Perpustakaan
Lebih Dahulu Upayakanlah untuk Mendapatkan Firman-Ku


Lebih Dahulu Upayakanlah untuk Mendapatkan Firman-Ku

Siaran Satelit Seminari dan Institut Religi • 4 Agustus 2015

Pendahuluan

Saya bersyukur berada di sini, dan, bersama dengan Anda, saya senang menjadi bagian dari pekerjaan ini.

Dalam persiapan untuk hari ini, saya membagikan ceramah saya kepada keluarga saya dan meminta umpan balik mereka, … dan itu hampir semua bermanfaat. Umpan balik yang saya ragu untuk akui—dan yang saya yakin tidak seorang pun dari Anda pernah menerimanya di kelas—adalah bahwa Annie, putri kami yang berusia 12 tahun, tertidur di separuh ceramah. Maka, baik dia maupun saya berharap ini adalah versi yang diperbaiki!

Setiap dari dua tahun terakhir, Brother Chad Webb telah mengundang kita untuk membantu siswa kita memiliki pengalaman penelaahan tulisan suci dalam cara yang memperdalam iman mereka kepada Juruselamat.1 Tahun lalu lebih banyak siswa membaca tulisan suci daripada sebelumnya. Mereka meluangkan lebih dari 9 juta jam2 dalam penelaahan tulisan suci pribadi. Terima kasih untuk upaya Anda!

Hari ini kita ingin memperbarui undangan tersebut. Bersediakah Anda menolong setiap siswa seminari dan institut memiliki pengalaman penelaahan tulisan suci yang bermakna setiap hari? Dan sementara akan ada bagian dari Perjanjian Lama yang menantang bagi para siswa kita untuk membaca dan memahami, saya dengan tulus percaya bahwa kita tidak perlu mengendap-endap dibelakang siswa kita dan “membisikkan [Perjanjian Lama] di telinga.”3

Brother Webb juga mengundang kita untuk membahas “bagaimana kita dapat menjadi lebih berpusat pada tulisan suci yang kita ajar.”4 Dia mengajukan serangkaian pertanyaan tentang peranan yang tulisan suci mainkan dalam pengajaran kita. Banyak dari Anda telah memikirkan pertanyaan tersebut dengan saksama. Terima kasih! Hari ini, dapatkah kita berbicara sejenak tentang peranan yang tulisan suci mainkan dalam persiapan kita untuk mengajar?

Bulan Mei 1829, Joseph dan Emma Smith tinggal di Harmony, Pennsylvania. Hyrum Smith berkunjung dan berharap untuk belajar tentang perannya dalam menguakkan Pemulihan. Nabi bertanya kepada Tuhan dan diingatkan bahwa firman “hidup dan penuh kuasa, lebih tajam daripada sebilah pedang bermata dua.”5 Juruselamat kemudian mengajari Hyrum, dan kita, asas serta prioritas sewaktu Dia menetapkan urutan penting bagi para guru: “Janganlah berupaya untuk memaklumkan firman-Ku, tetapi lebih dahulu upayakanlah untuk mendapatkan firman-Ku, dan kemudian lidahmu akan difasihkan; kemudian, jika kamu hasratkan, kamu akan memiliki Roh-Ku dan firman-Ku, ya, kuasa Allah untuk diyakinkannya orang-orang.”6

Mendapatkan Firman: Itu Harus Berkobar di Dalam Diri Kita Lebih Dahulu

Upaya kita untuk mengajar tidak dimulai dengan mempersiapkan pelajaran atau memikirkan bagaimana itu akan disampaikan atau bahkan meninjau ulang kurikulum. Upaya kita untuk mengajar sesungguhnya dimulai ad fontes, atau “di mata air.”7 Tidak ada persiapan lebih baik untuk pengajaran daripada, sebagaimana Presiden Marion G. Romney katakan, minum sedalam-dalamnya dari mata air tepat di mana air keluar dari tanah.8 Jika kita ingin mengajar tulisan suci dengan kuasa, jika kita ingin siswa kita merasakan kebenaran dan pentingnya petikan, itu tentu saja harus dimulai dengan gairah pribadi yang segar dari dalam diri kita sendiri.9

Presiden Romney menasihati: “Untuk menjadi guru Injil yang efektif … kita harus bekerja dan menelaah … sampai ajaran [Tuhan] menjadi ajaran kita. Kemudian kita akan bersiap untuk berbicara dengan kuasa dan keyakinan. Jika kita memilih untuk mengikuti beberapa jalan persiapan lainnya, … kita akan berakhir dengan menyampaikan ide kita sendiri atau beberapa ide orang lain, dan kita [tidak memiliki kepastian akan keberhasilan].”10

Mendapatkan Firman: Apa yang Harus Dicari dalam Penelaahan Kita

Sewaktu Anda dan saya berusaha untuk mendapatkan firman dalam cara yang tulisan suci kobarkan dalam diri kita, izinkan saya menyebutkan dua ide sederhana yang seharusnya menjadi standar dalam pengejaran kita.

Pertama, ada hirarki di antara kebenaran, dan pembelajaran untuk memperbedakan hirarki ini akan memberkati kita dan siswa kita.

Kedua, tulisan suci memuat koneksi, pola, dan tema,11 termasuk perlambang dan cerminan, di antara yang terpenting yang menunjuk kepada Juruselamat.

Hirarki kebenaran

Untuk memulai, Penatua Neal A. Maxwell menulis mengenai “aristokrasi di antara kebenaran” dan bahwa beberapa kebenaran adalah layak akan kesetiaan kita, yaitu kata yang menyarankan ketaatan, atau kepatuhan, dan loyalitas.

“Beberapa dapat menjadi benar dan tidak penting. … Kita drharusnya tidak saja membedakan antara fakta dan fantasi, tetapi mengetahui mana fakta yang layak akan kesetiaan.

