Kebaktian Natal
Hadiah yang Tak Ternilai


10:29

Hadiah yang Tak Ternilai

Kebaktian Natal Presidensi Utama 2024

Minggu, 8 Desember 2024

Malam ini, saya juga berbicara dengan sukacita dan rasa takjub akan signifikansi Natal yang sakral. Tidak ada peristiwa dalam sejarah dunia yang telah memiliki dampak yang lebih besar daripada kelahiran dan misi Yesus dari Nazaret lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Di seluruh dunia modern, waktu pun diukur dari peristiwa yang ajaib ini.

Kelahiran Tuhan kita dirayakan dengan banyak cara yang berbeda di seluruh dunia, namun ada satu tradisi Natal yang tampaknya bersifat universal.

Tradisi ini kemungkinan besar dimulai dengan kisah dalam Matius tentang orang-orang majus dari Timur yang datang untuk menyembah Yesus. Saat mereka datang, mereka membawa hadiah-hadiah berharga. Kini, tradisi memberi hadiah merupakan bagian yang semakin besar dalam perayaan Natal.

Kenangan pertama saya tentang hadiah Natal adalah senapan mainan indah yang menembakkan gabus yang terikat pada seutas tali, dan bebek mainan mekanis. Ini adalah kebahagiaan tak terhingga bagi seorang anak berusia empat tahun. Bebek itu akan bergoyang-goyang dalam lingkaran di lantai dan itu benar-benar kecil kemungkinan untuk tetap tegak saat saya dengan penuh semangat membidikkan senapan mainan saya dari jarak enam inci (15,24 cm). Tetapi mainan itu tidak lama kemudian rusak, dan seperti umumnya dengan semua benda material, kebahagiaan yang diberikannya hanyalah sementara dan segera dilupakan.

Malam ini, saya menyarankan tiga hadiah yang kita masing-masing dapat berikan pada saat Natal ini, dan sepanjang hidup kita, yang tidak akan membawa kebahagiaan sementara, alih-alih akan membawa sukacita yang sejati dan abadi.

Pertama adalah hadiah kesaksian. Ini adalah hadiah yang sangat pribadi dan ketika diberikan secara bebas, tanpa tipu daya, hadiah ini mengungkapkan ekspresi terdalam dari jiwa kita. Lebih berharga daripada emas, kemenyan, atau mur, kesaksian murni tentang Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Penebus pribadi kita adalah pusat dari semua yang kita rayakan di saat Natal.

Ketika keenam anak kami masih kecil, Jacqui dan saya memutuskan pada suatu malam bahwa untuk malam keluarga, alih-alih mengadakan pelajaran, kami hanya akan saling berbagi kesaksian satu sama lain. Setelah saya berbagi kesaksian saya, putri kami yang manis, Chelsea, yang mungkin berusia 16 tahun pada saat itu, berkata dengan mata terbelalak, “Ayah, saya belum pernah mendengar kesaksian ayah sebelumnya!” Saya agak terkejut, dan saya termangu dengan tanggapannya. Masalahnya, saat itu saya adalah seorang presiden pasak dan tahu bahwa Chelsea telah mendengar saya memberikan kesaksian berkali-kali di banyak pertemuan gereja dan di rumah. Tetapi pada saat itu, dia mendengar sekaligus merasakan kesaksian saya seolah-olah itu adalah yang pertama kalinya. Dia mengajari saya sebuah pelajaran yang tidak pernah saya lupakan: hadiah kesaksian adalah sangat berharga dan ada kuasa dalam berbagi kesaksian sesering mungkin.

Kedua adalah hadiah pengampunan. Tentunya kita semua pernah terluka oleh kata-kata atau tindakan orang lain yang tidak baik. Dan jika kita jujur, kita juga pernah menyakiti orang lain. Yesus Kristus mengajarkan bahwa “Aku, Tuhan, akan mengampuni yang akan Aku ampuni, tetapi darimu dituntut untuk mengampuni semua orang.” Kemudian Dia bahkan mengambil langkah lebih jauh dan berfirman bahwa ketika kita gagal mengampuni dosa orang lain terhadap kita, dosa yang lebih besar menjadi tanggungan kita sendiri.

Ketika kita dengan sukarela dan tulus mengampuni orang lain, kita menjadi bebas dari racun kepahitan, penghakiman, atau dendam.

Saya memiliki seorang teman baik di Afrika Selatan bernama Sandile Makasi. Dengan izinnya, saya berbagi kisah pengampunannya yang sangat pribadi. Ketika Sandile masih berusia di bawah dua tahun, ayahnya, yang baru berusia 28 tahun, disiksa dan dibunuh oleh polisi di masa rezim apartheid yang keji. Belakangan, Sandile mengetahui detail pembunuhan ayahnya yang mengerikan. Sekarang saya mengutip kata-katanya sendiri:

“Selama tahun-tahun awal saya sebagai seorang anak laki-laki, saya merasakan kepahitan dan kebencian karena apa yang mereka lakukan terhadap ayah saya. Alangkah teganya mereka mengambil dia dari kami? Saya kehilangan seorang ayah dan mentor, dan ibu saya kehilangan seorang pendamping yang penuh kasih dan perhatian.

