith Sr., sebagai bapa bangsa pada tahun 1834. Tiga hari kemudian, keluarga Smith berkumpul agar Joseph Smith Sr. dapat memberikan berkat bapa bangsa kepada masing-masing anaknya dan pasangan mereka. Berkat-berkat ini memberikan nasihat dan penghiburan bagi kehidupan mereka.
Selain pernyataan garis keturunan, berkat bapa bangsa “adalah tulisan suci pribadi bagi Anda.” Saat kita secara teratur menelaah berkat bapa bangsa kita sendiri, kita “hendaknya menghargai kata-katanya, merenungkannya, dan hidup layak untuk menerima berkat-berkat yang dijanjikan dalam kehidupan ini dan dalam kekekalan.”
Potret Emma Smith, oleh Lee Greene Richards
Arahan Pribadi Emma dari Allah
Sebagai istri nabi, Emma Smith sering bergumul dengan cobaan dan konflik yang diminta keluarganya untuk ditanggung. Dalam Ajaran dan Perjanjian 25, kita dapat membaca firman Bapa Surgawi akan penghiburan dan kekuatan kepada Emma.
Ketika kita mencari pesan penghiburan kita sendiri dari Bapa Surgawi, kita dapat meminta berkat imamat. Sebagaimana Presiden James E. Faust (1920–2007), Penasihat Kedua dalam Presidensi Utama, ajarkan, “Berkat-berkat imamat dapat membantu kita dalam keputusan-keputusan kecil dan besar dari kehidupan kita. Jika, melalui berkat-berkat keimamatan kita, kita dapat mengenali hanya sebagian kecil dari orang yang Allah maksudkan kita untuk menjadi, kita akan kehilangan rasa takut kita dan tidak pernah ragu lagi.”
Potret Joseph F. Smith, oleh Albert E. Salzbrenner
Penelaahan Tulisan Suci Joseph F. Smith
Ketika penyakit, perang, dan kematian melanda dunia pada tahun 1918, Nabi Joseph F. Smith berpaling pada tulisan suci untuk mendapatkan jawaban. Setelah menelaah perkataan Petrus dalam Perjanjian Baru, dia mulai berpikir dan merenung. Dia terhanyut dalam sebuah penglihatan untuk Gereja di mana dia melihat Juruselamat mengorganisasi pekerjaan misionaris di dunia roh. (Lihat Ajaran dan Perjanjian 138.)
Sebagaimana Penatua Robert D. Hales (1932–2017) dari Kuorum Dua Belas Rasul mengajarkan, “Ketika kita ingin berbicara kepada Allah, kita berdoa. Dan ketika kita ingin Dia berbicara kepada kita, kita menyelidiki tulisan suci.” Tulisan suci adalah firman Allah yang dilestarikan secara tertulis, dan di zaman digital kita, itu tidak pernah semudah ini dapat diakses oleh kita. Sewaktu kita membaca dan merenungkan tulisan suci, kita akan menemukan bantuan dari surga yang kita butuhkan.
Foto oleh John McKinney
Upaya yang Disengaja untuk Mendengarkan Dia
Presiden Nelson mengajarkan, “Sewaktu kita berusaha untuk menjadi murid Yesus Kristus, upaya kita untuk mendengarkan Dia perlu semakin diniatkan. Diperlukan upaya yang sadar dan konsisten untuk mengisi kehidupan sehari-hari kita dengan firman-Nya, ajaran-Nya, dan kebenaran-Nya.” Sama seperti para Orang Suci di masa awal, kita dapat menerima pesan-pesan dari Allah yang bersifat pribadi dan nyata.
Allah berbicara kepada mereka. Dia akan berbicara kepada kita! Kita hanya perlu mendengarkan Dia.