“Injil Yesus menarik perhatian kita pada kenyataan bahwa ada aristokrasi di antara kebenaran; beberapa kebenaran adalah sederhana dan secara abadi lebih signifikan daripada yang lain!”12

Sebagian besar petikan tulisan suci mencakup beberapa ukuran detail, dan detail terilhami yang disertakan akan memancarkan terang pada asas-asas13 yang mereka ingin jelaskan.14

Kita hendaknya menjadi siswa unggul dari baik detail maupun ajaran dalam tulisan suci. Adalah penting untuk memahami bahwa detail tulisan suci yang diajarkan secara terpisah dari ajaran dan mengenai manfaatnya sendiri sekadar menginformasi. Pengajaran semacam itu “tidak akan menyakiti kita jika roh ada di sana tidak juga menolong kita jika itu tidak ada.”15 Di pihak lain, pengajaran yang hanya melibatkan kisah pribadi, wawasan pribadi, dan perasaan yang dihasilkan dari pembahasan tetapi kurang adanya substansi tulisan suci yang diperlukan untuk mengajarkan kebenaran dan mengilhami adalah sama saja tidak memadai. Siswa kita akan paling baik dilayani oleh guru yang adalah siswa unggul dari tulisan suci dan yang memahami pentingnya peranan Roh Kudus.16

Saya telah mendengar beberapa berbicara mengenai “pengajaran kebaktian” yang tidak memiliki pengetahuan. Dan saya telah mendengar orang lain berbicara mengenai mengajarkan pengetahuan yang tidak memiliki roh yang menginsafkan. Hanya sendiri, pengajaran kebaktian maupun pengetahuan semata tidak dapat memenuhi tuntutan unik dari pendidikan religi. Brother Robert J. Matthews pernah berkata, “Kata ‘religi’ secara harfiah berarti ‘untuk mengikat kembali pada.’ Ini terkait dengan kata ligamen, yang mengikat otot pada tulang. Religi seharusnya mengikat orang yang memilikinya kepada Allah dan kepada hal-hal kudus dan sakral.””17 Dan demikianlah seharusnya yang pendidikan religi lakukan bagi siswa kita.

Detail tulisan suci sering kali menunjuk pada kebenaran berharga. Ketika kebenaran diajarkan dengan kesaksian, itu mengundang wahyu, dan Roh Kudus mengaplikasikan Pendamaian dalam kehidupan kita,18 meningkatkan keinsafan kita kepada Juruselamat19 dan komitmen kita untuk mengikuti rencana Bapa Surgawi.

Perjanjian Lama tentu saja mencakup “kisah dramatis, adat istiadat memesona, dan bentuk literatur indah.”20 Adalah penting bagi kita untuk mengingat, dan untuk pengajaran kita untuk mencerminkan, bahwa detail ini bukanlah tujuan dari petikan ini. Sebagaimana kita telah diajari, “Tulisan suci telah ditulis untuk melestarikan asas-asas.”21 Asas-asas Injil ini “Itu adalah substansi dan tujuan dari wahyu.”22

Pada akhirnya, bahkan di antara asas-asas ada ketertiban, karena “asas-asas dasar dari religi kita adalah kesaksian dari para Rasul dan Nabi, berkenaan dengan Yesus Kristus.”23

Memisahkan detail dari asas-asas, sama seperti belajar untuk mengenali hirarki yang ada, bahkan di antara asas-asas tersebut, akanlah menjadi pekerjaan seumur hidup. Jika kita mengajarkan setiap detail sejarah dan hukum, dan jika kita mengajarkan setiap elemen dari pengembaraan Israel, dan kita melewatkan pesan dari rencana Bapa Surgawi dan Pendamaian Juruselamat dalam Perjanjian Lama,24 kita tidaklah telah mengajarkan pesan dari Perjanjian Lama.25

Paulus pastinya menggambarkan saya, dan mungkin beberapa dari siswa kita, ketika dia mengatakan bahwa selubung itu masih tetap menyelubungi ... “membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan.” Dia kemudian memberikan kunci pada dilema ini ketika dia mengatakan ini “Kristus saja yang dapat menyingkapkannya,” dan bahwa “apabila hati [kita] berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya.”26

Jika pengajaran kita akan berpusat pada Juruselamat,27 dan jika kita dapat membantu benak dan hati para siswa kita berpaling kepada-Nya, tabir akan disingkapkan dalam pembacaan mereka akan Perjanjian Lama. Dan, mungkin yang lebih penting adalah, sewaktu siswa kita belajar untuk mencari Juruselamat dalam penelaahan tulisan suci mereka, mereka akan belajar pelajaran paralel dan mulai untuk belajar mencari Dia dan pengaruh Bapa Surgawi dalam kehidupan mereka sendiri.

Sebuah Contoh dari Hirarki Ini

Izinkan saya membagikan satu gagasan yang akan membantu kita dalam memperbedakan kebenaran dalam tulisan suci: Pilih satu petikan, bacalah, dan tanyakan pada diri Anda, “Apakah detail dalam petikan ini?” Garis bawahi orang, tempat, waktu, dan garis cerita. Lihatlah konteks keseluruhan dari petikan itu, dan garis bawahi semua detail kontekstual yang dapat Anda temukan. Buku pegangan kita menyarankan “istirahat alami”28 di mana nada atau isi berganti.

Sekarang lihat kembali petikan, dan saat ini tanyakan kepada diri sendiri, “Apakah asas atau kebenaran yang ‘dikemas untuk penerapan,’29 dan yang manakah, jika dipahami, akan ‘[menuntun] pada kepatuhan’?”30 Telaah konteks doktrinal keseluruhan dalam petikan. Tandai setiap asas secara berbeda dari cara Anda menandai detail. Jika asas-asas ini tersirat,31 luangkan waktu untuk menuliskannya.

