Lebih Dahulu Upayakanlah untuk Mendapatkan Firman-Ku
Siaran Satelit Seminari dan Institut Religi • 4 Agustus 2015
Pendahuluan
Saya bersyukur berada di sini, dan, bersama dengan Anda, saya senang menjadi bagian dari pekerjaan ini.
Dalam persiapan untuk hari ini, saya membagikan ceramah saya kepada keluarga saya dan meminta umpan balik mereka, … dan itu hampir semua bermanfaat. Umpan balik yang saya ragu untuk akui—dan yang saya yakin tidak seorang pun dari Anda pernah menerimanya di kelas—adalah bahwa Annie, putri kami yang berusia 12 tahun, tertidur di separuh ceramah. Maka, baik dia maupun saya berharap ini adalah versi yang diperbaiki!
Setiap dari dua tahun terakhir, Brother Chad Webb telah mengundang kita untuk membantu siswa kita memiliki pengalaman penelaahan tulisan suci dalam cara yang memperdalam iman mereka kepada Juruselamat.1 Tahun lalu lebih banyak siswa membaca tulisan suci daripada sebelumnya. Mereka meluangkan lebih dari 9 juta jam2 dalam penelaahan tulisan suci pribadi. Terima kasih untuk upaya Anda!
Hari ini kita ingin memperbarui undangan tersebut. Bersediakah Anda menolong setiap siswa seminari dan institut memiliki pengalaman penelaahan tulisan suci yang bermakna setiap hari? Dan sementara akan ada bagian dari Perjanjian Lama yang menantang bagi para siswa kita untuk membaca dan memahami, saya dengan tulus percaya bahwa kita tidak perlu mengendap-endap dibelakang siswa kita dan “membisikkan [Perjanjian Lama] di telinga.”3
Brother Webb juga mengundang kita untuk membahas “bagaimana kita dapat menjadi lebih berpusat pada tulisan suci yang kita ajar.”4 Dia mengajukan serangkaian pertanyaan tentang peranan yang tulisan suci mainkan dalam pengajaran kita. Banyak dari Anda telah memikirkan pertanyaan tersebut dengan saksama. Terima kasih! Hari ini, dapatkah kita berbicara sejenak tentang peranan yang tulisan suci mainkan dalam persiapan kita untuk mengajar?
Bulan Mei 1829, Joseph dan Emma Smith tinggal di Harmony, Pennsylvania. Hyrum Smith berkunjung dan berharap untuk belajar tentang perannya dalam menguakkan Pemulihan. Nabi bertanya kepada Tuhan dan diingatkan bahwa firman “hidup dan penuh kuasa, lebih tajam daripada sebilah pedang bermata dua.”5 Juruselamat kemudian mengajari Hyrum, dan kita, asas serta prioritas sewaktu Dia menetapkan urutan penting bagi para guru: “Janganlah berupaya untuk memaklumkan firman-Ku, tetapi lebih dahulu upayakanlah untuk mendapatkan firman-Ku, dan kemudian lidahmu akan difasihkan; kemudian, jika kamu hasratkan, kamu akan memiliki Roh-Ku dan firman-Ku, ya, kuasa Allah untuk diyakinkannya orang-orang.”6
Mendapatkan Firman: Itu Harus Berkobar di Dalam Diri Kita Lebih Dahulu
Upaya kita untuk mengajar tidak dimulai dengan mempersiapkan pelajaran atau memikirkan bagaimana itu akan disampaikan atau bahkan meninjau ulang kurikulum. Upaya kita untuk mengajar sesungguhnya dimulai ad fontes, atau “di mata air.”7 Tidak ada persiapan lebih baik untuk pengajaran daripada, sebagaimana Presiden Marion G. Romney katakan, minum sedalam-dalamnya dari mata air tepat di mana air keluar dari tanah.8 Jika kita ingin mengajar tulisan suci dengan kuasa, jika kita ingin siswa kita merasakan kebenaran dan pentingnya petikan, itu tentu saja harus dimulai dengan gairah pribadi yang segar dari dalam diri kita sendiri.9
Presiden Romney menasihati: “Untuk menjadi guru Injil yang efektif … kita harus bekerja dan menelaah … sampai ajaran [Tuhan] menjadi ajaran kita. Kemudian kita akan bersiap untuk berbicara dengan kuasa dan keyakinan. Jika kita memilih untuk mengikuti beberapa jalan persiapan lainnya, … kita akan berakhir dengan menyampaikan ide kita sendiri atau beberapa ide orang lain, dan kita [tidak memiliki kepastian akan keberhasilan].”10
Mendapatkan Firman: Apa yang Harus Dicari dalam Penelaahan Kita
Sewaktu Anda dan saya berusaha untuk mendapatkan firman dalam cara yang tulisan suci kobarkan dalam diri kita, izinkan saya menyebutkan dua ide sederhana yang seharusnya menjadi standar dalam pengejaran kita.