Ketika saya mengetahui cara mereka menyiksanya dengan cara yang kejam, ini memicu kemarahan, kebencian, dan permusuhan yang luar biasa dalam hati dan benak saya terhadap para petugas polisi dan terhadap orang kulit putih.

Saya terus memendam perasaan ini sampai saya menemukan Injil Yesus Kristus yang dipulihkan. Injil membantu saya memahami bahwa saya hendaknya mengampuni para petugas polisi atas kejahatan mereka, dan bahwa sukacita dan kemajuan rohani saya bergantung pada hal itu.

Hal ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, tetapi saya bersikeras dengan banyak doa, dan seiring waktu Tuhan menolong saya untuk mengampuni musuh-musuh saya …. Alih-alih terluka, saya merasakan penghiburan; alih-alih permusuhan dan kebencian, saya memiliki kasih; alih-alih kegelapan dalam hati dan pikiran saya, saya memiliki terang dan kedamaian.”

Terima kasih Sandile atas teladan Anda dalam memberikan hadiah berupa pengampunan.

Ketiga, hadiah berupa kasih seperti Kristus. Dari semua karunia rohani, tidak ada yang lebih besar daripada kasih amal. Yesus secara terbuka menyatakan kasih-Nya bagi orang lain dan Dia mengajari kita untuk saling mengasihi.

Ketika kita mengikuti teladan Juruselamat dengan mengekspresikan kasih kita bagi orang lain dalam perkataan dan tindakan, mereka kemudian dapat merasakan kasih Allah melalui diri kita.

Beberapa tahun lalu, saya bertemu dengan seorang pemuda berusia 23 tahun yang tinggal di Washington yang merupakan teladan yang sangat baik dalam hal ini. Para misionaris telah mengajarnya selama tiga bulan, dan dia telah mengalami perubahan yang menakjubkan pada raut wajah dan gaya hidupnya. Suatu malam dia berbicara dengan para misionaris di telepon, dan ketika mereka menutup telepon, mereka berkata, “Kami mengasihi Anda, Michael.” Dia meletakkan telepon dan berpikir, “Wow. Saya tidak terbiasa dengan hal seperti ini. Saya bahkan bisa mengatakan itu kepada orang lain.” Dia memutuskan untuk mengumpulkan keberanian untuk memberi tahu ibunya bahwa dia mengasihinya. Ibunya tinggal pada jarak beberapa jam di bagian lain negara bagian itu. Ketika dia menelepon ibunya dan mengatakan, “Aku mengasihimu, Ibu,” tanggapan langsung dari ibunya adalah, “Ada apa dengan dirimu? Apakah kamu pergi ke dokter dan mendapatkan kabar buruk? Apakah kamu akan kembali ke penjara?” Jadi, Michael bercerita tentang menemukan Injil dan bagaimana Injil telah mengubahnya, dan bahwa dia sekarang telah berhenti merokok dan menggunakan obat-obatan terlarang serta berencana untuk dibaptis.

Saya pikir ini adalah ilustrasi yang luar biasa tentang apa yang terjadi ketika orang merasakan kasih Allah melalui orang lain. Itu melembutkan hati dan kemudian itu menciptakan hasrat untuk berbagi karunia kasih itu dengan orang lain.

Sekarang, malam ini, kita mulai membicarakan hadiah yang berharga dengan menyebutkan emas, kemenyan, dan mur. Saya sudah mengecek, Anda bahkan bisa membeli hadiah-hadiah tersebut di Amazon. Tetapi Anda tidak akan pernah menemukan hadiah-hadiah lain yang telah kita bicarakan di toko mana pun. Itu adalah hadiah tanpa harga, namun itu akan membawa sukacita abadi dan sejati baik bagi si penerima maupun si pemberi.

Jadi, saat Anda memikirkan apa yang akan Anda berikan Natal ini, saya mengundang Anda untuk:

  1. Berbagi kesaksian Anda kepada keluarga dan orang-orang yang Anda kasihi. Saat Anda berbagi hadiah yang berharga ini, kesaksian Anda sendiri akan diperkuat.

  2. Mengampuni seseorang yang Anda rasa telah berbuat salah atau menyakiti diri Anda. Dengan memberikan hadiah ini, Anda juga akan merasakan kedamaian dan kesembuhan.

  3. Membantu orang lain merasakan kasih Allah melalui Anda. Jika pantas, katakan kepada mereka bahwa Anda mengasihi mereka. Sewaktu Anda melihat orang lain sebagaimana Allah melihat mereka, kasih Anda bagi mereka akan bertumbuh, dan Anda pun akan merasakan kasih Allah dalam hidup Anda.

Sebagai penutup, saya berharap Anda masing-masing menikmati Natal penuh sukacita yang besar. Saya memberikan kesaksian saya tentang Yesus Kristus. Dia hidup. Dia adalah Juruselamat kita, Penebus kita. Dia adalah Pengacara dan Teman kita. Saya memuja Dia. Saya mengasihi Dia. Karena karunia-Nya kepada kita masing-masing, yang dibeli dengan harga yang tak terkira, kita dapat memenuhi syarat untuk menerima karunia terbesar dari segalanya—bahkan kehidupan kekal di hadirat Bapa kita yang penuh kasih di Surga.

Dalam nama Yesus Kristus, amin.