Untuk melakukan ini dengan upaya penuh kesadaran akanlah sulit pada awalnya. Itu akan memerlukan konsentrasi dan waktu. Bagian dari berkat yang tersedia dari disiplin ini adalah itu mengundang kita untuk secara berkelanjutan bertanya, “Apakah detail dalam petikan ini, dan apakah asas-asas yang ingin diajarkan?”

Seperti yang telah kita katakan, beberapa asas adalah lebih penting dari yang lain; itu mengundang lebih banyak ilham, kehidupan, dan keselamatan karena itu menunjuk pada Juruselamat. Maka, lihatlah petikan itu sekali lagi, kali ini melalui lensa yang berbeda, dan tanyakan, “Bagaimana petikan ini dirancang32 untuk menarik perhatian saya kepada Juruselamat? Apa yang ada di sini yang menuntun pada pemahaman yang lebih luas mengenai, rasa syukur untuk, dan kepercayaan kepada Dia dan rencana Bapa Surgawi?”

Akhirnya, secara saksama pertimbangkan apa yang nabi modern telah katakan yang akan menambah wawasan, pemahaman, dan ilham kepada petikan tersebut.

Setelah menelaah dengan cara itu, ketika kita beralih ke kurikulum, pemahaman tambahan, gagasan, dan arahan yang disediakan di sana akan dipasangkan dengan wawasan, ilham, dan pengalaman yang kita miliki dalam tulisan suci dan perkataan para nabi. Kurikulum kemudian menegaskan, memurnikan, dan memperluas persiapan kita untuk memaklumkan firman dengan kuasa.

Misalnya, ketika kita menelaah kitab Rut tahun ini, kita dapat melihat kisah lembut tentang kehilangan dan kesetiaan. Atau, memikirkan hirarki kebenaran ini, kita mungkin menyadari bahwa Rut kehilangan suaminya, bahwa dia pergi ke Betlehem,33 dan di Betlehem dia bertemu Boas. Kita dapat kemudian memerhatikan bahwa Boas melayani kebutuhan Rut, memberinya roti dan anggur cuka,34 menjadi perantaranya di pintu gerbang,35 dan kemudian, sebagai “penebusnya,”36 membeli Rut,37 menjadikan Rut istrinya,38 dan tidak mau berhenti sampai dia dapat berkata, “Sudah selesai.”39 Dengan itu kita dapat mulai merasakan kesaksian akan kasih dan penebusan yang dimaksudkan demikian juga peneguhan dan inspirasi dari menyadari bahwa Penebus yang Agung40 melakukan yang sama bagi kita masing-masing.

Ini hanyalah satu contoh sederhana dari penyelidikan tulisan suci. Guru yang cermat kemudian akan membantu setiap siswa belajar untuk memiliki pengalaman penelaahan yang sama bagi dirinya sewaktu siswa menjadi mandiri secara rohani.41

Brother dan sister, di setiap halaman tulisan suci, kita membuat pilihan yang berdampak pada kuasa pengajaran dan pembelajaran di kelas kita. Pilihannya adalah: Terhadap kebenaran yang mana kita akan memalingkan benak dan hati serta iman para siswa kita? Pilihan ini membuat perbedaan besar dalam bagian dari firman yang mereka terima ke dalam pemikiran dan kehidupan mereka.42 Jika kita tidak tekun dalam hal ini, jika saya memilih untuk membiarkan lebih sedikit kebenaran “mendominasi pengajaran saya,” maka, sebagaimana Presiden Henry B. Eyring ajarkan, “Saya telah hampir menyerah karena ini di luar kemampuan saya untuk membantu siswa menghadapi kejahatan dunia.”43

Koneksi, Tema, dan Perlambang

Bersama dengan pengakuan hirarki kebenaran ini, ide sederhana kedua yang dapat membantu dalam mendapatkan firman adalah tulisan suci dipenuhi dengan koneksi, tema, dan perlambang. Dapatkah saya memberikan contoh singkat masing-masing dari Perjanjian Lama?

Koneksi

Penatua David A. Bednar menjelaskan bahwa “suatu koneksi hubungan atau tautan antara ide, orang, hal-hal, atau peristiwa.”44

Suatu koneksi yang mungkin kita sadari adalah bahwa Perjanjian Lama penuh dengan kisah keberhasilan dan kegagalan, yang secara kontras diajarkan berdampingan: Kain dan Habel, Yusuf dan saudara-saudaranya, Yakub dan Esau, Abigail dan Nadab, serta banyak lainnya.

Presiden Eyring mencatat kunci ini: “Dalam deskripsi mengenai kegagalan di sana ada cerminan dari cara jalan untuk berhasil … Siklus berulang dari penurunan kerohanian dan pemulihan … dapat menjadi penuh harapan dan petunjuk bagi siswa Anda.”45

Tema

Penatua Bednar juga menjelaskan bahwa “tema adalah kualitas dan ide yang melingkupi, berulang, dan menyatukan, seperti jalinan benang penting di seluruh teks.”46 Suatu tema yang dapat kita kenali tahun ini ditemukan dalam ungkapan ini: “supaya kamu mengetahui, bahwa Akulah, Tuhan, Allahmu.”47

Di sepanjang wabah yang mendahului pembebasan mereka, demikian juga mukjizat yang mengikutinya, anak-anak Israel diberi tahu bahwa melalui hal-hal itu “kau ketahui bahwa Akulah Tuhan.”48

Pembunuhan Goliat,49 penyembuhan Naaman,50 Elia dan nabi-nabi Baal,51 dan pengalaman sakral serta khusyuk dengan Raja Nebukadnesar52 semua dicatat dengan niat memaklumkan “supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah.”53