Pertama, ada hirarki di antara kebenaran, dan pembelajaran untuk memperbedakan hirarki ini akan memberkati kita dan siswa kita.
Kedua, tulisan suci memuat koneksi, pola, dan tema,11 termasuk perlambang dan cerminan, di antara yang terpenting yang menunjuk kepada Juruselamat.
Hirarki kebenaran
Untuk memulai, Penatua Neal A. Maxwell menulis mengenai “aristokrasi di antara kebenaran” dan bahwa beberapa kebenaran adalah layak akan kesetiaan kita, yaitu kata yang menyarankan ketaatan, atau kepatuhan, dan loyalitas.
“Beberapa dapat menjadi benar dan tidak penting. … Kita drharusnya tidak saja membedakan antara fakta dan fantasi, tetapi mengetahui mana fakta yang layak akan kesetiaan.
“Injil Yesus menarik perhatian kita pada kenyataan bahwa ada aristokrasi di antara kebenaran; beberapa kebenaran adalah sederhana dan secara abadi lebih signifikan daripada yang lain!”12
Sebagian besar petikan tulisan suci mencakup beberapa ukuran detail, dan detail terilhami yang disertakan akan memancarkan terang pada asas-asas13 yang mereka ingin jelaskan.14
Kita hendaknya menjadi siswa unggul dari baik detail maupun ajaran dalam tulisan suci. Adalah penting untuk memahami bahwa detail tulisan suci yang diajarkan secara terpisah dari ajaran dan mengenai manfaatnya sendiri sekadar menginformasi. Pengajaran semacam itu “tidak akan menyakiti kita jika roh ada di sana tidak juga menolong kita jika itu tidak ada.”15 Di pihak lain, pengajaran yang hanya melibatkan kisah pribadi, wawasan pribadi, dan perasaan yang dihasilkan dari pembahasan tetapi kurang adanya substansi tulisan suci yang diperlukan untuk mengajarkan kebenaran dan mengilhami adalah sama saja tidak memadai. Siswa kita akan paling baik dilayani oleh guru yang adalah siswa unggul dari tulisan suci dan yang memahami pentingnya peranan Roh Kudus.16
Saya telah mendengar beberapa berbicara mengenai “pengajaran kebaktian” yang tidak memiliki pengetahuan. Dan saya telah mendengar orang lain berbicara mengenai mengajarkan pengetahuan yang tidak memiliki roh yang menginsafkan. Hanya sendiri, pengajaran kebaktian maupun pengetahuan semata tidak dapat memenuhi tuntutan unik dari pendidikan religi. Brother Robert J. Matthews pernah berkata, “Kata ‘religi’ secara harfiah berarti ‘untuk mengikat kembali pada.’ Ini terkait dengan kata ligamen, yang mengikat otot pada tulang. Religi seharusnya mengikat orang yang memilikinya kepada Allah dan kepada hal-hal kudus dan sakral.””17 Dan demikianlah seharusnya yang pendidikan religi lakukan bagi siswa kita.
Detail tulisan suci sering kali menunjuk pada kebenaran berharga. Ketika kebenaran diajarkan dengan kesaksian, itu mengundang wahyu, dan Roh Kudus mengaplikasikan Pendamaian dalam kehidupan kita,18 meningkatkan keinsafan kita kepada Juruselamat19 dan komitmen kita untuk mengikuti rencana Bapa Surgawi.