Di sepanjang kitab Mazmur,54 Yesaya,55 dan Yehezkiel,56 dalam 17 kitab dari Perjanjian Lama, dan lebih dari 80 waktu berbeda, Yehova mengulangi dan menegaskan serta memastikan bahwa Israel dan kita harus melihat Dia dan pengaruh-Nya dalam peristiwa dan ajaran dari Perjanjian Lama agar kita dan anak-anak kita “tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa … Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain.”57

Sewaktu kita menelaah tema tulisan suci dalam kelas institut batu penjuru yang baru,58 tulisan suci akan “terjalin bersama dalam suatu cara sehingga ketika [kita] jatuh di atas yang satu [kita akan] terserap kepada yang lain.”59Jika tulisan suci sendiri adalah penelaahan pusat dari kelas-kelas ini, tulisan suci akan “tumbuh bersama” dan membawa siswa kita “kepada pengetahuan akan perjanjian [mereka].”60 “Proses penyelidikan dan penemuan tema tulisan suci,” Penatua Bednar bertutur, “menuntun kita pada … kebenaran kekal yang mengundang saksi peneguhan dari Roh Kudus. ... Pendekatan ini untuk mendapatkan air hidup dari sumber air adalah yang paling menuntut dan akurat; itu juga menghasilkan peneguhan terbesar.”61 Itu memerlukan lebih banyak dari kita sebagai guru, tidak kurang.62

Perlambang dan cerminan dari Kristus

Dari banyak pola dalam Perjanjian Lama,63 ada satu secara khusus mengundang perhatian dan upaya kita. Yaitu, tentu saja, mencari kesaksian mengenai Bapa Surgawi dan Juruselamat. Penatua Bruce R. McConkie menuturkan, “Adalah … tepat untuk mencari perumpamaan dari Kristus di manapun dan untuk menggunakannya secara berulang untuk menempatkan Dia dan hukum-Nya menjadi yang terpenting dalam benak kita.”64

Mulai membuat daftar perlambang dan cerminan dari Juruselamat hampir serupa dengan menghitung tetesan air di sungai atau partikel dari cahaya di siang hari. Bagaimanapun, “segala sesuatu yang telah diberikan oleh Allah sejak awal dunia, kepada manusia, adalah perlambangan tentang Dia.”65

Penciptaan,66 ular kuningan,67 manna,68 pembebasan Israel dari perbudakan bangsa Mesir dengan darah domba di pintu-pintu mereka,69 dan seluruh hukum Musa, dengan sistem pengurbanan dan ingatan, adalah secara sadar dan mencolok dirancang sebagai “penuntun kita untuk membawa kita kepada Kristus.”70

Abraham71 yang bersedia untuk mengurbakan Ishak72; gelar Melkisedek,73 termasuk “Pangeran damai”74; penyelamatan Yusuf dari saudara-saudaranya sendiri yang menjualnya75; dan pembebasan Musa dari anak-anak Israel76 membuat mereka menggambarkan mengenai “Dia yang akan datang.”77

Adam adalah manusia tidak berdosa78 yang, sementara berada di taman, secara sukarela memilih79 untuk menyerahkan hidupnya agar kita dapat hidup.80

Raja “berpikir untuk menetapkan Daniel membawahi seluruh kerajaan karena roh unggul yang ada didalamnya.”81 “Presiden dan pangeran,”82 mereka yang dalam posisi berkuasa yang membenci Daniel, “berusaha untuk menemukan keadaan menentang [dia] .. tetapi tidak dapat menemukan satupun.”83 Kemudian orang-orang jahat ini “berkumpul ... [dan] berembuk bersama,”84 dan sementara, Daniel beristirahat ke tempat di mana “dia tidak ingin” pergi,85 dan di sana dia berdoa.86 Mengetahui semua hal ini, raja “mencari jalan untuk membebaskan Daniel.”87 Dan kemudian, setelah Daniel dibawa untuk hukuman matinya “dibawalah sebuah batu dan diletakkan di mulut gua.”88 Kemudian raja bangun “pagi-pagi sekali ... dan pergi dengan buru-buru ke gua singa”89 untuk menemukan di sana bahwa seorang malaikat telah hadir90 dan “ditariklah Daniel dari dalam gua itu, dan tidak terdapat luka apa-apa padanya.”91

Alfred Edersheim menuturkan seluruh Perjanjian Lama “dimaksudkan untuk menunjuk pada Kristus. ... Tidak hanya hukum, yang adalah penuntun ... atau pun perlambang, yang adalah cerminan dari [Dia], tidak juga nubuat, yang adalah prediksi mengenai [Dia]; tetapi seluruh sejarah Perjanjian Lama dipenuhi akan Kristus. … Satu hal yang mengikuti dari sini: hanyalah bahwa … penelaahan tulisan suci dapat memadai atau bermanfaat yang melaluinya kita belajar untuk mengenal [Juruselamat]”92

Di sepanjang kelas Anda, dan bahkan di rumah dan keluarga kita, maukah Anda meluangkan waktu untuk bertanya kepada siswa dan anak-anak Anda apa yang mereka pelajari dan bagaimana itu menolong mereka memahami dan bersandar pada Bapa Surgawi dan Juruselamat? Dan dari hari pertama kelas, maukah Anda mengajar siswa Anda untuk secara saksama mencari kesaksian-kesaksian luar biasa yang secara sadar dimaksudkan oleh para penulis yang terilhami ini?

Kesimpulan

Brother dan sister, tulisan suci memiliki peran yang tidak tergantikan dalam pengajaran kita demikian juga dalam persiapan pengajaran kita! Ingatlah peringatan ini dari Presiden Romney:

“Kita ditugasi untuk menyampaikan apa yang kita terima dari Tuhan (tulisan suci) kepada mereka yang kita ajar. Terkadang [kita mungkin] tergoda untuk menyampaikan tanpa terlebih dahulu memperoleh. …

… [Kita mungkin ingin] … untuk pergi dan berkhotbah sebelum [memberikan] Tuhan kesempatan untuk mempersiapkan [kita].”93

Dengan semangat itu, dapatkah saya menambahkan beberapa pertanyaan untuk yang kita terima dari Brother Webb tahun lalu dan mengundang kita untuk mempertimbangkannya dalam persiapan pengajaran kita?

  • Apakah persiapan saya untuk kelas dimulai dengan penyelidikan tulisan suci?

  • Apakah saya bersenang hati94 dalam tulisan suci yang saya ajarkan hari ini, dan apakah itu “api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku.”?95

  • Apakah saya memahami baik detail maupun ajaran yang para penulis terilhami inginkan saya untuk melihat dan memahami?

  • Sudahkah saya menelusuri perkataan para nabi untuk penekanan, wawasan, dan kesaksian mereka tentang sebuah petikan?

  • Dan dalam setiap kejadian, apakah saya menyelidiki dan menemukan cara-cara bahwa petikan itu bersaksi mengenai Juruselamat dan Pendamaian-Nya?96

Semoga firman menjadi lebih tajam dari pada pedang bermata dua97 dalam ruang kelas kita karena tulisan suci menyala di dalam kita! Semoga kita memiliki ketetapan hati untuk memperbedakan detail dan ajaran yang layak akan kesetiaan! Dan semoga kita membantu siswa kita belajar untuk menemukan kesaksian-kesaksian indah tulisan suci akan rencana Bapa Surgawi dan Putra Terkasih-Nya!98

Saya menambahkan kesaksian saya kepada Anda, khususnya mengenai kasih dari Bapa Surgawi99 yang diwujudkan dan tersedia melalui Pendamaian yang menakjubkan dari Putra-Nya. Dan saya mengungkapkan rasa syukur untuk privilese luar biasa dari menjadi bagian dari pekerjaan yang membantu dalam menjadikan nama-Nya “dikenal di seluruh bumi selamanya.”100 Dalam nama Yesus Kristus, amin.

Catatan

  1. See Chad H. Webb, “An Invitation to Study the Doctrine and Covenants” (Seminaries and Institutes of Religion satellite broadcast, Aug. 5, 2014), lds.org/broadcasts.

  2. 200.000 siswa seminari membaca Ajaran dan Perjanjian tahun lalu. Jika mereka membaca selama 15 menit per hari dan membaca selama 180 hari sekolah, itu sama dengan 9 juta jam.

  3. J. Reuben Clark Jr., “Panduan Gereja Mengenai Pendidikan,” edisi revisi (1994), 9.

  4. Chad H. Webb, “An Invitation to Study the Doctrine and Covenants,” lds.org/broadcasts.

  5. Ajaran dan Perjanjian 11:2.

  6. Ajaran dan Perjanjian 11:21.

  7. Elder Bruce R. McConkie taught that the first key to understanding the Bible is to read the Bible:

    Dapatkah kunci apa pun lebih jelas dari ini? Bacalah sendiri kitab itu. Kecuali dan sampai kita melakukannya, tidak ada yang tepat pada tempatnya. Kita tidak dapat melakukan yang lain kecuali memberi kunci ini nilai sepuluh dalam skala kita. Semua pengetahuan alkitab dan pemahaman dimulai dengan membaca materi sumber dasar.

    Salah satu problem kita adalah bahwa kita membaca apa yang orang lain telah katakan tentang Alkitab ... bacalah sendiri kitab itu.

    Bacalah sendiri kitab itu. ‘Search the scriptures’ (John 5:39). Hargai firman Tuhan. Go to the source” (“The Bible, a Sealed Book” [Church Educational System symposium, Aug. 17, 1984] 4, si.lds.org).

  8. President Marion G. Romney said, “When I drink from a spring I like to get the water where it comes out of the ground, not down the stream after the cattle have waded in it. … I appreciate other people’s interpretation, but when it comes to the gospel we ought to be acquainted with what the Lord says” (from an address to religious educators, quoted by J. Richard Clarke, “My Soul Delighteth in the Scriptures,” Ensign, Nov. 1982, 15).

  9. President Harold B. Lee taught: “You cannot lift another soul until you are standing on higher ground than he is. Anda harus yakin, jika Anda mau menyelamatkan seseorang, bahwa Anda sendiri memberikan teladan dari apa yang Anda ingin mereka menjadi. You cannot light a fire in another soul unless it is burning in your own soul” (“Stand Ye in Holy Places,” Ensign, Oct. 2008, 47). Penatua Neal A. Maxwell mengajarkan: “Part of what may be lacking, at times, in the decent teacher is a freshening personal excitement over the gospel which could prove highly contagious. Since we can only speak the smallest part of what we feel, we should not let that ‘smallest part’ shrink in its size” (“Teaching by the Spirit—‘The Language of Inspiration’” (Church Educational System symposium on the Old Testament, Aug. 15, 1991, 5, si.lds.org).

  10. Marion G. Romney, “The Message of the Old Testament” (Church Educational System symposium on the Old Testament, Aug. 17, 1979), 1, si.lds.org.

  11. See David A. Bednar, “A Reservoir of Living Water” (Church Educational System fireside for young adults, Feb. 4, 2007), speeches.byu.edu (text), LDS.org (video).

  12. Neal A. Maxwell,  The Smallest Part (1973), 4; see also Neal A. Maxwell, “The Inexhaustible Gospel,” Ensign, Apr. 1993, 69.

  13. Elder Richard G. Scott said, “Principles are concentrated truth, packaged for application to a wide variety of circumstances” (“Acquiring Spiritual Knowledge,” Ensign, Nov. 1993, 86; see also Gospel Teaching and Learning: A Handbook for Teachers and Leaders in Seminaries and Institutes of Religion [2012], 5–7). Brother Webb menyarankan bahwa untuk menentukan apakah sesuatu adalah sebuah asas kita dapat bertanya kepada diri kita, “Apakah ini senantiasa benar? Apakah ini berlaku dalam setiap kondisi, setiap waktu, setiap keadaan, dan kepada setiap orang?”.