Perjanjian Lama tentu saja mencakup “kisah dramatis, adat istiadat memesona, dan bentuk literatur indah.”20 Adalah penting bagi kita untuk mengingat, dan untuk pengajaran kita untuk mencerminkan, bahwa detail ini bukanlah tujuan dari petikan ini. Sebagaimana kita telah diajari, “Tulisan suci telah ditulis untuk melestarikan asas-asas.”21 Asas-asas Injil ini “Itu adalah substansi dan tujuan dari wahyu.”22
Pada akhirnya, bahkan di antara asas-asas ada ketertiban, karena “asas-asas dasar dari religi kita adalah kesaksian dari para Rasul dan Nabi, berkenaan dengan Yesus Kristus.”23
Memisahkan detail dari asas-asas, sama seperti belajar untuk mengenali hirarki yang ada, bahkan di antara asas-asas tersebut, akanlah menjadi pekerjaan seumur hidup. Jika kita mengajarkan setiap detail sejarah dan hukum, dan jika kita mengajarkan setiap elemen dari pengembaraan Israel, dan kita melewatkan pesan dari rencana Bapa Surgawi dan Pendamaian Juruselamat dalam Perjanjian Lama,24 kita tidaklah telah mengajarkan pesan dari Perjanjian Lama.25
Paulus pastinya menggambarkan saya, dan mungkin beberapa dari siswa kita, ketika dia mengatakan bahwa selubung itu masih tetap menyelubungi ... “membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan.” Dia kemudian memberikan kunci pada dilema ini ketika dia mengatakan ini “Kristus saja yang dapat menyingkapkannya,” dan bahwa “apabila hati [kita] berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya.”26
Jika pengajaran kita akan berpusat pada Juruselamat,27 dan jika kita dapat membantu benak dan hati para siswa kita berpaling kepada-Nya, tabir akan disingkapkan dalam pembacaan mereka akan Perjanjian Lama. Dan, mungkin yang lebih penting adalah, sewaktu siswa kita belajar untuk mencari Juruselamat dalam penelaahan tulisan suci mereka, mereka akan belajar pelajaran paralel dan mulai untuk belajar mencari Dia dan pengaruh Bapa Surgawi dalam kehidupan mereka sendiri.
Sebuah Contoh dari Hirarki Ini
Izinkan saya membagikan satu gagasan yang akan membantu kita dalam memperbedakan kebenaran dalam tulisan suci: Pilih satu petikan, bacalah, dan tanyakan pada diri Anda, “Apakah detail dalam petikan ini?” Garis bawahi orang, tempat, waktu, dan garis cerita. Lihatlah konteks keseluruhan dari petikan itu, dan garis bawahi semua detail kontekstual yang dapat Anda temukan. Buku pegangan kita menyarankan “istirahat alami”28 di mana nada atau isi berganti.
Sekarang lihat kembali petikan, dan saat ini tanyakan kepada diri sendiri, “Apakah asas atau kebenaran yang ‘dikemas untuk penerapan,’29 dan yang manakah, jika dipahami, akan ‘[menuntun] pada kepatuhan’?”30 Telaah konteks doktrinal keseluruhan dalam petikan. Tandai setiap asas secara berbeda dari cara Anda menandai detail. Jika asas-asas ini tersirat,31 luangkan waktu untuk menuliskannya.
Untuk melakukan ini dengan upaya penuh kesadaran akanlah sulit pada awalnya. Itu akan memerlukan konsentrasi dan waktu. Bagian dari berkat yang tersedia dari disiplin ini adalah itu mengundang kita untuk secara berkelanjutan bertanya, “Apakah detail dalam petikan ini, dan apakah asas-asas yang ingin diajarkan?”
Seperti yang telah kita katakan, beberapa asas adalah lebih penting dari yang lain; itu mengundang lebih banyak ilham, kehidupan, dan keselamatan karena itu menunjuk pada Juruselamat. Maka, lihatlah petikan itu sekali lagi, kali ini melalui lensa yang berbeda, dan tanyakan, “Bagaimana petikan ini dirancang32 untuk menarik perhatian saya kepada Juruselamat? Apa yang ada di sini yang menuntun pada pemahaman yang lebih luas mengenai, rasa syukur untuk, dan kepercayaan kepada Dia dan rencana Bapa Surgawi?”
Akhirnya, secara saksama pertimbangkan apa yang nabi modern telah katakan yang akan menambah wawasan, pemahaman, dan ilham kepada petikan tersebut.