  14. Elder Scott also taught: 10/93, “Sewaktu Anda mencari pengetahuan rohani, selidikilah asas-asas. Carefully separate them from the detail used to explain them” (“Acquiring Spiritual Knowledge,” 86; see also Gospel Teaching and Learning, 26–31).

  15. Boyd K. Packer, Let Not Your Heart Be Troubled (1991), 15.

  16. See C. S. Lewis, “Meditation in a Toolshed,” in God in the Dock: Essays on Theology and Ethics, ed. Walter Hooper (1970), 212–15.

  17. Robert J. Matthews, “What is Religious Education?” (unpublished address to religious educators, Aug. 31, 1989), 2.

  18. Elder D. Todd Christofferson taught, “The gift of the Holy Ghost … is the messenger of grace by which the blood of Christ is applied to take away our sins and sanctify us” (“The Power of Covenants,” Ensign, May 2009, 22; see also Area Directors’ Convention, 2011, session on “The Role of the Holy Ghost”).

  19. Lihat Alma 23:5–7.

  20. Marion G. Romney, “The Message of the Old Testament” (Church Educational System symposium on the Old Testament, Aug. 10, 1999), 5, si.lds.org.

  21. Marion G. Romney, “The Message of the Old Testament,” 3, si.lds.org; see also Gospel Teaching and Learning, 26–28.

  22. Boyd K. Packer, “Principles,” Ensign, Mar. 1985, 8; see also Gospel Teaching and Learning, 26–28.

  23. Joseph Smith, dalam History of the Church, 2:8. Expanded quotation: Joseph Smith, Jr., Ajaran-Ajaran Nabi Joseph Smith, 121, “Asas-asas dasar dari agama kita adalah kesaksian dari para Rasul dan Nabi, mengenai Yesus Kristus, bahwa Dia mati, dikubur, dan bangkit kembali pada hari ketiga, dan naik ke surga; dan semua hal lainnya yang berkaitan dengan agama kita hanyalah tambahan untuk itu”.

  24. President Marion G. Romney taught, “The message of the Old Testament is the message of Christ and his coming and his atonement” (“The Message of the Old Testament,” 4, si.lds.org).

  25. 1 Nefi 6:4; lihat juga ayat 76. President Ezra Taft Benson defined the gospel in “The Gospel Teacher and His Message” ([address to religious educators, Sept. 17, 1976], si.lds.org). President Henry B. Eyring defined “two views of the gospel” in “Eyes to See, Ears to Hear” ([Church Educational System symposium on the New Testament, Aug. 16, 1984], si.lds.org; also quoted in Teaching and Learning,  54). See also the use of the word gospel in J. Reuben Clark Jr., “The Charted Course of the Church in Education.”

  26. 2 Corinthians 3:14, 16; see also Joseph Smith Translation, 2 Corinthians 3:14, 16.

  27. President Boyd K. Packer taught that the Atonement “is the very root of Christian doctrine. You may know much about the gospel as it branches out from there, but if you only know the branches and those branches do not touch that root, if they have been cut free from that truth, there will be no life nor substance nor redemption in them” (“The Mediator,” Ensign, May 1977, 56; also quoted in Gospel Teaching and Learning,  1).

  28. Gospel Teaching and Learning,  52.

  29. Richard G. Scott, “Acquiring Spiritual Knowledge,” 86; see also Gospel Teaching and Learning,  26.

  30. Henry B. Eyring, “Converting Principles” (remarks at an evening with Elder L. Tom Perry, Feb. 2, 1996), 1, si.lds.org; also quoted in Gospel Teaching and Learning,  54.

  31. See Gospel Teaching and Learning, 26–27.

  32. Nabi Joseph Smith mengajarkan, “Kita dapat menyimpulkan, bahwa meski ada perbedaan dispensasi, namun semua hal yang Allah komunikasikan kepada umat-Nya dirancang untuk menarik benak mereka kepada objek hebat, dan untuk mengajar mereka agar bersandar kepada Allah saja sebagai pencipta keselamatan mereka” (Ajaran-Ajaran Presiden Gereja: Joseph Smith [2007], 49).

  33. Lihat Yoel 1:19.

  34. Lihat Yoel 2:14.

  35. Lihat Matius 4:1.

  36. “Kata tersebut di sini diterjemahkan ‘penebus’ kami terjemahkan secara harfiah dari bahasa Ibrani go’el dan inilah terjemahan tepatnya. Ini diterjemahkan ‘kinsman’ dalam terjemahan bahasa Inggris Raja James. Fungsi dari go’el; adalah untuk memungkinkan bagi seorang janda yang kehilangan rumah dan propertinya untuk kembali ke status dan keamanan sebelumnya dan untuk memiliki benih untuk melestarikan keluarganya.

    “It is easy to see why the later prophets borrowed this word from the social laws of Israel and used it to describe the functions of Him who would become the Divine Redeemer: Think of what He does to restore us to proper status with God, and to give us future security and eternal ‘seed’” (Ellis T. Rasmussen, An Introduction to the Old Testament and Its Teachings, Part 1 (syllabus for Religion 301, 1972), 157; and Old Testament Student Manual: Genesis–2 Samuel (Church Educational System manual, 2003), 263.