Setelah menelaah dengan cara itu, ketika kita beralih ke kurikulum, pemahaman tambahan, gagasan, dan arahan yang disediakan di sana akan dipasangkan dengan wawasan, ilham, dan pengalaman yang kita miliki dalam tulisan suci dan perkataan para nabi. Kurikulum kemudian menegaskan, memurnikan, dan memperluas persiapan kita untuk memaklumkan firman dengan kuasa.
Misalnya, ketika kita menelaah kitab Rut tahun ini, kita dapat melihat kisah lembut tentang kehilangan dan kesetiaan. Atau, memikirkan hirarki kebenaran ini, kita mungkin menyadari bahwa Rut kehilangan suaminya, bahwa dia pergi ke Betlehem,33 dan di Betlehem dia bertemu Boas. Kita dapat kemudian memerhatikan bahwa Boas melayani kebutuhan Rut, memberinya roti dan anggur cuka,34 menjadi perantaranya di pintu gerbang,35 dan kemudian, sebagai “penebusnya,”36 membeli Rut,37 menjadikan Rut istrinya,38 dan tidak mau berhenti sampai dia dapat berkata, “Sudah selesai.”39 Dengan itu kita dapat mulai merasakan kesaksian akan kasih dan penebusan yang dimaksudkan demikian juga peneguhan dan inspirasi dari menyadari bahwa Penebus yang Agung40 melakukan yang sama bagi kita masing-masing.
Ini hanyalah satu contoh sederhana dari penyelidikan tulisan suci. Guru yang cermat kemudian akan membantu setiap siswa belajar untuk memiliki pengalaman penelaahan yang sama bagi dirinya sewaktu siswa menjadi mandiri secara rohani.41
Brother dan sister, di setiap halaman tulisan suci, kita membuat pilihan yang berdampak pada kuasa pengajaran dan pembelajaran di kelas kita. Pilihannya adalah: Terhadap kebenaran yang mana kita akan memalingkan benak dan hati serta iman para siswa kita? Pilihan ini membuat perbedaan besar dalam bagian dari firman yang mereka terima ke dalam pemikiran dan kehidupan mereka.42 Jika kita tidak tekun dalam hal ini, jika saya memilih untuk membiarkan lebih sedikit kebenaran “mendominasi pengajaran saya,” maka, sebagaimana Presiden Henry B. Eyring ajarkan, “Saya telah hampir menyerah karena ini di luar kemampuan saya untuk membantu siswa menghadapi kejahatan dunia.”43
Koneksi, Tema, dan Perlambang
Bersama dengan pengakuan hirarki kebenaran ini, ide sederhana kedua yang dapat membantu dalam mendapatkan firman adalah tulisan suci dipenuhi dengan koneksi, tema, dan perlambang. Dapatkah saya memberikan contoh singkat masing-masing dari Perjanjian Lama?
Koneksi
Penatua David A. Bednar menjelaskan bahwa “suatu koneksi hubungan atau tautan antara ide, orang, hal-hal, atau peristiwa.”44
Suatu koneksi yang mungkin kita sadari adalah bahwa Perjanjian Lama penuh dengan kisah keberhasilan dan kegagalan, yang secara kontras diajarkan berdampingan: Kain dan Habel, Yusuf dan saudara-saudaranya, Yakub dan Esau, Abigail dan Nadab, serta banyak lainnya.