  37. Lihat Yoel 4:10.

  38. See Ruth 4:13; see also Ruth 4 chapter heading.

  39. Rut 19:30; Yohanes 3:18.

  40. Kisah indah ini “berbicara mengenai dan secara simbolis menunjukkan kuasa penebusan Allah; itu mengajarkan kita mengenai bagaimana kita dapat mengakses kuasa itu dan meneladankan bagaimana kita hendaknya meniru Penebus kita. Sejumlah elemen dari kisah itu melayani sebagai perlambang dari Kristus. Ini adalah mengenai harapan di Israel. [Mungkin bagian dari] alasan kita sangat menyukai kisah ini adalah karena ... jiwa kita secara intuitif beresonansi dengan penebusan Rut; kita rindu akan apa yang terjadi kepadanya pada tingkat fana untuk terjadi kepada kita secara fana dan kekal. Ruth memuaskan beberapa kerinduan jiwa kita untuk pembebasan. It highlights our reasons for hope” (Kerry Muhlestein, “Ruth, Redemption, Covenant, and Christ,” in D. Kelly Ogden, Jared W. Ludlow, and Kerry Muhlstein, eds., The Gospel of Jesus Christ in the Old Testament, 38th Annual Brigham Young University Sidney B. Sperry Symposium [2009], 187–88).

  41. Lihat Boyd K. Packer, “Self-Reliance” (Brigham Young University fireside, Mar. 2, 1975), speeches.byu.edu.

  42. Lihat Alma 12:9–11; 3 Nephi 26:1–11 (especially verses 9–10). Oleh Penatua Jeffrey R. Holland “When crises come in our lives—and they will—the philosophies of men interlaced with a few scriptures and poems just won’t do. Are we really nurturing our youth … in a way that will sustain them when the stresses of life appear? Or are we giving them a kind of theological Twinkie—spiritually empty calories? President John Taylor once called such teaching ‘fried froth,’ the kind of thing you could eat all day and yet finish feeling totally unsatisfied. During a severe winter several years ago, President Boyd K. Packer noted that a goodly number of deer had died of starvation while their stomachs were full of hay. Dalam upaya jujur untuk membantu, juru kuasa telah memasok yang dangkal ketika yang substansial adalah yang diperlukan. Regrettably they had fed the deer but they had not nourished them” (“A Teacher Come from God,” Ensign, May 1998, 26–27).

  43. Henry B. Eyring, “Eyes to Lihat, Ears to Hear,” si.lds.org; also quoted in Gospel Teaching and Learning,  54.

  44. David A. Bednar, “A Reservoir of Living Water,” 4, speeches.byu.edu.

  45. Henry B. Eyring, “Teaching the Old Testament,” 2, si.lds.org.

  46. David A. Bednar, “A Reservoir of Living Water,” 6, speeches.byu.edu.

  47. Keluaran 6:7.

  48. Exodus 7:17; lihat juga Exodus 7:5; 8:10, 22; 9:14, 16, 29; 10:2; 11:7; 14:4, 18; 16:6, 12; 29:46.

  49. Lihat 1 Korintus 17:46.

  50. Lihat 2 Korintus 5:15.

  51. Lihat 1 Korintus 18:37.

  52. See Daniel 4:17, 26.

  53. Lihat 1 Korintus 17:46.

  54. See Psalm 59:13; 67:2; 83:18; 109:27.

  55. See Isaiah 5:19; 9:9; 19:21; 37:20; 41:20, 22–23; 41:26; 43:10; 45:3, 6; 49:23, 26; 52:6; 60:16.

  56. See Ezekiel 6:10, 14; 7:4, 9, 27; 11:10, 12; 12:15–16; 13:9, 14, 21, 23; 14:8; 15:7; 16:62; 17:21, 24; 20:20; 22:16; 24:27; 25:7; 35:4, 12, 15.

  57. Yesaya 45:6.

  58. See the section “Why Are We Making These Changes?” on “New Religion and Institute Courses: Additional Information,” si.lds.org/announcement-new-religion-courses.

  59. Boyd K. Packer, “Scriptures,” Ensign, Nov. 1982, 53.

  60. 2 Nephi 3:12.

  61. David A. Bednar, “A Reservoir of Living Water,” 6, speeches.byu.edu.

  62. Elder Neal A. Maxwell described it this way: Penatua Maxwell menggambarkannya demikian, “…kelompokkan tulisan suci Anda bersama agar tulisan suci Perjanjian Lama pada topik tertentu berkaitan [dengan kitab lainnya dari tulisan suci] dan dengan suara para nabi yang hidup. The scriptures of the Church need each other. … And they help each other. …

    “… [Then] you will … make the teaching moment more significant. …

    “… Help your students avoid the tendency to skim lightly over the surface of the scriptures. … Encourage them to cluster the scriptures topically, as if they were a bunch of grapes from which you would then squeeze all the juice, and distill all the meaning” (“The Old Testament: Relevancy within Antiquity” [Church Educational System symposium on the Old Testament, Aug. 16, 1979], 1–2, si.lds.org.

  63. See Old Testament Student Manual: Genesis–2 Samuel, 111–15.

  64. Bruce R. McConkie, The Promised Messiah: The First Coming of Christ (1978), 453.

  65. 2 Nephi 11:4; see also Hosea 12:10; Alma 30:23–60 (especially verses 40–41); Moses 6:59–63.

  66. Lihat Musa 6:63. Penatua Bruce R. McConkie mengajarkan: “Catatan yang diungkapkan mengenai Penciptaan dirancang untuk mencapai dua tujuan besar. Tujuan utama nya adalah untuk memampukan kita memahami sifat dari pencobaan fana kita, pencobaan yang di dalamnya semua orang harus dicobai dan diuji ‘untuk melihat apakah mereka akan melakukan semua hal apa pun yang Tuhan, Allah mereka, perintahkan kepada mereka’ (Abraham 3:25). Tujuan spesifik nya adalah untuk memampukan kita memahami kurban pendamaian Tuhan Yesus Kristus, yang tak terbatas dan Pendamaian kekal adalah landasan utama yang di atasnya kepercayaan yang terungkap diletakkan” (“Christ and the Creation,” Ensign, Juni 1982, 13).

  67. Alma 33:19; Lihat juga Topical Guide, Jesus Christ, Types of, in Anticipation.

  68. “Leluhur Anda sungguh makan manna di padang belantara dan mereka mati.

    Ini adalah roti yang turun dari surga, di mana orang yang memakannya, tidak mati.

    “I am the living bread” (John 6:49–51); see also Exodus 17:6; 1 Corinthians 10:4; Topical Guide, “Jesus Christ, Types of, in Anticipation.”

  69. Lihat Keluaran 12:5–14.

  70. Galatia 3:24–25.

  71. Father of a multitude. Originally called Abram, ‘exalted father.’” (Bible Dictionary, “Abraham”).

  72. Oleh Penatua Dallin H. Oaks “Kisah ini … menunjukkan kebaikan Allah dalam melindungi Ishak dan dalam menyediakan pengganti agar dia tidak perlu mati. Karena dosa kita dan kefanaan kita, kita, seperti Ishak, adalah tunduk pada kematian. When all other hope is gone, our Father in Heaven provides the Lamb of God, and we are saved by his sacrifice” (“Bible Stories and Personal Protection,” Ensign, Nov. 1992, 37).

  73. “King of Salem” (Hebrews 7:1–2); “the king of heaven” (Joseph Smith Translation, Genesis 14:36 [in the Bible appendix]); “King of righteousness” (Hebrews 7:2); see also Topical Guide, “Jesus Christ, Types of, in Anticipation.”

  74. Joseph Smith Translation, Genesis 14:33 (in the Bible appendix); see also Topical Guide, “Jesus Christ, Types of, in Anticipation.”

  75. Lihat Kejadian 37:27–28.

  76. See Moses 1:26; see also Deuteronomy 18:15; 3 Nephi 20:23; The Pearl of Great Price Teacher Manual (Church Educational System manual, 2000), 9–11.

  77. Roma 5:14.

  78. Lihat 2 Nefi 2:23.

  79. Lihat Musa 4:18.

  80. Lihat 2 Nefi 2:25.

  81. Daniel 6:63.

  82. Daniel 6:3–4, 6.

  83. Daniel 6:4; see also verse 5.

  84. Daniel 6:6–7.

  85. Lihat Yehezkiel 22:39; 44:24.

  86. Lihat Yoel 6:10.

  87. Daniel 6:14.

  88. Daniel 6:17.

  89. Daniel 6:19.

  90. Lihat Yoel 6:22.

  91. Daniel 6:23.

  92. Alfred Edersheim, Bible History: Old Testament, one vol. ed. (1982), xiii; also quoted in Old Testament Student Manual: Genesis–2 Samuel, 11122.

  93. Henry B. Eyring, “Teaching the Old Testament,” 1, si.lds.org.

  94. Lihat Yesaya 1:2–3.

  95. Jeremiah 20:9; see also Gospel Teaching and Learning, 29–30. President Boyd K. Packer explained:

    “Ada sekumpulan bukti yang hebat,” Brother Lee menulis, “untuk mengindikasikan bahwa, dalam perilaku moral khususnya, orang tidak bertindak sesuai dengan pengetahuan mereka.” Dan dia mengamati bahwa seseorang sulit menemukan seorang yang kegemukan yang tidak tahu bahwa, jika dia mengurangi berat badannya, bagian yang harus dia lakukan adalah mengurangi asupan makannya. Dapatkah Anda membayangkan seorang dokter medis yang memakai rokok dan tidak tahu bahwa merokok adalah tidak baik bagi kesehatannya? Pernahkah Anda bertemu dengan orangtua yang bercerai di mana keduanya tidak sepenuhnya mengetahui bahwa dampak tragis akan menimpa anak-anak mereka? In such cases the persons know the right course but still fail to follow it.

    “As regards righteous behavior, then, to know intellectually is not enough. The feelings must be engaged” (Let Not Your Heart Be Troubled [1991], 14).

  96. Dalam Panduan Pendidikan untuk Gereja, President J. Reuben Clark mengajarkan kepada kita bahwa dalam penelaahan dan pengajaran kita sesungguhnya ada “dua hal utama yang tidak dapat dilewati, dilupakan, ditutupi atau dibuang.” Pertama tentu saja mengenai Juruselamat dan Pendamaian-Nya. “Kedua mengenai dua hal yang kita harus memberikan iman sepenuhnya adalah Bapa dan Putra benar-benar dan dalam kebenaran dan sesungguhnya menampakkan diri kepada Nabi Joseph dalam penglihatan di hutan ….”.

  97. Dalam komentarnya untuk Ajaran dan Perjanjian 6:2,Buku Penuntun Siswa Ajaran dan Perjanjian berisi penjelasan berikut: “Banyak pedang di zaman kuno hanya memiliki satu sisi tajam. Ketika seseorang memutuskan untuk membuat pedang bermata dua, keefektifan senjata ini bertambah dengan luar biasa. Sekarang itu dapat memotong dari arah mana pun, tidak masalah bagaimana pukulannya melanda. Maka, mempersamakan firman Allah dengan pedang bermata dua adalah kiasan yang nyata. Setajam pedang yang dapat memotong cukup dalam untuk memotong anggota tubuh dan menghancurkan kehidupan, demikian juga firman Tuhan adalah cukup kuasa untuk mendatangkan kehancuran jiwa (kematian rohani) kepada mereka yang tidak mengindahkannya (lihat Ibrani 4:12; Wahyu 1:16; 2:12, 16). Firman Allah juga memiliki kuasa untuk menembus jiwa sebagaimana pedang menusuk ke bagian terdalam manusia (lihat 3 Nefi 11:3; A&P 85:6). Itu dapat memotong menembus kesalahan dan tipu daya dengan kedua sisinya secara efisien” ([buku penuntun Church Educational System, 2001], 15).

  98. Lihat Yoel 5:14.

  99. Lihat 1 Nefi 11:22.

  100. Abraham 1:19.