Presiden Eyring mencatat kunci ini: “Dalam deskripsi mengenai kegagalan di sana ada cerminan dari cara jalan untuk berhasil … Siklus berulang dari penurunan kerohanian dan pemulihan … dapat menjadi penuh harapan dan petunjuk bagi siswa Anda.”45
Tema
Penatua Bednar juga menjelaskan bahwa “tema adalah kualitas dan ide yang melingkupi, berulang, dan menyatukan, seperti jalinan benang penting di seluruh teks.”46 Suatu tema yang dapat kita kenali tahun ini ditemukan dalam ungkapan ini: “supaya kamu mengetahui, bahwa Akulah, Tuhan, Allahmu.”47
Di sepanjang wabah yang mendahului pembebasan mereka, demikian juga mukjizat yang mengikutinya, anak-anak Israel diberi tahu bahwa melalui hal-hal itu “kau ketahui bahwa Akulah Tuhan.”48
Pembunuhan Goliat,49 penyembuhan Naaman,50 Elia dan nabi-nabi Baal,51 dan pengalaman sakral serta khusyuk dengan Raja Nebukadnesar52 semua dicatat dengan niat memaklumkan “supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah.”53
Di sepanjang kitab Mazmur,54 Yesaya,55 dan Yehezkiel,56 dalam 17 kitab dari Perjanjian Lama, dan lebih dari 80 waktu berbeda, Yehova mengulangi dan menegaskan serta memastikan bahwa Israel dan kita harus melihat Dia dan pengaruh-Nya dalam peristiwa dan ajaran dari Perjanjian Lama agar kita dan anak-anak kita “tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa … Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain.”57
Sewaktu kita menelaah tema tulisan suci dalam kelas institut batu penjuru yang baru,58 tulisan suci akan “terjalin bersama dalam suatu cara sehingga ketika [kita] jatuh di atas yang satu [kita akan] terserap kepada yang lain.”59Jika tulisan suci sendiri adalah penelaahan pusat dari kelas-kelas ini, tulisan suci akan “tumbuh bersama” dan membawa siswa kita “kepada pengetahuan akan perjanjian [mereka].”60 “Proses penyelidikan dan penemuan tema tulisan suci,” Penatua Bednar bertutur, “menuntun kita pada … kebenaran kekal yang mengundang saksi peneguhan dari Roh Kudus. ... Pendekatan ini untuk mendapatkan air hidup dari sumber air adalah yang paling menuntut dan akurat; itu juga menghasilkan peneguhan terbesar.”61 Itu memerlukan lebih banyak dari kita sebagai guru, tidak kurang.62
Perlambang dan cerminan dari Kristus
Dari banyak pola dalam Perjanjian Lama,63 ada satu secara khusus mengundang perhatian dan upaya kita. Yaitu, tentu saja, mencari kesaksian mengenai Bapa Surgawi dan Juruselamat. Penatua Bruce R. McConkie menuturkan, “Adalah … tepat untuk mencari perumpamaan dari Kristus di manapun dan untuk menggunakannya secara berulang untuk menempatkan Dia dan hukum-Nya menjadi yang terpenting dalam benak kita.”64
Mulai membuat daftar perlambang dan cerminan dari Juruselamat hampir serupa dengan menghitung tetesan air di sungai atau partikel dari cahaya di siang hari. Bagaimanapun, “segala sesuatu yang telah diberikan oleh Allah sejak awal dunia, kepada manusia, adalah perlambangan tentang Dia.”65
Penciptaan,66 ular kuningan,67 manna,68 pembebasan Israel dari perbudakan bangsa Mesir dengan darah domba di pintu-pintu mereka,69 dan seluruh hukum Musa, dengan sistem pengurbanan dan ingatan, adalah secara sadar dan mencolok dirancang sebagai “penuntun kita untuk membawa kita kepada Kristus.”70
Abraham71 yang bersedia untuk mengurbakan Ishak72; gelar Melkisedek,73 termasuk “Pangeran damai”74; penyelamatan Yusuf dari saudara-saudaranya sendiri yang menjualnya75; dan pembebasan Musa dari anak-anak Israel76 membuat mereka menggambarkan mengenai “Dia yang akan datang.”77
Adam adalah manusia tidak berdosa78 yang, sementara berada di taman, secara sukarela memilih79 untuk menyerahkan hidupnya agar kita dapat hidup.80
Raja “berpikir untuk menetapkan Daniel membawahi seluruh kerajaan karena roh unggul yang ada didalamnya.”81 “Presiden dan pangeran,”82 mereka yang dalam posisi berkuasa yang membenci Daniel, “berusaha untuk menemukan keadaan menentang [dia] .. tetapi tidak dapat menemukan satupun.”83 Kemudian orang-orang jahat ini “berkumpul ... [dan] berembuk bersama,”84 dan sementara, Daniel beristirahat ke tempat di mana “dia tidak ingin” pergi,85 dan di sana dia berdoa.86 Mengetahui semua hal ini, raja “mencari jalan untuk membebaskan Daniel.”87 Dan kemudian, setelah Daniel dibawa untuk hukuman matinya “dibawalah sebuah batu dan diletakkan di mulut gua.”88 Kemudian raja bangun “pagi-pagi sekali ... dan pergi dengan buru-buru ke gua singa”89 untuk menemukan di sana bahwa seorang malaikat telah hadir90 dan “ditariklah Daniel dari dalam gua itu, dan tidak terdapat luka apa-apa padanya.”91
Alfred Edersheim menuturkan seluruh Perjanjian Lama “dimaksudkan untuk menunjuk pada Kristus. ... Tidak hanya hukum, yang adalah penuntun ... atau pun perlambang, yang adalah cerminan dari [Dia], tidak juga nubuat, yang adalah prediksi mengenai [Dia]; tetapi seluruh sejarah Perjanjian Lama dipenuhi akan Kristus. … Satu hal yang mengikuti dari sini: hanyalah bahwa … penelaahan tulisan suci dapat memadai atau bermanfaat yang melaluinya kita belajar untuk mengenal [Juruselamat]”92
Di sepanjang kelas Anda, dan bahkan di rumah dan keluarga kita, maukah Anda meluangkan waktu untuk bertanya kepada siswa dan anak-anak Anda apa yang mereka pelajari dan bagaimana itu menolong mereka memahami dan bersandar pada Bapa Surgawi dan Juruselamat? Dan dari hari pertama kelas, maukah Anda mengajar siswa Anda untuk secara saksama mencari kesaksian-kesaksian luar biasa yang secara sadar dimaksudkan oleh para penulis yang terilhami ini?
Kesimpulan
Brother dan sister, tulisan suci memiliki peran yang tidak tergantikan dalam pengajaran kita demikian juga dalam persiapan pengajaran kita! Ingatlah peringatan ini dari Presiden Romney:
“Kita ditugasi untuk menyampaikan apa yang kita terima dari Tuhan (tulisan suci) kepada mereka yang kita ajar. Terkadang [kita mungkin] tergoda untuk menyampaikan tanpa terlebih dahulu memperoleh. …
… [Kita mungkin ingin] … untuk pergi dan berkhotbah sebelum [memberikan] Tuhan kesempatan untuk mempersiapkan [kita].”93
Dengan semangat itu, dapatkah saya menambahkan beberapa pertanyaan untuk yang kita terima dari Brother Webb tahun lalu dan mengundang kita untuk mempertimbangkannya dalam persiapan pengajaran kita?
-
Apakah persiapan saya untuk kelas dimulai dengan penyelidikan tulisan suci?
-
Apakah saya bersenang hati94 dalam tulisan suci yang saya ajarkan hari ini, dan apakah itu “api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku.”?95
-
Apakah saya memahami baik detail maupun ajaran yang para penulis terilhami inginkan saya untuk melihat dan memahami?
-
Sudahkah saya menelusuri perkataan para nabi untuk penekanan, wawasan, dan kesaksian mereka tentang sebuah petikan?
-
Dan dalam setiap kejadian, apakah saya menyelidiki dan menemukan cara-cara bahwa petikan itu bersaksi mengenai Juruselamat dan Pendamaian-Nya?96
Semoga firman menjadi lebih tajam dari pada pedang bermata dua97 dalam ruang kelas kita karena tulisan suci menyala di dalam kita! Semoga kita memiliki ketetapan hati untuk memperbedakan detail dan ajaran yang layak akan kesetiaan! Dan semoga kita membantu siswa kita belajar untuk menemukan kesaksian-kesaksian indah tulisan suci akan rencana Bapa Surgawi dan Putra Terkasih-Nya!98
Saya menambahkan kesaksian saya kepada Anda, khususnya mengenai kasih dari Bapa Surgawi99 yang diwujudkan dan tersedia melalui Pendamaian yang menakjubkan dari Putra-Nya. Dan saya mengungkapkan rasa syukur untuk privilese luar biasa dari menjadi bagian dari pekerjaan yang membantu dalam menjadikan nama-Nya “dikenal di seluruh bumi selamanya.”100 Dalam nama Yesus Kristus, amin.
© 2015 oleh Intellectual Reserve, Inc. Hak cipta dilindungi Undang-Undang. Persetujuan bahasa Inggris: 6/15. Persetujuan penerjemahan: 6/15. Terjemahan dari “First Seek to Obtain My Word.” Bahasa Indonesia. PD10054335 299